
"Silahkan duduk, kak." Ucap Ara pada Tsamara.
Kebetulan orang yang didandani Ara juga sudah selesai, dan bangkit dari duduknya.
"Baik, kak." Balas Tsamara, lalu duduk di kursi di hadapan Ara, sang MUA.
Wanita yang berusia di atas Tsamara itu segera menjalankan pekerjaannya, untuk membuat Tsamara menjadi lebih cantik dan bersinar.
Sementara Tsamara sendiri terlihat pasrah, Ara akan melakukan apa saja padanya.
Hampir satu jam, Ara melakukan tugasnya. Kini pekerjaannya pun juga telah selesai. Tsamara tampak lebih cantik dengan make up flawless nya.
"Sudah selesai, kak. Wow, kak Tsamara tambah cantik ya." Puji Ara.
"Kak Ara bisa saja. Semua juga berkat kak Ara kan?" Tsamara tersenyum ramah.
"Memang dasarnya, kak Tsamara yang sudah cantik dari orok kok." Balas Ara disertai kekehan kecil.
"Ayo, kak. Sekarang kita ganti baju, agar penampilan kak Tsamara semakin bersinar." Ajak Rita, sambil mendekati Tsamara yang masih duduk.
"Oh, iya kak." Tsamara bangkit dari duduknya, dan berjalan mengekor Rita.
Keduanya berhenti di depan standing rak kostum. Lalu memilih baju yang cocok dikenakan Tsamara.
Rita memilih-milih baju yang paling pantas untuk dipakai gadis yang ada didekatnya, lalu mencoba menempelkan di tubuhnya.
"Ini yang sangat pas untuk, kak Tsamara." Ucap Rita, sambil menempelkan dress tanpa lengan warna kuning.
__ADS_1
"Kakak pakai ini ya. Silahkan ganti bajunya dengan kostum ini, di ruang ganti itu ya." Rita menunjuk ruang ganti yang ada di belakang Tsamara.
"Iya, kak." Tsamara menerima dress itu dan membawanya menuju ruang ganti.
Tak lama kemudian, gadis itu sudah keluar dari ruang ganti, dengan mengenakan dress kuning terang yang tadi diberikan oleh Rita.
"Wow, amazing! Kak Tsamara cantik sekali." Ucap Rita, memuji penampilan Tsamara.
Ara pun menoleh ke arah dimana Tsamara berdiri. Dan melakukan hal yang sama seperti Rita. Yakni takjub, lalu memuji Tsamara.
"Kak Tsamara, cantik sekali. Seperti bidadari."
Celotehan-celotehan dari mulut karyawan stasiun televisi itu, membuat Tsamara tersenyum tipis dan tetap rendah hati.
"Terima kasih untuk pujiannya, kak. Semua ini karena bantuan kakak semua kan?"
"Iya. Tapi memang kak Tsamara itu sudah cantik duluan. Jadi hanya sekedar di poles sedikit saja, cantiknya sudah luar biasa. Bidadari di kayangan mah, lewat." Seloroh Rita.
Wanita itu pun berjalan mendekat ke arah Tsamara berdiri, lalu mengitarinya.
"Iya, kak. Setiap hari setelah bangun tidur, aku rutin olahraga. Mengantarkan adikku ke sekolah atau kemana saja juga cuma naik sepeda. konsumsi lebih banyak sayuran dan buah. Hal itu sudah membuatku kehilangan berat badan yang cukup banyak. Di tambah meminum kapsul multigrain. Alhasil jadi seperti ini badanku."
Ara dan Rita saling beradu pandang dan menggeleng-gelengkan kepalanya sambil berdecak kagum.
"Sungguh sebuah perjuangan yang tidak mudah. Aku salut sama kakak. Demi bisa memiliki tubuh yang ideal dan menjadi dambaan banyak orang, rela capek-capek olahraga." Ucap Rita.
"Betul apa katamu. Aku pikir badan dan kecantikan kak Tsamara karena operasi plastik dan sedot lemak." Imbuh Ara.
__ADS_1
"Nah, iya. Aku juga mikirnya sampai seperti itu. Di jaman sekarang, banyak kan yang rela merogoh tabungannya untuk melakukan sedot lemak dan operasi plastik. Tentunya agar badannya terlihat indah seperti gitar sepanyul dan wajahnya cantik seperti artis-artis Korengan itu."
"Sebenarnya, papaku bisa saja membiayai aku untuk melakukan hal itu, kak. Tapi, Tsa sendiri yang menolak.
Karena Tsamara ingin berjuang untuk menciptakan sebuah perubahan yang ada dalam diri sendiri.
Kalau kita sudah pernah merasakan dan tahu sendiri bagaimana prosesnya, pasti dijamin tidak akan pernah berani mengolok-olok orang yang tengah berjuang. Karena sudah tahu berapa beratnya berjuang." Balas Tsamara, menanggapi celotehan mereka.
Ara dan Rita bersamaan bertepuk tangan sambil geleng-geleng dan berdecak kagum.
"Tidak salah, si bos mengundang bintang tamu seperti kak Tsamara. Selain cantik, seksi, juga memiliki wawasan yang sangat luas." Ucap Ara, kembali memuji.
"Betul sekali. Sangat menginspirasi. Pasti lulusan luar negeri." Timpal Rita.
Tsamara terkekeh kecil, karena ucapan kedua karyawan itu, sebelum akhirnya menjawab,
"Eits. Jangan salah kak. Tsamara cuma lulusan SMA."
"Apa! Lulusan SMA?" Ulang Ara dan Rita kompak. Tsamara tersenyum sambil menganggukkan kepalanya.
"Hebat sekali! Lulusan SMA, tapi gaya bicaranya seperti orang lulusan luar negeri." Untuk yang kesekian kalinya Ara kembali memuji.
"Kakak semua, jangan terlalu memuji Tsamara seperti itu. Takutnya nanti aku jadi sombong.
Sungguh apa yang aku lakukan ini hanya untuk mengembalikan rasa percaya diriku, bukan untuk meminta pujian dari kalian.
Tapi, jika apa yang aku lakukan ini bisa membuat kalian terinspirasi, aku akan sangat bersyukur dan bahagia. Hidupku jadi bisa bermanfaat untuk orang lain, kan?"
__ADS_1
"Apapun itu, terima kasih ya kak, sudah memberikan ilmu bagi kami." Ucap Ara.
"Iya, kak. Sama-sama." Tsamara menyunggingkan senyum pada kedua karyawan wanita yang ada dihadapannya.