
Anggara menyesal hingga menjambak rambutnya frustasi. Karena hatinya kini mulai berpaling pada Tsamara.
Tapi Olive sudah terlanjur hamil, bagaimana mungkin ia akan melanjutkan niatnya untuk mengejar Tsamara.
"Aku tidak mau tahu, kamu harus segera bertanggungjawab."
Otak licik Anggara ternyata bekerja dengan sangat cepat. Dan tak lama kemudian, ia menyunggingkan senyum tipis.
"Iya-iya, aku akan bertanggungjawab." Balas Anggara santai. Lalu menyuap makanan ke mulutnya.
"Jadi kapan kamu akan ke rumah untuk melamar ku?"
"Apa? Apa harus secepat itu?" Anggara menjawab saat mulutnya masih penuh dengan makanan. Sehingga orang yang melihatnya merasa ilfill.
"Memang kamu mau, perut ku semakin besar dan kita baru akan melangsungkan pernikahan? Orang-orang pasti akan menertawakan kita." Cicit Olive dengan sebal.
"Okay-okay, aku akan segera melamar mu, tenang saja."
"Melamar tidak hanya sekedar tangan kosong. Tapi harus membawa sesuatu yang pantas untuk dibawa melamar gadis cantik seperti ku." Ucap Olive sambil membelai rambutnya.
"Okay. Nanti aku bawakan kamu sesuatu. Tapi aku tidak bisa melamar mu hari ini. Karena kita perlu bicara dengan orang tua kita masing-masing."
Sejenak Olive berpikir, lalu menganggukkan kepalanya.
"Kapan?"
"Besok malam saja aku akan datang melamar mu."
"Okay, aku tunggu. Jika kamu sampai membohongi ku, lihat saja apa yang akan aku lakukan untuk mu."
"Kenapa seram sekali?"
"Tentu, biar kamu takut padaku."
Anggara kembali melanjutkan makan siangnya. Sementara Olive hanya diam saja, memikirkan semuanya. Tanpa berniat menyentuh makanannya sama sekali. Anggara yang melihatnya mengernyitkan dahi.
__ADS_1
"Kenapa tidak di makan sayang?"
"Aku tidak bernafsu. Sudah kenyang duluan dengan hal buruk yang menimpa diriku hari ini."
"Bukankah kamu sendiri yang meminta untuk di lamar? Kalau tidak mau ya sudah, aku tidak apa-apa."
"Kalau aku belum hamil, tentu juga tidak akan mau menikah denganmu, mas."
Keduanya memang labil dan tidak pernah mensyukuri apa yang sudah dimiliki. Karena dalam otak mereka masih ada nama Thoriq dan Tsamara.
**
"Apa ya, yang cocok untuk dibawa melamar?" Gumam Anggara saat sudah berada di ruangannya.
Karena tidak tahu dan kehabisan ide, Anggara membuka Mbah Google untuk mencari barang yang cocok di bawa saat lamaran.
"Mirip orang nikahan sih ini namanya. Ada yang bawa cincin, buah-buahan, makanan. Cari yang murah sajalah, aku bawa makanan dan buah-buahan." Gumam Anggara sambil tersenyum lebar.
**
"Pa, ma, Anggara mau menikah."
"Menikah?" Ucap kedua orang tuanya bersamaan.
Mereka meletakkan alat makannya, lalu menatap Anggara serius. Pemuda itu pun menganggukkan kepalanya sambil menyuap nasi ke mulutnya dengan santai. Benar-benar ekspresi yang bertolak belakang.
"Apa kamu ingin menikahi Olive?" Tebak papanya.
"Heem." Balas Anggara singkat.
"Bagus, papa setuju kamu menikah dengannya." Ucap pak Anwar dengan senyum yang mengembang.
"Kalau papa setuju, mama juga setuju." Imbuh mamanya.
Tak sulit untuk mendapatkan restu dari kedua orang tua Anggara. Karena yang terpenting menantunya adalah wanita cantik dan berasal dari keluarga kaya.
__ADS_1
Dan Anggara sudah tahu akan hal itu. Makanya ia sangat santai saat mengatakannya.
**
Di kediaman lain, Olive berdiam diri di kamarnya. Ia bingung mengatakan soal rencana pernikahannya dengan Anggara.
Ia takut jika papanya tidak setuju akan rencananya itu. Maka terpaksa ia harus mengatakan rahasianya pada kedua orang tuanya. Jika tidak, ia bisa-bisa hamil tanpa suami.
"Lebih baik aku bilang ke mama dulu saja. Agar mama bisa membantuku nanti."
Setelah berkata seperti itu, Olive bangkit dari ranjang tempat tidurnya, dan mencari keberadaan mamanya.
Gadis itu tersenyum ketika melihat mamanya sedang memainkan handphonenya.
"Ma." Sapa Olive sambil duduk di dekat mamanya yang melihat ke arahnya sejenak. Lalu kembali fokus pada layar handphonenya.
"Olive mau menikah."
"Apa?" Ucap mamanya yang tersentak kaget. Bahkan handphonenya sampai terjatuh.
"Enak sekali kamu bicara. Minta nikah seperti minta jajan permen saja. Memang kita tidak mempersiapkan segala sesuatunya?" Tegur mama.
"Tapi, ma. Lebih baik kita menyegerakan pernikahan kan, dari pada berbuat dosa."
"Apa kamu sudah hamil duluan?"
Mama menatap wajah Olive sambil mengernyitkan dahi. Hal itu membuatnya semakin terlihat salah tingkah.
"Mama kenapa jadi melihat Olive seperti itu?"
Mama pun menceritakan perubahan yang ada pada Olive selama beberapa hari belakangan ini. Terutama soal ia yang tiba-tiba menyukai sup ayam kampung dan muntah setiap paginya.
Sebisa mungkin Olive merahasiakan hal itu dari mamanya. Dan tetap memasang wajah baik-baik saja.
Gadis itu terus membujuk dan meyakinkan mamanya, bahwa dia baik-baik saja, dan hanya berniat menikah muda. Agar kelak ketika memiliki anak, dirinya tidak terlalu tua. Tetap terlihat cantik seperti mamanya.
__ADS_1
Mama yang merasa dipuji akhirnya luluh, dan mendukung niatnya untuk menikah muda.