Gagal Menikah Gara-gara Gendut

Gagal Menikah Gara-gara Gendut
71. Bidadari


__ADS_3

Di kediaman Tsamara, ia telah siap berada di depan rumah sambil menunggu Soffin.


Tsamara senyum-senyum sendiri membayangkan wajah Anggara. Bukan senyum sayang, tapi senyum jahat. Karena ia telah mempersiapkan sesuatu untuk pria itu.


Dan benar saja, ia baru saja mendapatkan telepon dari Anggara. Setelah menjawab panggilan dari pria itu, Tsamara terkekeh sambil geleng-geleng kepala.


"Anggara-Anggara, kamu kenapa begitu bodoh sekali? Mana ada wanita yang sudah disakiti hatinya, tapi hanya diam saja? Pastilah ia dengan penuh semangat akan membalasnya. Termasuk aku." Tsamara bermonolog seorang diri.


"Soffin, ayo kita berangkat dek. Nanti terlambat lho." Seru Tsamara.


"Tidak usah teriak-teriak kak. Soffin sudah berdiri disini sejak tadi." Dengan entengnya Soffin menjawab.


Ia tengah melipat kedua tangannya di depan dada, sambil mengangkat dagu. Tsamara yang melihatnya terkekeh geli, melihat tingkah adiknya yang lucu.


Tsamara merangkul bahu adiknya, lalu keduanya berjalan bersama masuk ke mobil. Gadis cantik itu mengemudikan mobilnya berlawanan arah dengan jalan yang biasa dilewati Anggara. Untuk mengelabui pria itu.


**


Cukup lama Anggara berdiam diri di dalam mobil. Ia bingung harus diapakan mobilnya itu. Hingga ia memukul kemudi, lalu menelungkupkan wajahnya.


Di tengah kegalauannya itu, handphonenya berdering. Ia melihat nama papanya yang memanggilnya.


"Sial! Pasti papa akan mengomel kembali. Kalau tidak di jawab, pasti akan menelpon berkali-kali." Dengan terpaksa akhirnya Anggara menjawab teleponnya.


"Hallo, pa."

__ADS_1


"Kenapa belum sampai di perusahaan juga?"


Anggara dengan refleks menjauhkan benda pipih itu dari telinganya, karena suara papanya yang seperti kaleng rombeng, begitu memekakkan telinga.


"Ban Anggara bocor semua pa. Ini lagi bingung, cari tukang tambal ban dimana. Masa iya, Anggara harus mendorong mobilnya."


"Pasti hanya alasan kamu saja. Ingin bertemu dengan Olive."


"Ya ampun, papa tidak percaya banget sih? Sebentar Anggara rubah ke mode video call, biar papa percaya." Pria itu segera merubah ke mode video call, sambil turun dari mobil dan memperlihatkan bannya yang benar-benar kempes semua.


"Okay, kali ini papa percaya padamu." Telepon langsung dimatikan sepihak oleh pak Anwar, tanpa berniat memberikan bantuan untuk anaknya.


"Sial! Papa macam apa dia? Anak lagi berbelasungkawa gara-gara ban bocor, malah tidak diberi bantuan sama sekali." Umpat Anggara kesal.


Akhirnya, Anggara memesan taksi online saja. Agar bisa segera sampai perusahaan. Setelah menunggu cukup lama, akhirnya taksi yang dipesan datang.


Setelah sekian menit, akhirnya ia melihat tambal ban mobil. Bergegas ia menyuruh sopir itu untuk menepi.


Setelah menyelesaikan urusannya, Anggara kembali masuk ke mobil. Lalu dengan tenang melenggang menuju ke perusahaan.


**


Setelah mengantar Soffin sekolah, Tsamara melajukan mobilnya menuju ke kantor Thoriq. Karena ia akan melakukan pemotretan.


Tak disangka, sesampainya di sana, ia bertemu dengan nona Angel. Tsamara beramah tamah dengannya.

__ADS_1


Setelah itu keduanya berjalan bersama menuju ruangan Thoriq. Laki-laki itu menyunggingkan senyum ramah, lalu mempersilahkan keduanya masuk.


Pertama Thoriq melayani nona Angel, agar nanti ia bisa lebih nyaman ketika berbicara dengan Tsamara.


Nona Angel kegirangan mendapat sebotol multivitamin dengan harga yang murah, karena ia membeli ke owner-nya langsung. Dan benar saja, tak lama kemudian ia pulang. Karena sudah tak sabar untuk mencobanya.


Setelah itu, Thoriq mulai mengajak Tsamara berbincang sejenak. Sambil menunggu teamnya mempersiapkan peralatan yang akan digunakan untuk pemotretan nanti.


Setelah mendapat panggilan dari teamnya, Thoriq mengajak Tsamara menuju ke ruang pemotretan.


Hati Tsamara kembali berdegup kencang, ketika memasuki ruang pemotretan. Meskipun itu adalah kali keduanya.


"Ayo masuk." Ajak Thoriq sambil menyunggingkan senyum. Gadis cantik itu pun mengangguk dan membalas dengan senyuman pula.


Tsamara di ajak ke ruang makeup, sedangkan Thoriq menunggunya dengan duduk di sofa.


Satu jam lebih Tsamara di make-up. Setelah itu, mengganti bajunya. Hasilnya sungguh luar biasa. Ia terlihat semakin cantik bersinar.


"Wow. Nona sungguh cantik dan luar biasa memukau. Pasti tuan Thoriq akan suka dengan penampilan anda ini." Puji sang MUA pada Tsamara, sehingga membuat gadis itu tersenyum malu.


"Ayo nona, kita keluar. Dan tunjukkan hasilnya pada tuan Thoriq." Tsamara mengangguk, lalu melangkah keluar.


Pemuda itu kembali menganga melihat penampilan Tsamara yang memukau.


Kali ini Tsamara mengenakan gaun berwarna merah menyala tanpa lengan, dan belahan dadanya turun ke bawah. Rambut hitam lurusnya di sanggul, telinganya tersemat anting panjang, bibirnya memakai lipstik berwarna merah menyala.

__ADS_1


Tsamara menyunggingkan senyum tipis karena ditatap Thoriq. Pemuda itu justru kelimpungan karena senyuman Tsamara yang sungguh menggoda.


'Tuhan apakah dia bidadari yang menjelma menjadi manusia?' batin Thoriq.


__ADS_2