Gagal Menikah Gara-gara Gendut

Gagal Menikah Gara-gara Gendut
67. Memendam amarah


__ADS_3

Setelah menempuh perjalanan sekitar tiga puluh menit, akhirnya Anggara dan Olive, sampai di sebuah restoran Jepang.


Mata Anggara membeliak lebar, ketika melihat punggung tiga orang yang baru saja masuk ke restoran. Seorang wanita yang memiliki lekukan tubuh indah, rambutnya di kuncir ke belakang. Seorang anak laki-laki, dan seorang laki-laki dewasa yang memakai baju kantor.


Ya, Anggara sudah menebak, jika ketiga orang itu adalah Tsamara, adiknya dan laki-laki itu pasti adalah teman dekatnya.


Dada Anggara bergemuruh hebat. Ia tidak terima jika ada pria lain yang dekat dengan Tsamara. Hingga telapak tangannya mengepal kuat.


"Sayang, kenapa kamu diam saja? Memang kita kesini mau upacara?" Protes Olive, sambil menghentakkan kakinya. Sehingga membuat perhatian Anggara teralihkan.


"Sayang, sebenarnya aku tidak suka udon. Bagaimana kalau kita makannya di tempat lain saja?" Tawar Anggara.


Pemuda itu tidak mau bertemu dengan Tsamara. Apalagi saat itu dirinya tengah bersama Olive. Jika mereka saling bertemu, pasti Tsamara akan semakin sulit didekati.


Untuk sekarang, Anggara harus pintar bersandiwara. Agar apa yang diinginkan bisa terwujud. Yakni memiliki pasangan yang memiliki body menarik, cantik dan kaya.


"Hello, kita sudah sampai sini. Masa iya mau pergi cari tempat lain. Bisa mati kelaparan aku. Lagian yang aku mau, makan udon. Bukan yang lain. Ayo kita masuk sekarang."


Olive melangkahkan kakinya, tapi pergelangan tangannya segera di cekal Anggara.


"Jangan sayang, aku mohon. Kamu harus makan makanan yang sehat dan bergizi. Agar badan mu memiliki lekuk tubuh yang indah seperti..."


"Seperti siapa, hah? Jadi maksud mu badanku jelek? Gendut atau terlalu kurus?" Sahut Olive.

__ADS_1


Ia sangat kesal, kenapa laki-laki dihadapannya berubah. Padahal dulu ia selalu memuji kecantikan dan lekuk tubuhnya.


Anggara segera menutup mulutnya, untung saja tidak kelepasan. Mengatakan tubuh Tsamara yang paling indah.


Laki-laki itu sebisa mungkin menahan Olive agar tidak masuk ke restoran. Tapi Olive juga tetap kukuh dengan pendapatnya. Bahwa di restoran itu, adalah tempat yang menyediakan udon dengan rasa yang paling enak.


Akhirnya, Anggara mengalah. Ia mengikuti Olive dari belakang, dengan langkah yang gontai.


**


Di dalam restoran, rombongan Tsamara tengah duduk lesehan di dekat pintu masuk, sambil menikmati Gyoza.


Gyoza merupakan hidangan pembuka berupa pangsit berisi irisan kubis, bawang putih, daun bawang dan daging.


Racikan gyoza pun bervariasi mulai dari yang sederhana seperi digoreng, dibakar dan direbus hingga dipadu dengan keju.


Saat tengah menikmati makanannya, Soffin melihat laki-laki yang sangat dibenci oleh kakaknya. Siapa lagi kalau bukan Anggara.


"Kak, kak. Bukan kah itu Anggara?"


Soffin mengguncang lengan kakaknya, sambil menunjuk ke arah Olive dan Anggara, yang tampak celingukan mencari tempat duduk.


Tsamara dan Thoriq yang penasaran dengan ucapan Soffin, mengikuti arah pandang bocah itu.

__ADS_1


Tsamara gemas ingin mengerjai Anggara. Tapi ada adiknya dan Thoriq. Ia merasa malu jika apa yang dilakukannya nanti di lihat oleh keduanya.


"Hai, Anggara." Seru Soffin tiba-tiba, yang membuat Tsamara, Thoriq, Olive dan si pemilik nama terkejut.


Soffin menjulurkan lidahnya, dan kedua tangannya ia dekatkan di telinga, lalu di gerak-gerak kan.


"Kurang ajar. Berani-beraninya anak kecil itu memanggil mu seperti itu mas." Geram Olive.


Sebenarnya Anggara juga sangat geram. Kalau perlu, ia ingin mencekik lehernya. Tapi apa boleh buat, ada Tsamara dan pria disampingnya yang melihatnya. Bisa-bisa nasibnya akan berakhir di penjara sebagai bujang lapuk.


Olive tidak terima, dan berniat memberi pelajaran pada bocah kecil itu. Kakinya sudah melangkah, tapi Anggara kembali mencekal pergelangan tangannya.


Dan bertepatan dengan itu, mata Olive bersirobok dengan Thoriq. Seketika keinginannya untuk memberi pelajaran pada Soffin, menguap. Ia tidak mau mendapatkan penilaian buruk dari Thoriq.


"Ayo sayang, kita cari tempat duduk lain. Tidak usah menanggapi orang-orang seperti mereka." Ucap Anggara berusaha meredamkan kemarahan Olive.


Keduanya kini berjalan menuju lesehan yang ada di sudut kanan, jauh berseberangan dengan Tsamara.


Olive dan Anggara diam-diam mencuri pandang ke arah Thoriq dan Tsamara, saat keduanya sedang menunggu makanannya datang.


Sedangkan yang di tatap, sama sekali tidak memperhatikan, dan justru tampak tertawa riang. Sungguh membuat panas hati Olive dan Anggara.


Bahkan dulu saat kuliah bersama, Olive tidak bisa dekat dan melihat Thoriq tertawa lepas. Begitu juga dengan Anggara. Ia iri melihat Tsamara dan Soffin yang bisa dekat dengan laki-laki yang di rasa cukup tampan.

__ADS_1


"Permisi kak, ini pesanan nya." Ucap pelayan, mengejutkan Olive dan Anggara.


"Eh, iya kak. Terima kasih." Balas Anggara dan Olive, untuk menutupi rasa terkejutnya tadi.


__ADS_2