
Ketiga bersaudara itu kini berkumpul di kamar, Tsamara. Sebelum tidur, mereka bercengkrama. Seolah-olah sudah lama tidak bertemu dan ingin melepas kerinduan yang mendalam.
Sampai hari hampir subuh, barulah mereka bertiga terlelap tidur. Dengan posisi yang saling berpelukan.
Berbeda dengan Anggara dan Olive yang meluapkan amarahnya dengan bermain atraksi barongsai di atas tempat tidur.
Berbeda juga dengan Tsamara dan adik-adiknya yang menghabiskan waktunya dengan bercengkrama sampai hari hampir menjelang pagi.
Berbeda pula dengan Thoriq. Pria itu justru tidak bisa tidur dan terus membolak-balik badannya. Ia begitu gugup, menghadapi hari esok.
Padahal semuanya sudah dipersiapkan dengan sebaik mungkin. Ikrar ijab qobul juga sudah ia hafalkan. Tapi entah kenapa semua itu tetap tidak bisa membuatnya tenang.
"Ya Tuhan, lapangkan lah hatiku. Semua ku serahkan, hanya kepada-Mu. Jika menikah dengan Tsamara menjadi jalan pembuka pintu surga bagiku, maka tenangkanlah hatiku. Namun jika menikahi Tsamara mendatangkan mudharat bagiku, maka berikan petunjuk Mu cara menyelesaikannya." Setelah berdoa seperti itu, tak lama kemudian Thoriq bisa tertidur dengan lelap.
**
Saat pagi mulai menyapa, mereka justru sedang nyenyak-nyenyaknya tidur.
Pak Abas untung bangun lebih dahulu. Setelah bangun ia bergegas mandi, lalu membangunkan anak-anaknya. Karena sebentar lagi MUA akan datang untuk merias.
Namun, hingga berulang kali ia mengetuk pintu kamar Tsamara, tetap tidak ada balasan juga. Pak Abas pun membuang nafas kasar.
Huft...
"Susah juga ternyata membangunkan mereka. Apa semalam ketiga anakku begadang?"
Karena tidak ada respon dari dalam, pak Abas menuruni anak tangga, menuju kamar calon menantunya. Dan hal yang sama juga terjadi. Thoriq tidak kunjung bangun juga .
Pak Abas kembali membuang nafas kasar, lalu berpikir bagaimana cara membangunkan anak-anaknya.
__ADS_1
Tak lama kemudian, ia menyunggingkan senyum dan berjalan menuju teras.
"Putar lagu dengan volume yang paling keras!" Titah pak Abas, pada orang yang menunggu sound system.
"Apa! Pagi-pagi seperti ini, pak?"
"Justru karena waktu masih pagi, kita harus banyak mendengarkan musik barat dengan suara yang paling keras, agar tambah bersemangat."
Tak banyak bicara, pria itu segera mencari daftar lagu barat yang cocok di putar saat pagi hari. Setelah menemukan yang cocok, ia mengeraskan volume nya.
Benar saja tidak butuh waktu lama, anak-anak pak Abas berjingkrak kaget, dan langsung terduduk.
"Siapa sih, yang memutar musik sekeras itu?" Gumam Tsamara.
"Iya, berisik sekali." Imbuh Soffin dengan suara yang parau.
Sambil mengucek kedua bola matanya, Tsamara melihat ke arah jam dinding. Matanya membulat, ketika jarum jam sudah menunjukkan pukul tujuh pagi.
"Tidak! Sudah siang. Ayo kita segera mandi. MUA sebentar lagi akan datang." Ucapnya, lalu melompat turun dari tempat tidur, dan berlari menuju kamar mandi.
Ketika mendengar ucapan Tsamara, kedua adiknya tampak terkejut. Lalu lari tunggang langgang menuju kamar masing-masing, untuk mandi.
**
Tak jauh berbeda dengan calon istrinya, Thoriq pun juga bangun kesiangan. Pria itu segera mengeluarkan handuk dari dalam kopernya, dan berlalu ke kamar mandi.
Setelah tiga puluh menit berlalu, anak-anak pak Abas satu persatu keluar dari kamar dan berjalan menuruni anak tangga.
Mereka melihat papanya tampak duduk santai di ruang keluarga sambil memainkan handphonenya.
__ADS_1
"Pa, papa." Berulang kali anak-anaknya memanggil pak Abas, namun tetap tidak ada jawaban.
"Apa papa sekarang berubah menjadi tuli, karena mendengar musik tadi?" Celetuk Soffin, yang disertai anggukan kepala oleh kedua kakaknya.
Tiba-tiba, salah satu dari mereka melihat sesuatu yang ada di telinga papanya. Ketika Soffin mendekat, dan menarik benda itu, barulah mereka tahu sesuatu yang baru saja terjadi.
"PAPA!" Teriak Soffin, tepat di telinga papanya.
"Aduh. Apa-apaan sih, Sof."
Papa seketika menutup telinganya dan menunjukkan raut wajah masam pada Soffin, yang berdiri di belakangnya. Farah dan Tsamara terkekeh melihat hal itu.
"Pasti tadi ulah papa kan?" Tebak Soffin, yang dua ribu persen benar.
"Siapa bilang?" Sahut papa pura-pura tidak tahu.
"Soffin yang bilang." Balas anak kecil itu lagi.
"Pintar kamu, Sof. Sudah pandai menebak seperti peramal saja. Kalau papa tidak melakukan hal itu, pasti kalian akan bangun kesiangan. Masa iya, tamu sudah berdatangan, kalian belum pada mandi."
"Ih, Papa!" Seru ketiga anak itu, lalu menggelitiki papanya, sehingga membuatnya tidak bisa menahan rasa ingin buang air kecil.
Dan tanpa mereka sadari, Thoriq sudah berdiri tidak jauh darinya. Pria itu melengkungkan senyum di wajahnya, melihat kebersamaan single parents dengan tiga anak itu.
"Thoriq, kamu sudah bangun?" Tanya pak Abas, ketika tidak sengaja pandangannya menoleh ke arah pria yang berdiri tidak jauh darinya.
"Sudah, pak."
"Ya sudah, ayo kita menuju ruang rias." Ajak pak Abas, sambil bangkit berdiri. Ke empat anak itu berjalan mengekorinya.
__ADS_1