Gagal Menikah Gara-gara Gendut

Gagal Menikah Gara-gara Gendut
80. Tegang


__ADS_3

"Papa tidak serius kan?" Olive terkekeh kecil untuk menghilangkan rasa gugupnya.


"Iya, om tidak serius kan? Pasti hanya bercanda." Anggara ikut terkekeh.


"Saya selalu serius. Tidak pernah bercanda." Tegas pak Sanusi.


Wajah Olive berubah tegang, karena papanya tidak mengijinkannya.


"Kenapa papa tidak mengijinkan? Padahal Olive sangat mencintai Anggara. Begitu juga dengan Anggara."


"Papa tidak suka dengannya, karena dia terlihat bodoh. Kamu lihat kan saat presentasi dulu di perusahaan papa? Dia tidak bisa apa-apa. Dan lihat, mana ada lamaran membawa buah dan makanan. Seperti menjenguk orang sakit saja." Cibir pak Sanusi.


"Pak, anak saya itu sebenarnya pintar. Tapi dia hanya berpura-pura saja, untuk melihat bagaimana reaksi orang-orang sekitar. Anak saya ini lulusan luar negeri, jadi tidak bisa diremehkan. Dia juga rajin dan selalu semangat bekerja. Masih untung saya bawakan parcel, daripada tidak saya bawakan apa-apa."


Walaupun geram dengan pak Sanusi, pak Anwar tetap berkata baik. Ia sengaja memuji anaknya agar pak Sanusi luluh.


"Saya tidak percaya. Mana ada lulusan luar negeri, seperti itu bodohnya. Kalau cuma buah dan kue, saya juga beli." Sengit pak Sanusi.


Anggara tampak santai melihat perdebatan papanya dan papanya Olive. Jika tidak jadi menikah dengan Olive. Ia sangat bersyukur, kesempatan terbuka luas bisa mendekati Tsamara dengan mudahnya.


Keributan terus saja terjadi dan suasana kian memanas, hingga akhirnya pak Sanusi mengusir keluarga pak Anwar.


"Pergi kalian dari sini!" Bentak pak Sanusi.


Keluarga pak Anwar begitu terkejut dengan pengusiran itu. Begitu juga dengan Olive dan mamanya.


"Pak, kamu pasti menyesal sudah menolak anak saya yang pintar dan tampan ini. Ingat ya, kalau menolak pinangan laki-laki, pasti nanti anakmu bakal seret jodohnya. Ayo, kita pergi." Ucap pak Anwar, sambil bangkit berdiri dan mengajak anak dan istrinya pergi. Karena sudah tidak bisa lagi menahan gejolak amarah di dadanya.

__ADS_1


"Pak, kamu yakin mengusir kami? Nanti menyesal lho." Kekeh Anggara sebelum pergi.


"Mas, kamu harus berjuang dong." Olive menatap tajam ke arah pacarnya.


"Aku tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Papamu saja sudah jelas tidak menyukai ku." Olive menatap tajam ke arah Anggara, lalu kembali menoleh ke arah papanya.


"Pa, Olive mencintai Anggara. Olive ingin menikah dengannya apapun yang terjadi."


"Kenapa sih, kamu ngebet sekali ingin menikah dengannya? Kamu itu cantik dan pintar. Pasti banyak yang menyukai mu."


"Tidak ada yang mau dengan Olive, jika Olive sudah hamil duluan pa." Teriak Olive akhirnya.


Semua orang menatap ke arah gadis itu dengan tajam.


"Hamil." Ucap kedua orang tua Olive bersamaan.


"Olive, kamu hamil? Jawab mama." Mama mengguncang lengan tangan anaknya.


"Maafkan Olive, ma. Tapi Anggara yang memaksa duluan."


"Apa, jadi kamu yang memaksa anakku hingga hamil?" Pak Sanusi mendekati Anggara, dan mencengkeram kerah bajunya.


"Bukan salahku saja, pak. Anak bapak juga mau kok. Tapi bukankah bapak sudah menolak saya. Ya saya turuti saja keinginan bapak." Balas Anggara enteng.


Pak Sanusi semakin geram dengan Anggara. Di satu sisi ia tidak suka dengan Anggara. Tapi disisi lain, ia juga tidak mau menanggung malu karena anaknya hamil tanpa suami.


"Okay, aku setujui kamu menikah dengan anakku."

__ADS_1


"Telat, pak. Aku sudah tidak berminat."


"Hei, jangan buat aku naik pitam. Dan bisa menjebloskan mu dalam penjara. Lihat saja apa yang terjadi kalau kamu menolak anakku."


"Kami bersedia Anggara menikah dengan anak anda. Tapi semua biaya pernikahan ditanggung oleh anda."


"Apa? Kamu ingin memeras ku? Tidak bisa begitu. Biaya ditanggung sendiri-sendiri."


"Ya sudah, kami tidak mau bertanggungjawab." Balas pak Anwar enteng.


Pak Sanusi benar-benar dalam keadaan terjepit. Sehingga mau tak mau harus menuruti permintaan pak Anwar.


"Baiklah, akan aku tanggung biayanya." Ketus pak Sanusi.


Olive bisa tersenyum lega. Mereka pun berembug membahas pernikahan putra-putri mereka. Hingga akhirnya mencapai sebuah kesepakatan, mereka akan melangsungkan pernikahan sebulan lagi.


Tentunya mereka harus menggelar pesta pernikahan yang mewah. Semua urusannya juga di serahkan pada keluarga pak Sanusi.


Keluarga pak Sanusi benar-benar tak habis pikir dengan kelakuan keluarga pak Anwar yang terkesan seperti memerasnya. Hatinya benar-benar dongkol.


Tapi semuanya harus tetap ia tahan sampai hari pernikahan anaknya tiba. Setelah itu, ia akan melakukan sesuatu untuk mengganti seluruh hartanya yang sudah digunakan untuk biaya pernikahan.


Setelah selesai, keluarga Anggara pulang dengan membawa kebahagiaan.


"Bagus Anggara, untung kamu kredit duluan. Jadi kita tidak perlu repot-repot menanggung biaya pernikahan. Di tambah lagi, kita berbesan dengan orang kaya. Jadi kecipratan kaya-nya pasti." Ujar pak Anwar dengan senyum sinis. Lalu melajukan mobilnya.


Sementara hal yang berbeda justru terjadi dengan keluarga Olive.

__ADS_1


"Olive, kenapa kamu jadi wanita kegatelan banget sih. Mau-maunya sama lelaki seperti Anggara. Kalau cuma untuk sekedar main-main dan menggerogoti hartanya sih tidak apa-apa. Tapi kalau kamu hamil duluan, ya kita juga yang rugi." Ketus pak Sanusi sebelum akhirnya ia masuk ke kamarnya dan meninggalkan anaknya yang masih mematung diruang tamu.


__ADS_2