Gagal Menikah Gara-gara Gendut

Gagal Menikah Gara-gara Gendut
94. Pergi berdua


__ADS_3

Tsamara masuk ke kamarnya. Ia mengganti pakaiannya yang minim, dengan dress buntung lengannya dan panjang selutut berwarna silver.


Setelah itu, ia menyisir kembali rambutnya dan dibiarkan tergerai indah. Lalu menyemprotkan parfum ke titik tertentu pada tubuhnya. Wajahnya tak lupa, ia make up tipis.


Kini penampilannya sudah rapi. Ia memasukkan handphonenya ke dalam hand bag, dan berlalu keluar kamar.


Tsamara menyusul Soffin yang sedang duduk di teras bersama dengan papa dan calon suaminya.


Melihat kedatangan Tsamara yang ada dihadapannya, Soffin segera berpamitan pada papanya. Bocah kecil itu mencium punggung tangan papanya.


Tsamara dan Thoriq pun melakukan hal yang sama, seperti yang dilakukan oleh Soffin.


Setelah berpamitan, mereka berjalan beriringan menuju mobil Thoriq yang terparkir di jalan, masuk pelataran.


Tsamara duduk di kursi bagian depan, sedangkan Soffin duduk di belakang sendirian.


Kendaraan roda empat itu pun melaju meninggalkan rumah kontrakan.


Sepanjang perjalanan, Thoriq dan Soffin bercanda. Sedangkan Tsamara hanya diam sambil mendengarkan percakapan dan senda gurau keduanya.


"Dah sampai." Ucap Thoriq, ketika mobilnya berhenti di depan gedung sekolah adiknya Tsamara.


"Terima kasih ya, kak. Besok jangan lupa di antar lagi." Kekeh Soffin di ujung kalimatnya.


"Beres." Thoriq memperlihatkan ibu jarinya pada Soffin.

__ADS_1


Bocah kecil itu bersalaman dengan Thoriq dan Tsamara, sebelum turun dari mobil.


Setelah memastikan Soffin masuk ke kelasnya, Thoriq kembali melajukan mobilnya.


"Kita kemana dulu?" Tanya pria itu pada Tsamara.


"Tsamara ikut kakak saja. Terserah kak Thoriq mau kemana."


Gadis itu menoleh dan tersenyum pada pria disampingnya. Membuat pria itu gemas dan ingin mencubitnya. Tapi tentu saja tak ia lakukan, karena ia masih mampu mengendalikan hatinya.


Sepanjang perjalanan, keduanya hanya berbicara sesekali saja. Sampai akhirnya mereka tiba di gedung WO.


Thoriq membukakan pintu untuk Tsamara, lalu keduanya berjalan beriringan masuk ke dalam gedung tersebut.


Di dalam gedung, keduanya disambut ramah oleh karyawan WO. Keduanya menyampaikan maksud kedatangannya, lalu oleh karyawan itu di persilahkan duduk.


Satu jam lebih, pasangan calon pengantin itu berkonsultasi soal design pernikahan. Setelah membayar DP dan urusan lainnya selesai, mereka keluar dari gedung itu, dengan perasaan yang lega.


Selanjutnya mereka menuju ke salon yang terkenal di kota itu. Yang jaraknya tidak terlalu jauh dengan gedung WO tadi.


Sesampainya disana, keduanya pun segera menyampaikan maksud kedatangannya. Thoriq sangat selektif memilih apapun itu, yang berkaitan dengan hari bahagianya.


Setelah urusan MUA selesai, mereka melanjutkan untuk membeli barang-barang seserahan. Mereka pun bergerak menuju supermarket yang paling terkenal di kota itu.


Awalnya Tsamara menolak, karena ia baru saja membeli banyak baju. Tapi Thoriq tetap memaksa. Akhirnya Tsamara memilih-milih apa saja yang sesuai dengan seleranya.

__ADS_1


"Astaga! Soffin, kak." Pekik Tsamara, ketika teringat adiknya yang belum dijemput. Padahal sebentar lagi jam pulang sekolah.


"Kamu tenang saja, coba berpikir jernih. Urusan kita kan belum selesai. Bagaimana kalau aku pesankan taksi online saja?" Thoriq berusaha menenangkan Tsamara dan memberikannya solusi.


"Eh, tidak perlu kak. Kalau begitu, aku telepon sopir rumah saja."


Gadis itu merogoh handphone dari dalam tasnya, lalu menekan nomor telepon supir rumahnya.


Setelah panggilan terhubung, ia segera menyampaikan permintaannya untuk menjemput adik bungsunya. Tak lama kemudian, ia mematikan sambungan teleponnya, lalu tersenyum lega.


"Bagaimana? Bisa?" Tanya Thoriq penasaran, Tsamara pun menganggukkan kepalanya sambil tersenyum.


"Syukurlah. Aku lega mendengarnya. Sekarang kita bisa melanjutkan lagi perjalanan kita. Oh iya, kamu capek ngga? Kita makan dulu yuk? Sambil cari tempat ibadah." Ajak Thoriq dengan penuh semangat.


Tsamara mengernyitkan dahi, ketika Thoriq mengajaknya beribadah. Tapi tak lama kemudian, ia menganggukkan kepalanya.


Keduanya berjalan beriringan masuk ke mobil lagi. Saat dalam perjalanan, seperti biasa Thoriq pasti akan menanyakan pada Tsamara, tentang keinginannya. Seperti biasanya pula, gadis itu akan mengikuti apa kata Thoriq. Hal itu tentu saja membuat Thoriq bahagia. Karena memiliki calon istri yang penurut.


"Tsamara, alangkah beruntungnya aku, bisa memiliki calon istri yang penurut seperti dirimu. Semoga sifat penurut mu ini bisa bertahan selamanya ya. Agar kehidupan rumah tangga kita semakin harmonis."


"Aamiin. Semoga saja ya kak." Balas Tsamara. Setiap kali keduanya beradu pandang, pasti akan menyunggingkan senyum.


Tak lama kemudian, kendaraan roda empat yang dikendarai Thoriq, berhenti di depan restoran khas desa.


Keduanya berjalan beriringan masuk ke restoran itu, sambil mengedarkan pandangannya.

__ADS_1


"Disitu ya, Tsa." "Disitu saja ya, kak." Ucap keduanya kompak, sambil menunjuk saung yang ada di sebelah kiri, dan terletak di bawah pohon yang tumbuh kekar. Sehingga membuat keduanya tergelak, karena menunjuk tempat yang sama dan berkata bersamaan.


__ADS_2