
Tsamara dan Farah, di rias di tempat yang berbeda dengan papa, Thoriq dan Soffin.
Setelah papa, Farah dan Soffin selesai di rias, mereka berkumpul dan berjalan bersama menuju ke depan rumah. Karena tamu sebentar lagi akan datang.
Sedangkan Thoriq dan Tsamara masih di rias di ruangan yang berbeda.
Setelah tiga puluh menit berlalu, satu persatu tamu mulai berdatangan. Dan dalam hitungan menit saja, kursi yang berderet rapi telah di penuhi oleh mereka.
Para tamu undangan tampak antusias melihat penampilan Tsamara. Apakah akan lebih cantik dari yang semalam, ataukah justru sebaliknya.
Penghulu yang akan menikahkan kedua mempelai juga terlihat baru saja datang. Pak Abas menyambutnya dengan hangat dan mempersilahkannya duduk.
Sembari menunggu waktu yang ditentukan tiba, penghulu memberikan beberapa informasi penting, pada pak Abas.
**
Di kediaman Anggara, terlihat pria itu sedang berjalan mondar-mandir di dekat jendela kamarnya. Olive yang melihatnya risih sendiri. Lalu ia melempar bantal ke arahnya. Sehingga membuatnya menghentikan langkahnya.
"Kenapa sih, Liv. Mengejutkan ku saja." Semprotnya dengan wajah penuh murka.
"Siapa suruh mondar-mandir seperti setrikaan baju." Balas Olive sambil mengerucutkan bibirnya.
"Aku lagi pusing nih."
"Pusing kenapa? Lebih baik kita jalan-jalan saja, biar tidak pusing."
"Aku lagi tidak mood untuk sekedar jalan-jalan. Yang ada justru aku malah akan bertambah pusing. Karena kamu pasti akan menunjuk ini itu banyak sekali. Ujung-ujungnya aku pula yang keluar uang."
__ADS_1
Di tengah-tengah keributan itu, terdengar suara ketukan pintu. Anggara yang masih berdiri, segera berjalan untuk membukakan pintu.
"Lhoh, kok kamu kalian belum siap?" Pak Anwar terkejut, ketika melihat Anggara dan Olive masih memakai t-shirt dan celana pendek.
"Siap? Memang kita mau pergi kemana, pa?"
"Ke rumah Abas lah. Memang kamu tidak ingin melihatnya menikah?"
"Halah, buat apa melihatnya. Bikin mata sepet saja." Anggara pura-pura cuek, sambil melipat kedua tangan di depan dada.
"Yakin, kamu tidak mau melihatnya?" Tanya pak Anwar dengan nada menggoda. Anggara pun menganggukkan kepalanya.
"Okay, kalau begitu mama dan papa berangkat dulu." Sekali lagi Anggara menganggukkan kepalanya dengan mantap.
Pria itu menatap cukup lama ke arah papanya yang mulai berlalu pergi dari kamarnya, hingga bayangannya tidak lagi terlihat.
Sementara Olive yang masih duduk di atas tempat tidurnya, menatap penuh selidik ke arah suaminya. Ia penasaran dengan apa yang akan dilakukannya.
"Mungkin benar apa katamu. Kita butuh jalan-jalan. Ayo cepat ganti baju, dan jangan lupa berdandan yang paling cantik." Ucap Anggara di hadapan Olive.
"Memang kita mau jalan kemana?"
"Ke tempat orang punya hajat." Balas Anggara sambil memilih baju pas, untuk di pakai kondangan.
"Halah. Bilang saja kalau belum bisa move on dari tuh cewek gatel bin ganjen." Sungut Olive kesal.
Anggara membalikkan tubuhnya dan menatap Olive dengan seksama.
__ADS_1
"Justru aku ingin membuktikan, bahwa aku bisa move on. Makanya aku ingin menghadiri acara itu. Kalau kamu tidak mau ya sudah, di rumah saja."
Anggara kembali membalikkan badannya, lalu memilih baju yang cocok. Setelah itu, ia segera mengganti pakaiannya.
Olive masih diam tak bergeming di tempat semula. Sampai akhirnya Anggara keluar dari kamar, tanpa pamit padanya.
"Ish, punya suami nyebelin banget." Olive meremaas udara di depannya.
"Okaylah kalau begitu. Aku ingin melihat, apakah dia beneran bisa move on atau cuma omong kosong." Setelah bermonolog, Olive bangkit dari tempat tidurnya dan berjalan ke arah almari. Ia mencari pakaian yang cocok di gunakan untuk pergi ke kondangan.
Tak lama kemudian, ibu hamil itu sudah siap. Setelah memastikan penampilannya tak kalah cantik dan menarik, ia keluar kamar.
Dengan tergesa-gesa ia berjalan menuruni anak tangga, dan melewati pintu samping penghubung dengan carport.
Mobil suami dan mobil mertuanya sudah jelas tidak ada. Ia yakin jika mereka sudah sampai separuh perjalanan. Bergegas Olive memacu kendaraannya dengan kecepatan tinggi, agar bisa segera sampai di tempat lokasi.
**
Di perjalanan, bibir Anggara tidak bisa berhenti bergerak. Ia terus merapalkan sumpah serapah untuk keburukan pernikahan Tsamara dan Thoriq.
"Ya Tuhan, semoga nanti di sana terjadi hal-hal yang di luar dugaan, sehingga mereka tidak jadi menikah. Aku ikhlas menjadi pengantin pengganti untuk Tsamara."
"Lhololoh, kenapa ini? Kok mobilnya jadi tidak nyaman pakai." Anggara menoleh ke kanan dan kiri seperti orang kebingungan, karena merasakan sesuatu yang berbeda pada mobilnya.
Pria itu akhirnya keluar dari mobil dan memeriksa apa yang terjadi.
"Sialan!" Umpatnya sambil menendang ban mobil bagian depan, ketika ban itu kempes pes.
__ADS_1