
Sepanjang perjalanan pulang, Anggara lebih banyak diam. Tapi pikirannya tidak bisa diam.
Melainkan berkelana membayangkan buah melon milik Tsamara yang sungguh padat, besar dan berisi.
Tidak hanya itu saja, tanjakan tajam di bagian belakang tubuh Tsamara juga masih melekat di kepala Anggara.
Tsamara kian bertambah cantik dan sangat aduhai, dengan bentuk badan yang meliuk-liuk indah, bak sirkuit balap motor.
"Mas, kenapa kamu diam saja? Kamu beneran sakit ya?" tanya Olive yang duduk disampingnya, dengan suara yang sedikit keras.
Membuat Anggara tersentak kaget. Hingga ia menginjak rem nya dalam. Kepala keduanya sama-sama terantuk ke depan. Hingga membentur kaca mobil.
Beruntung, di belakang mereka tidak ada kendaraan lewat. Bahkan cenderung sepi. Sehingga tidak begitu membahayakan nyawa keduanya.
"Arghh..." Olive mengerang kesakitan, sambil mengusap pelan jidatnya.
Anggara yang melihat hal itu, segera memalingkan tubuh Olive. Lalu membantu mengusap jidatnya pelan.
"Apa masih sakit?" tanya Anggara dengan sangat lembut.
Olive merasa sedikit aneh. Karena laki-laki dihadapannya sangat lembut sekali suaranya. Meskipun begitu, ia menganggukkan kepalanya.
"Maafkan aku ya, terlalu ngebut bawa mobil. Aku janji tidak akan ngebut."
Olive bertambah sedikit aneh, karena sebenarnya Anggara sudah sangat pelan mengemudikan mobilnya. Tapi yang namanya kecelakaan, juga tidak yang tahu.
__ADS_1
Sekali lagi, Olive hanya menganggukkan kepalanya. Ia juga ikut mengusap jidatnya. Tak sengaja, pandangannya bersirobok dengan Anggara.
Laki-laki itu menatap Olive dengan lebih dalam lagi. Hingga suatu bisikan membuatnya mendekatkan wajahnya pada wajah wanita dihadapannya.
Ia semakin mendekat, dan Olive merasakan suatu gelenyar aneh di dada. Yang mendorongnya untuk menutup mata.
Anggara yang melihat hal itu, merasa seperti di beri lampu hijau. Ia mulai mencicipi bibir Olive. Semakin lama, semakin dalam.
Tanpa mereka sadari, keduanya telah melakukan adegan ranjang bergoyang di dalam mobil. Setelah selesai, tak lama kemudian, mereka tertidur.
Hari berganti malam. Pasangan Olive dan Anggara sama-sama menggeliat, lalu merentangkan kedua tangannya.
"Arghh..." erang Olive tiba-tiba, ketika ia merasakan sakit di bagian inti tubuhnya. Lalu tangannya meraba-raba tubuhnya sendiri. Dan membulatkan matanya.
"Mas, kamu jahat. Kamu harus segera menikahi ku. Bagaimana kalau sampai aku nanti hamil?" Ucap Olive sambil memukul Anggara dengan bajunya.
Anggara melihat bagian tubuhnya sendiri. Lalu kembali membulatkan matanya. Ketika tidak ada sehelai benang pun yang menutupi tubuh polosnya.
"Astaga! Apa yang telah kita lakukan?" pekik Anggara, dan sangat terkejut.
"Apa yang telah kita lakukan, katamu mas!" Aku dan kamu sama-sama tidak memakai baju. Dan, bagian inti tubuh ku terasa sangat sakit. Masih bisa kamu tanya apa yang kita lakukan. Kamu benar-benar kelewatan." geram Olive, sambil kembali memukul Anggara dengan bajunya.
Kata-kata Olive seakan menyadarkan Anggara dari mimpinya. Memori otaknya mulai bekerja dengan cepat, mengingat serangkaian kejadian yang ia alami saat makan siang.
Ya, ia terlalu memikirkan Tsamara. Hingga ia menyangka Olive adalah Tsamara. Karena ia sudah tidak mampu lagi menahan gejolak di dada.
__ADS_1
Akhirnya ia pun melancarkan aksinya, dengan membobol dinding pertahanan Olive. Sehingga membuat gadis itu tidak perawan lagi.
"Mas, kenapa kamu diam saja?" teriak Olive yang diiringi isakan tangis. Membuat Anggara kembali terkejut.
"I-iya, maafkan aku, tidak sengaja."
"Apa! Tidak sengaja kamu bilang? Kamu tadi sempat bilang enak-enak. Dan sekarang justru bilang tidak sengaja. Apa kamu sudah pikun, hah?" sentak Olive murka.
"Aku tidak mau tahu. Kamu harus tanggung jawab pokoknya."
"Iya. Aku akan bertanggung jawab. Justru kita bisa main sepuasnya kan."
"Dasar. Pikiranmu sungguh keterlaluan."
"Iya, sebaiknya kamu segera pakai bajumu lagi. Sebelum aku kembali menerkam mu."
Dengan mendengus kesal, akhirnya Olive memungut bajunya yang jatuh di bawah kakinya. Anggara pun melakukan hal yang sama.
Setelah merapikan kembali bajunya, Anggara kembali melajukan mobilnya. Ia menjadi cemas. Bagaimana kalau aksinya tadi siang ada yang melihat. Karena kaca mobilnya transparan. Ia pun mengusap wajahnya gusar.
Sepanjang perjalanan keduanya saling diam. Anggara juga tak habis pikir. Karena pertemuannya dengan Tsamara, bisa begitu menghipnotis nya. Sehingga melakukan nununana sebelum menikah.
Padahal niat di awal ketika melihat penampilan Tsamara yang sungguh aduhai, adalah ia ingin mempersuntingnya lagi. Ia yakin Tsamara masih mencintainya.
Eh, ini malah ia sudah melakukan nya dengan Olive. Jadi, bagaimana pun juga ia harus bertanggung jawab. Walaupun rasanya juga berat.
__ADS_1
Sementara Olive, ia takut jika Anggara melanggar janji untuk menikahinya. Padahal tujuan Olive adalah, ingin bersenang-senang dulu. Sebelum memutuskan untuk menikah.