Gagal Menikah Gara-gara Gendut

Gagal Menikah Gara-gara Gendut
118. Penolakan Thoriq


__ADS_3

Acara malam Midodareni berjalan dengan lancar. Semua orang sangat berbahagia dan tak henti-hentinya berdecak kagum, karena melihat penampilan Tsamara dan calon suaminya yang tampak begitu memukau. Dekorasi tempat acara juga sangat indah. Mas kawin yang diberikan juga begitu menggiurkan. Sehingga membuat siapapun tidak akan berhenti untuk membicarakannya.


Karena sudah tiba di penghujung acara, satu persatu tamu undangan bangkit dari duduknya untuk bersiap pulang. Mereka mengantri untuk bersalaman dengan pemilik hajat dan kedua calon pengantin.


"Acara malam Midodareni saja sudah tampak wah, lalu bagaimana acara besok?" Rata-rata tamu undangan berkata seperti itu, saat mereka pulang.


Di tengah antrian panjang itu, tentu saja Olive dan Anggara tidak akan ikut serta. Karena hati mereka masih sakit, ketika melihat orang yang di cintai akan menikah dengan orang lain.


Kalau di lihat dari sikap yang mereka tunjukkan, hal itu bukan cinta namanya, tapi rasa obsesi.


Karena cinta yang sebenarnya adalah tidak harus memiliki. Tapi dengan melihat orang yang kita cintai bahagia, maka kita ikut bahagia. Ketika melihat orang yang kita cintai bersedih, maka tanpa harus banyak kata, kita bantu menghapuskan rasa sedihnya.


Dan hal itu tidak Olive dan Anggara lakukan. Lihat saja Anggara, yang pernah meninggalkan Tsamara tepat di hari pernikahannya karena gendut. Dan sekarang setelah dia kembali langsing, kembali mengejarnya.


Begitu juga dengan Olive. Gadis itu sejak kuliah, selalu berusaha merebut perhatian Thoriq dengan cara yang salah.


Bahkan dulu dia pernah memasukkan obat perangsang ke dalam minumannya Thoriq, saat mereka sedang kumpul bersama di sebuah club malam.

__ADS_1


Untung saja, Thoriq mengetahui hal itu, berkat indera penciumannya yang tajam. Sehingga ia tidak jadi meminum minumannya. Sejak saat itulah, ia tidak pernah lagi menyukai Olive.


Acara Midodareni selesai, dan semua orang telah meninggalkan kediaman pak Abas. Setelah itu, keluarganya berjalan beriringan memasuki rumah.


"Kamu mau tidur di kamar, Tsamara?" Tanya pak Abas, yang membuat Thoriq seketika menghentikan langkahnya. Begitu juga dengan Tsamara, yang wajahnya mulai menghangat ketika di singgung soal itu.


"Tidak, om. Kami kan belum halal, masa sudah tidur dalam satu kamar? Takutnya Thoriq tidak bisa mengendalikan diri."


Thoriq menolak dengan tegas untuk tidur sekamar dengan calon istrinya malam ini, untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan.


Karena bagaimana pun juga, ia adalah seorang laki-laki yang memiliki naluri, serta hawa nafsu. Takutnya ia tidak mampu menahan, lalu berbuat yang tidak-tidak. Seperti melakukan hubungan suami-istri.


Pria itu berharap, dengan melalui proses yang tepat, maka istrinya akan melahirkan anak-anak yang baik akhlaq serta budi pekertinya.


"Bagus. Om sangat suka kamu memiliki pendirian yang tegas. Tidak mudah tergoda oleh sesuatu hal. Om semakin yakin, jika kamu memang adalah pria yang tepat untuk mendampingi putri om. Menjadi pemimpin yang baik untuknya. Semoga pernikahan kalian selalu awet." Pak Abas menepuk bahu calon menantunya sambil menyunggingkan senyum.


"Terima kasih, om. Thoriq juga berharap seperti itu. Semoga Tuhan mengabulkan doa kita."

__ADS_1


"Ya sudah, mari om tunjukkan kamarmu." Thoriq menganggukkan kepalanya, lalu berjalan mendahului calon istrinya.


"Sumpah, kak Thoriq itu pria idaman banget kak. Kakak menjadi wanita yang beruntung, karena bisa mendapatkannya." Bisik Farah.


Tsamara membenarkan ucapan adiknya. Tidak dapat dipungkiri, hatinya begitu tenang dan bahagia ketika Thoriq berbicara seperti itu.


Karena kenyataannya, banyak sekali pasangan pengantin yang melakukan hubungan suami-istri sebelum ijab qobul. Atau saat malam Midodareni. Tapi Thoriq berani menunjukkan sikap yang berbeda.


"Do'akan ya kak, semoga Farah juga bisa menikah dengan pria sebaik kak Thoriq." Tsamara menganggukkan kepalanya sambil tersenyum.


"Tanpa kamu pinta sekali pun, kakak akan selalu mendoakan kalian. Semoga kelak kamu juga bisa mendapatkan pasangan yang baik seperti kak Thoriq, atau bahkan lebih baik lagi."


"Terima kasih, kak." Farah memeluk Tsamara, Soffin pun ikut memeluk kedua kakaknya yang sedang berpelukan.


"Kak, Farah mau ikut tidur di kamar kakak dong. Kalau besok, kak Tsa kan sudah ada yang menemani."


"Iya, kak. Soffin juga mau ikut tidur bareng kak Tsa dan kak Farah." Bocah kecil itu menarik-narik gaun Tsamara.

__ADS_1


Tidak ada alasan untuk menolak permintaan kedua adiknya. Sehingga calon istri Thoriq itu menganggukkan kepalanya sambil tersenyum, untuk menyetujui permintaan kedua adiknya. Mereka bertiga berjalan beriringan menaiki anak tangga menuju kamar Tsamara.


Tampak dari jarak yang tidak terlalu jauh, Thoriq melihat apa yang dilakukan calon istrinya. Meskipun dia tidak tahu apa yang terjadi, tapi ia ikut bahagia menyaksikan hal itu.


__ADS_2