
"Pa-papa. Kenapa buka pintunya kencang sekali? Kalau rusak bagaimana?" Tanya Anggara, dengan suara yang tercekat di kerongkongan.
Entah kenapa melihat papanya yang berdiri di ambang pintu, seperti melihat monster saja. Sungguh mengerikan dan menyeramkan.
"Apa peduli mu, hah! Ini juga kantor papa sendiri." Balas pak Anwar dengan geram.
"Kenapa kamu baru datang? Bukan kah tadi kamu berangkat lebih awal dari pada papa. Lalu kenapa telepon dari papa juga tidak kamu angkat? Bahkan malah tidak aktif. Mau melawan papa kamu ya." Tampak kilat kemarahan di wajah pak Anwar. Sehingga membuat Anggara semakin takut dan bergidik ngeri.
"Ta-tadi ban Angga bocor, pa. Handphone nya juga baterei nya habis, lupa belum di charge." Balas Anggara dengan gemetaran.
"Bohong!" Seru pak Anwar sambil menggebrak meja. Membuat Anggara yang sedang duduk, kembali berjingkat karena terkejut.
"Ti-tidak, pa. Mana mungkin Anggara berbohong pada papa. Anggara takut jika tidak dapat warisan, kalau sampai berbohong pada papa."
Pak Anwar memindai wajah Anggara yang memerah, keringatnya juga terlihat bercucuran. Dan bodohnya lagi, ternyata laki-laki berumur setengah abad itu juga mulai mempercayai ucapan anaknya. Terbukti dengan sikapnya yang mulai melunak.
"Okay, kali ini papa percaya padamu." Ucap pak Anwar, lalu memutar tumit dan berlalu pergi meninggalkan ruangan anaknya.
Seketika Anggara merasa lega. Setelah papanya keluar, buru-buru ia menutup pintunya. Lalu kembali duduk di singgasananya sambil mengibaskan map, seperti tadi.
Brak...
Anggara kembali berjingkat kaget. Map ditangannya kembali terjatuh dan mulutnya juga kembali menganga, melihat papanya berdiri di ambang pintu sambil membawa segunung map yang berwarna-warni.
Papanya Anggara berjalan dengan langkah lebar, lalu menjatuhkan segunung map itu tepat di hadapan Anggara.
"Nih, hasil kerja mu. Salah semua. Cepat perbaiki, agar papa tidak menanggung kerugian miliaran."
__ADS_1
Setelah meletakkan map itu, pak Anwar segera keluar. Tapi baru beberapa langkah, ia sudah memutar badannya. Dan menatap Anggara dengan tajam.
"Ingat, kamu tidak boleh pulang sebelum menyelesaikan semua pekerjaan mu. Kamu juga harus memvideo semua pekerjaan mu, sebelum kamu pulang. Agar papa bisa mengecek salah atau tidaknya. Setelah papa mengecek dan tidak menemukan satu pun kesalahan, barulah kamu papa ijinkan pulang."
"Papa?"
"Ingat, kalau di perusahaan hubungan kita sebatas karyawan dan atasan." Tegas pak Anwar, lalu berjalan keluar dan menutup pintunya dengan keras.
Untung saja, perusahaan itu dibangun dari uang warisan. Jika dibangun dari uang korupsi, pasti sudah roboh duluan bangunannya. Karena pintu yang dibanting dengan keras, berulang kali.
Sementara Anggara, geleng-geleng kepala merasakan sikap papanya yang diktator. Sama anaknya sendiri saja sungguh keterlaluan.
Dari pada kena hukum papanya lagi, Anggara segera membuka satu persatu map, dan mulai meneliti dimana letak kesalahannya.
Ia merasa heran dengan papanya, sudah mengerjakan dengan susah payah, masih saja disalahkan. Apalagi jika dikerjakan dengan seenaknya sendiri.
Seketika ia menepuk jidatnya, karena hampir setengah hari, waktunya ia gunakan untuk membersihkan rumah Tsamara. Bahkan ia sampai melupakan jam makan siangnya.
"Oh tidak, aku harus makan siang dulu sebelum mengerjakan semua ini." Gumamnya.
Tangannya bergerak cepat memainkan handphonenya, untuk memesan makanan melalui aplikasi hijau. Setelahnya ia menelpon nomor sekretaris, untuk membantunya mengerjakan laporannya.
Tak berselang lama, terdengar suara ketukan pintu.
"Masuk." titah Anggara.
Setelah mendapat persetujuan masuk, pintu itu perlahan terbuka. Tampak seorang wanita yang berumur jauh di atasnya, masuk dan tak lupa menutup pintunya.
__ADS_1
"Bapak memanggil saya."
"Hem, bantu aku mengerjakan laporan ini. Tunjukkan padaku dimana letak salahnya." Anggara menyodorkan map ke hadapan wanita di depannya.
Wanita itu sejenak mengamati deretan tulisan dan angka. Tak lama kemudian, ia berhasil menemukan letak salahnya dan menunjukkan pada Anggara.
Anggara yang masih belum paham, meminta dijelaskan sekali lagi.
'Dasar otak udang. Ngakunya anak bos, tapi mengerjakan laporan seperti ini saja, harus dijelaskan berulang kali.' batin sang sekretaris jengkel.
Akhirnya, mau tak mau sekretaris itu mengulang penjelasannya dengan perlahan. Agar anak bos nya itu bisa menerima apa yang disampaikannya.
Dan benar saja, setelah dijelaskan berulang kali, Anggara baru paham. Ia pun segera membenahi letak salahnya.
Baru saja mengerjakan satu map, handphonenya berdering. Ia melihat nomor dari driver pengantar makanannya.
Segera ia mengangkat teleponnya, lalu menyuruh driver itu untuk mengantarkan makanannya ke ruangannya.
Setelah panggilan berakhir, ia kembali meminta sekretarisnya untuk menjelaskan letak kesalahan di map yang kedua.
Baru setengah sang sekretaris itu menjelaskan, terdengar bunyi ketukan pintu. Anggara mempersilahkan masuk.
Tampak seorang laki-laki berjaket hijau membawa plastik, dan berjalan menuju meja Anggara.
"Permisi, pak. Ini pesanan makanannya."
Setelah membayar total makanannya, Anggara menyuruh sekertaris nya keluar. Karena ia ingin menyantap makan siang nya.
__ADS_1
'Dasar, bos pelit. Giliran sedang makan, aku disuruh keluar.' batin sekertaris itu jengkel.