
"Ah, mas Anggara sialan. Kenapa pesan ku cuma di baca saja?" umpat Olive, sambil melempar handphonenya ke meja kerjanya. Ia pun mendengus kesal.
Di tengah-tengah kekesalannya itu, pintu ruangan terdengar di buka. Tapi Olive mengabaikannya.
"Olive." seru papanya dengan wajah yang berbinar.
"Ada apa, pa?"
Olive menoleh ke arah papanya dan memperhatikan wajahnya yang terlihat bahagia. Padahal suasana masih pagi.
'Apa mungkin wajahnya terlihat begitu bahagia, karena mendapatkan jatah semalam dari mama. Sedangkan aku, belum apa-apa sudah ngasih jatah ke orang lain.' batin Olive kesal.
"Hari ini, papa mendapat undangan meeting di kantor Thoriq. Sebenarnya, undangannya sudah beberapa hari lalu. Perusahaannya akan launching produk baru. Obat pelangsing. Dan kita di undang untuk ikut rapat di perusahaannya. Sepertinya Thoriq itu semakin bersinar saja."
"Hah. Yang benar pa?" Olive membulatkan matanya, lalu mengerjapkan nya. Teman kuliahnya bisa membangun sebuah perusahaan dalam waktu singkat. Ia semakin kagum pada laki-laki itu.
'Papa sangat setuju jika aku menjalin hubungan dengannya. Dan aku sebenarnya juga masih mencintainya. Apa aku mengejarnya lagi saja ya. Tapi, jika mengingat sikapnya yang cuek. Aku sedikit malas juga untuk mengejarnya.'
"Hei!" seru pak Sanusi sambil melambaikan tangannya di depan Olive, sehingga membuat gadis itu tergeragap.
"Meetingnya nanti jam sembilan. Papa harap kamu bersiap-siap. Jangan lupa dandan yang rapi." tegas pak Sanusi.
"Okay, pa." Olive menautkan ibu jari dan jari telunjuknya, sebagai isyarat setuju. Setelah papanya keluar, ia pun segera bersiap-siap.
"Aku harus memastikan, jika penampilan ku benar-benar perfect." gumamnya, sambil mulai bercermin.
Ia pun kembali memulas wajahnya dengan bedak. Memoles bibirnya dengan lipstik, agar terlihat lebih menawan. Tak lupa ia menyemprotkan parfum ke arah tubuhnya.
__ADS_1
Setelah itu, ia beranjak dari tempat duduknya, sambil menenteng tas kerjanya. Menuju ke ruangan papanya.
"Pa, ayo berangkat sekarang." ucap Olive sambil berjalan mendekat ke arah meja kerja papanya.
"Hem, baiklah. Ini papa sedang menyiapkan berkas penting untuk dibawa ke sana."
Pak Sanusi sambil memilah berkas yang dianggapnya penting. Olive pun membantunya.
Setelah semua tidak ada yang terlewat, barulah keduanya berjalan meninggalkan ruang kerja. Dan berangkat menuju kantor Thoriq.
**
Sementara itu, di perusahaan pak Anwar, papanya Anggara. Sekretarisnya mengabarkan jika ada undangan meeting di perusahaan baru.
Anwar menganggukkan kepalanya. Lalu membaca sekilas info tentang perusahaan tersebut. Sebelah sudut bibirnya terangkat. Seolah-olah mencibir.
"Perusahaan baru?" gumamnya.
Setelah itu, pak Anwar menyiapkan beberapa berkasnya, dan menghampiri putranya.
"Anggara." ucap pak Anwar sambil membuka pintu ruang kerja anaknya.
"Iya, pa. Tunggu sebentar. Ini kurang dua lagi. Nanti kalau sudah selesai, juga bakal aku anterin ke ruangan papa." balas Anggara tanpa menoleh.
"Lanjutkan nanti saja. Ayo ikut papa meeting di perusahaan baru."
"Hah. Meeting?" Anggara menghentikan pekerjaannya sejenak, lalu mendongakkan kepalanya menatap papanya.
__ADS_1
"Iya. Buruan." tegas papanya sambil duduk di sofa
Anggara segera merapikan, meja kerjanya. Lalu berjalan mendekati papanya, yang tengah duduk di sofa.
Keduanya di antar oleh sopir perusahaan menuju kantor Thoriq. Setelah menempuh perjalanan hampir satu jam, akhirnya mereka sampai.
Anggara dan papanya memerhatikan sekeliling bangunan megah yang terlihat elegan. Lalu turun dari mobilnya.
Setelah turun, mereka berjalan menuju meja resepsionis. Karyawan resepsionis pun menyuruh security untuk mengantarkan tamunya menuju ruangan yang dimaksud.
Pak Anwar dan Anggara berjalan mengekor security, sambil memperhatikan design kantor yang sangat indah dan begitu elegan.
"Nah, pak. Sudah sampai. Silahkan masuk. Beberapa tamu, juga sudah datang." ucap security mempersilahkan keduanya masuk dengan sopan.
"Baik. Terima kasih." balas Anwar sambil menyunggingkan senyum. Setelahnya, ia pun masuk di iringi Anggara yang berjalan di belakangnya.
**
Olive dan papanya baru sampai di pelataran perusahaan. Keduanya segera turun dari mobil, dan menuju ke meja kerja resepsionis.
Setelah mengatakan tujuannya, security melakukan hal yang sama pada keduanya. Yakni mengantar mereka menuju ke ruangan meeting.
"Silahkan masuk, pak. Beberapa perwakilan berbagai perusahaan juga sudah menunggu di dalam."
"Iya, pak. Terima kasih." balas pak Sanusi, ramah pada security. Lalu ia dan Olive pun masuk ke ruangan.
Keduanya begitu terkejut, melihat pak Anwar dan Anggara juga sudah berada di sana, dan duduk dengan tenang.
__ADS_1
Olive begitu menyorot tajam ke arah Anggara. Karena laki-laki itu tadi tidak membalas pesannya.
Sedangkan Anggara sendiri juga tampak salah tingkah. Karena tadi malas menjawab pesan dari Olive. Akhirnya dari pada timbul kecurigaan. Laki-laki itu membalas pesan sang pacar, meskipun sangat telat. Padahal keduanya tengah duduk berhadapan.