Gagal Menikah Gara-gara Gendut

Gagal Menikah Gara-gara Gendut
42. Penampilan yang berbeda


__ADS_3

"Tsa, maaf. Kancing bajumu terlalu turun. Bisa kamu kancing kan kembali?" ucap Thoriq dengan suara parau. Karena menahan gejolak di dadanya.


Tsamara seketika menunduk, dan melihat tanjakan mautnya terlalu terlihat. Buru-buru ia mengancingkan bajunya.


"Maaf ya, kak. Tsa tidak tahu. Mungkin karena terlalu lama di dalam lift, jadi kegerahan."


"Tidak apa-apa. Besok diulangi lagi ya."


"Hah! Apa?"


Tsamara menghentikan langkahnya, lalu menoleh menatap pemuda yang ada disampingnya. Thoriq menyadari, jika mulutnya lepas kendali. Hingga ia membekap mulutnya.


"Maaf. Maksudnya itu kebalikannya. Ayo, jalan lagi. Pasti karyawan ku sudah menunggu kita." Tsamara pun kembali menyeimbangi langkah Thoriq.


Kini mereka sudah tiba di ruangan pemotretan. Para karyawan juga menatap takjub ke arah Tsamara. Gadis itu terlihat cantik dan tanjakan nya begitu padat berisi.


"Rima, tolong dandani Tsamara sebaik mungkin. Karena dialah yang menjadi brand ambassador nya."


"Baik, pak." ucap karyawan perempuan yang memakai kemeja biru dan celana hitam panjang, sambil mengangguk ke arah atasannya.


"Mari, nona." ajak Rima dengan senyum ramah.


Tsamara menganggukkan kepalanya sambil tersenyum, lalu mengikuti langkah Rima menuju ruang make up.


Di ruangan itu terdapat banyak sekali alat kecantikan, yang tertata rapi di atas meja rias. Tsamara tertegun melihat hal itu. Karena mengingatkannya pada masa menikah. Dimana ia juga di rias dengan begitu cantik, tapi ditinggal pergi.


"Silahkan duduk, nona." MUA itu mempersilahkan Tsamara duduk di depan meja rias.

__ADS_1


Gadis itu mengulas senyum, lalu menganggukkan kepala. Ia patuh duduk di depan meja rias. Tangan MUA mulai melakukan sentuhan-sentuhan di wajah Tsamara.


Gadis itu terlihat pasrah, mau diapakan wajahnya. Karena selama ini ia memang tidak pernah merias diri.


Sementara itu, Thoriq yang berada di luar, mencoba mengalihkan pemikirannya tentang bentuk tubuh Tsamara sejak tadi. Dengan menyibukkan diri dengan pekerjaannya, melalui handphonenya. Tapi ternyata sulit. Sehingga ia harus menggelengkan kepalanya beberapa kali.


Fotografer yang melihatnya, mengernyitkan dahi. Karena tumben sekali bos nya bersikap tidak seperti biasanya.


Setelah satu jam di rias, Tsamara berganti pakaian. MUA membawakan gaun berwarna hijau muda. Dan menyuruhnya untuk mengganti bajunya.


Sesaat gadis itu bengong, lalu mengambil baju itu dan memegang sambil memperhatikan detailnya.


Kak, ini tidak salah ya? Kenapa bajunya banyak lubangnya? Bagian bawah juga lihat."


Tsamara memperlihatkan bagian bawah gaun yang terdapat belahan panjang sampai atas paha. Lalu kedua lengannya juga buntung, dan bagian dadanya terlalu bawah.


"Itu akan terlihat cocok ditubuh anda. Cobalah!"


Tsamara menganggukkan kepalanya dengan ragu, lalu memasuki pass rooms. Ia kembali membolak-balik gaun itu. Lalu menghembuskan nafasnya, sebelum akhirnya mengganti pakaiannya.


"Ini, kenapa bagian dadanya terlalu ke bawah sekali? Bagian punggungnya juga. Belahan yang bawah juga terlalu naik ke atas. Berapa ya kira-kira harga baju model seperti ini." gumam Tsamara.


Setelah sekian menit, akhirnya Tsamara keluar dari ruangan ganti.


"Kak. Memang seperti ini ya?" tanya Tsamara sambil memperlihatkan tubuhnya pada MUA.


Sesaat mbak Rima terbengong. Karena penampilan Tsamara begitu memukau.

__ADS_1


"Eh, iya mbak. Benar seperti itu. Ayo, rambutnya kita rapikan dulu." mbak Rima menunjuk sebuah kursi yang ada di depan meja rias. Sebagai instruksi agar Tsamara duduk di sana.


Gadis itu patuh, lalu kembali menghadap meja rias. Ia menelan saliva ketika melihat penampilan dirinya dari pantulan cermin. Sedangkan mbak Rima mulai memberi sentuhan pada rambutnya.


Tak berselang lama, Tsamara sudah selesai di rias. Mbak Rima membantunya memakai high heels setinggi sepuluh centimeter berwarna hitam. Lagi-lagi ia tak percaya melihat bayangan dirinya yang tampak begitu cantik dan molek.


Setelah itu, ia pun keluar dengan tangan menutup dadanya. Karena malu belahan dadanya terlalu ke bawah.


"Nona, anda harus percaya diri. Karena anda adalah seorang brand ambassador. Kalau tidak percaya diri, bagaimana orang nanti mau membeli produk yang kami tawarkan." ucap mbak Rima menasehati.


Tsamara pun menganggukkan kepalanya. Ia menghirup nafas panjang, lalu mencoba tersenyum sebelum melangkah keluar ruangan rias.


Fotografer dan Thoriq sangat terkejut dengan penampilan Tsamara yang begitu memukau. Sehingga jakunnya naik turun melihat keindahan makhluk ciptaan Tuhan yang satu itu.


"Ayo jalan, nona. Buat mereka semakin terpesona dengan penampilan, nona." bisik mbak Rima.


Tsamara pun kembali menganggukkan kepalanya, dan mulai melangkah mendekati dua pria yang kesusahan menelan saliva.


"Lalu aku disuruh apa setelah ini, kak?" tanya Tsamara dengan suara yang lembut, tapi justru menggelitik ditelinga dan dada Thoriq.


"Kita mulai pemotretannya. Sekarang."


"Baik."


"Aldo. Arahkan Tsamara bagaimana harus bergaya."


"Si-siap, bos." ucap karyawan laki-lakinya dengan suara yang parau. Sama seperti bos-nya.

__ADS_1


__ADS_2