
Cukup lama para asisten rumah tangga itu berkunjung ke rumah kontrakan tuannya. Mereka melepas rindu, seakan-akan seperti saudara sendiri.
Hari semakin beranjak malam. Mereka pun segera pamit undur diri. Tak lupa mereka berpesan, agar Tsamara mempertahankan bentuk tubuhnya yang ideal, agar bisa membalas dendam orang-orang yang sudah membuat hatinya sakit.
Tsamara terkekeh ketika mendengar nasehat itu. Seakan tidak percaya, jika para asisten rumah tangganya begitu care dengannya.
**
Kini, Tsamara merebahkan diri di atas tempat tidurnya. Ia tersenyum sendiri, membayangkan antusias para tetangganya meminta foto dengannya. Rasanya itu seperti sebuah mimpi baginya.
Tidak percaya, keadaan kini berbanding terbalik. Meskipun begitu, ia tidak mau sombong. Tidak mau bersifat seperti kacang lupa kulitnya.
Di tengah-tengah lamunannya, handphonenya bergetar. Dengan malas ia meraih handphonenya. Dan membulatkan matanya, ketika melihat notif pesan dari sebuah bank.
"Astaga. Aku gajian lagi." Seru Tsamara tak percaya. Senyum merekah di wajah gadis cantik itu.
Tak hanya itu saja, ia juga mendapat pesan yang berisi sebuah tawaran, salah satu novelnya akan terbit cetak. Itu artinya, karyanya semakin digemari oleh banyak orang. Dan yang lebih penting, ia juga masih bisa mendapatkan royalti dari situ.
Tsamara semakin bahagia tak terkira. Hingga sampai menjerit di dalam kamar. Beruntung keluarganya tidak ada yang mendengar. Jika ada yang mendengarnya, mungkin mereka akan menuduh Tsamara sudah tidak waras.
**
Di tempat lain, Anggara selalu terbayang wajah dan bentuk tubuh Tsamara. Bahkan karena terbawa perasaan, ia sampai meraba, memeluk dan menghujani gulingnya dengan kecupan. Seolah-olah itu adalah Tsamara.
"Masa bodoh. Aku harus bisa mendapatkannya lagi. Besok pagi aku harus ke rumahnya. Soal Olive, urusan belakangan. Kalau aku bisa mendapatkan dua-duanya, kenapa harus satu? Dimana-mana, laki-laki itu tetap nomor satu." Gumamnya diiringi senyum sinis.
**
__ADS_1
Pagi harinya, Anggara pun mulai melancarkan aksinya. Setelah menyelesaikan sarapan paginya, ia sengaja berangkat kerja sendiri. Tidak bersama dengan papanya.
Tentu saja, ia tidak serta merta langsung menuju ke perusahaannya. Melainkan berbelok arah menuju rumah kontrakan Tsamara.
Sepanjang perjalanan, ia bersiul dengan riang gembira. Seolah yakin, gadis cantik yang dulu disakiti akan menerimanya kembali.
Tsamara itu manusia. Bukan malaikat. Ia punya rasa, punya hati. Jika disakiti, tentu saja akan melakukan suatu tindakan. Yang orang sekitarnya juga tidak bisa menebak jalan pikirannya.
Akhirnya, setelah menempuh perjalanan hampir satu jam, Anggara tiba di depan kediaman Tsamara. Pria itu merapikan penampilannya lagi. Agar Tsamara semakin tergila-gila dengannya.
"Tsamara. I'm cooming." Gumamnya diiringi senyum smirk.
**
Seperti biasanya, pagi itu Tsamara berniat mengantar adiknya sekolah. Tentunya dengan menaiki sepeda onthel nya. Ia sangat terkejut, ketika melihat Anggara sudah berdiri di depan pintu gerbangnya.
"Hai, Tsamara." Sapa Anggara dengan senyum ramah.
Bukannya menjawab Tsamara justru tampak mengernyitkan dahi, menatap pria aneh dihadapannya. Sementara Soffin juga menatap Anggara dengan mimik wajah kebingungan.
"Hai, Soffin. Ayo, om antar sekolah. Biar cepat sampai sekolah."
Anggara pura-pura baik, dengan menawarkan bantuan, dan diiringi sebuah senyuman.
Tsamara sendiri masih berpikir, apa yang harus dilakukannya pada Anggara. Meskipun ia benci, tapi ia harus bisa dekat dengannya. Agar bisa membalas rasa sakit hatinya.
"Tsamara, kita antarkan Soffin sekolah sama-sama yuk?" Ajak Anggara.
__ADS_1
"Memang kamu tidak ada kerjaan?"
"Itu bisa dikerjakan nanti. Lagian nih, kalau aku punya pekerjaan yang belum selesai, karyawan ku bisa mengerjakannya. Untuk apa aku repot-repot membayar para karyawan. Tapi tidak mau mengurus pekerjaan ku. Betul tidak?"
Tsamara manggut-manggut sambil menarik sebelah sudut bibirnya.
"Kalian tidak mungkin menolak tawaran ku kan? Secara gitu, lebih nyaman naik mobil, dari pada naik sepeda butut seperti itu."
Hati Tsamara sedikit panas, ketika mendengar kalimat cibiran dari mantan calon suaminya itu. Tapi ia berusaha menahannya.
"Okay, baiklah. Aku terima tawaran mu." Balas Tsamara akhirnya. Yang membuat Anggara memekik kegirangan.
"Kak!" Seru Soffin mengingatkan.
Tapi Tsamara langsung menatapnya, dan mengedipkan matanya sebelah. Ia berusaha memberi tahu adiknya, untuk mengikuti perintahnya. Walau ragu dan tidak tahu apa yang akan di lakukan kakaknya, Soffin tetap patuh padanya.
Tsamara memasukkan sepedanya lagi. Lalu berjalan menuju mobil Anggara.
"Silahkan, tuan putri." Ucap Anggara, diiringi senyum ramah, sambil membukakan pintu depan untuk Tsamara.
"Terima kasih." Balas Tsamara singkat.
"Lho, aku duduk dimana?" Protes Soffin kesal, dengan sikap Anggara yang justru mengitari mobilnya dan masuk di kemudi samping Tsamara.
"Ya naik di kemudi belakang dong. Bisa buka pintu sendiri kan?"
"Huh! Nyebelin." Sungut Soffin kesal, ia menghentakkan kakinya, sebelum masuk dan duduk di kursi bagian belakang.
__ADS_1
'Dengan adikku saja, sudah kelihatan tidak adil. Bagaimana mungkin aku bisa cinta dengannya lagi. Yang ada justru membakar semangatku untuk menghancurkan mu.' bisik Tsamara dalam hati.