Gagal Menikah Gara-gara Gendut

Gagal Menikah Gara-gara Gendut
138. Emosi tingkat tinggi


__ADS_3

Untung saja pagi pertama di rumah mertua, Tsamara tidak bangun kesiangan. Meskipun tadi malam ia di gempur Thoriq habis-habisan.


Kini ia sudah mandi dan turun ke bawah, menuju ke dapur. Siapa tahu mama mertuanya membutuhkan bantuannya.


"Ma, mama sedang masak apa?" Tanya Tsamara sambil berjalan mendekati mama mertuanya.


Bu Husna menoleh sejenak ke arah menantunya, yang terlihat segar, karena baru saja mandi. Bahkan rambutnya yang panjangnya sepinggang juga masih tampak basah.


Maklum saja, ia tidak mengeringkan rambutnya dengan hair dryer. Karena ia lupa membawa benda itu. Sedangkan Thoriq juga tidak memilikinya.


Ketika Tsamara sudah berada di dekat Bu Husna, mertuanya itu begitu terkejut melihat beberapa bekas keunguan tampak menghiasi leher menantunya.


Ia sampai geleng-geleng kepala sendiri, karena dulu almarhum suaminya ketika masih menjadi pengantin baru juga tidak seperti itu padanya.


'Dasar, anak muda jaman sekarang.' batin Bu Husna dalam hati.


"Kenapa mama melihat Tsamara seperti itu? Apa ada yang salah dengan penampilan Tsa?" Tanyanya sambil menelisik penampilannya sendiri, karena tadi ia lupa untuk bercermin.


Yang jelas istri dari Thoriq itu yakin jika penampilannya masih terbilang sopan. Ia memakai dress selutut berwarna Lilac dengan motif bunga kecil-kecil. Lengannya di atas siku dan Krah Shanghai.


"Tidak, tidak ada yang salah kok. Ini, mama sedang masak bubur sumsum. Katanya bubur sumsum itu baik di konsumsi saat badan capek. Kamu doyan ngga?"


"Doyan, kok ma."


"Lalu Tsamara bantu ngapain nih?"


"Kamu bikin kuahnya ya. Gula merah di lelehkan dan di campur dengan air serta daun salam dan daun Pandan."


"Baik, ma." Tsamara segera menyiapkan bahan-bahannya, lalu merebusnya di panci.


Kini kedua wanita itu tengah berdiri berjejer sambil mengaduk masakannya. Bu Husna juga tampak bertanya jawab dengan Tsamara. Keduanya terlihat sangat akrab.


Setelah satu jam, akhirnya keduanya selesai memasak. Lalu menghidangkan bubur sumsum itu di atas meja. Ada juga buah-buahan, susu, teh dan air putih di atas meja.


"Panggil suamimu, kita makan sekarang nak."


"Baik, ma. Tunggu sebentar."

__ADS_1


Tsamara segera berjalan menuju ke kamarnya. Ia mencari keberadaan suaminya, namun tidak menemukannya.


Wanita itu berkeliling ke setiap sudut ruangan, dan akhirnya menemukannya di ruang fitness. Ia pun mendekatinya.


"Kak, ayo sarapan pagi bersama."


"Iya, sayang. Sebentar lagi. Kamu makan saja duluan dengan mama."


"Yah, kok gitu sih." Tsamara mengerucutkan bibirnya, lalu dengan usil mematikan kinetic treadmill. Thoriq melongo melihat keusilan istrinya.


"Kamu, bisa usil juga ya." Pria itu menarik hidung mancung Tsamara.


"Salah sendiri, kenapa kakak tidak mau menuruti ajakan ku. Cuma makan bersama saja, apa susahnya?"


"Ya sudah, ayo kita kesana bareng."


Thoriq menghapus peluh yang menetes di wajah dan badannya. Lalu merangkul bahu istrinya. Keduanya berjalan beriringan menuju ruang makan.


"Mama, sudah lama menunggu kedatangan kami?" Tanya Thoriq, ketika sudah berada di dekat mamanya.


Bu Husna terlihat menelisik penampilan anaknya yang mengenakan t-shirt lengan buntung dan celana pendek. Terlihat basah karena baru saja selesai olah raga.


"Iya dong, ma. Biar sehat dan bugar badan Thoriq."


"Ya sudah, sekarang sarapan bubur sumsum dulu."


Setelah meneguk air putih, Thoriq mengambil sedikit bubur sumsum beserta kuah gula merah, lalu mengaduk dan menyendoknya perlahan.


Tsamara dan Bu Husna juga melakukan hal yang sama. Mereka tampak lahap menikmati makanan itu.


Setelah selesai, Tsamara membantu mama mertuanya merapikan meja makan. Sedangkan Thoriq membersihkan diri.


**


Sementara itu, di kantor pak Anwar. Pagi-pagi ia sudah kebakaran jenggot, marah-marah dan mengeluarkan sumpah serapah.


Pasalnya pak Abas telah menarik semua sahamnya dan memutuskan hubungan kerjasama dengannya. Bahkan ia justru menjalin kerjasama dengan perusahaan lain dan menanam saham di perusahaan lain.

__ADS_1


"Kenapa Abas melakukan semua ini padaku? Padahal aku sudah baik dengannya." Tidak terima, pak Anwar sampai menggebrak meja.


"Mentang-mentang dapat menantu orang kaya. Anaknya juga naik daun, dan bisa tinggal di rumah megah kembali. Jadi berani macam-macam denganku. Lihat saja, aku tidak akan tinggal diam. Aku harus bisa membuat Sanusi menanamkan modalnya di perusahaanku lebih banyak lagi."


Setelah itu, ia segera menghubungi sekretarisnya dan menyuruhnya untuk menyiapkan segala sesuatunya yang berhubungan dengan saham perusahannya.


Baru saja ia selesai menghubungi sekretarisnya, lalu karyawan itu kembali menghubunginya dan mengatakan ada surat dari beberapa perusahaan.


Pak Anwar mengernyitkan dahi, lalu menyuruh sekretarisnya untuk membawa surat-surat itu ke dalam.


Wajah pak Anwar memerah menahan amarah, lalu meremas semua kertas-kertas itu dan melemparkannya ke sembarang arah.


"Kenapa tiba-tiba semua membatalkan kerjasama dengan perusahaanku? Apa Abas yang mengajak mereka untuk melakukan semua ini padaku? Jahat sekali dia. Bisa jadi penyebabnya karena anakku pernah menolak menikah dengan anaknya? Sial! Aku tidak pernah menyangka, akan berimbas seperti ini."


Belum hilang amarah di hatinya, tiba-tiba handphonenya berdering. Ketika melihat nama pak Abas yang tertera di layar, ia segera menekan tombol hijaunya.


"Apa kau yang melakukan semua ini padaku? Jahat sekali kau jadi orang. Mentang-mentang sekarang sudah kembali kaya, kau tega berbuat seperti ini padaku. Lihat saja nanti, doa orang yang terdzolimi itu makbul. Pasti kau dan keluargamu akan mendapatkan balasannya." Cerocos pak Anwar, ketika panggilan sudah terhubung. Tapi pak Abas yang ada di seberang sana justru terkekeh menanggapi luapan hati mantan sahabatnya itu.


"Anwar-Anwar. Kau itu laki-laki, tapi mulutnya cerewet juga ya, seperti perempuan." Ucap pak Abas disela-sela terkekeh nya.


"Apa kamu tidak bisa sedikit saja menjaga etika dalam berbisnis? Ramah dan sopan pada rekan bisnis atau kolega itu sangat penting lho. Kalau kamu bersikap sebaliknya, mana ada yang mau bekerja sama denganmu? Termasuk aku. Jadi, mohon maaf aku terpaksa dengan berat hati membatalkan hubungan kerja sama kita."


"Kalau kamu membatalkan kerja sama denganku, kenapa harus mengajak perusahaan lain untuk melakukan hal yang sama juga? Hah?"


"Jangan asal menuduh, jatuhnya fitnah. Aku tidak mengajak mereka. Mungkin mereka tahu sendiri bagaimana sifat aslimu. Dari pada marah-marah pada orang lain, lebih baik kamu instrospeksi diri.


Ingat, saat kamu menyetujui rencana anakmu untuk membatalkan pernikahan. Kalian telah membuat seorang anak gadis menderita lahir dan batin.


Untung saja dia berjiwa kuat, mampu merubah rasa sakit hatinya menjadi semangat untuk mengubah takdir hidupnya.


Kalau dia tidak berjiwa kuat, mungkin dia bisa mati bunuh diri atau menjadi pasien rumah sakit jiwa. Lalu, siapa sebenarnya di sini yang dzolim? Kamu atau aku?


Anwar-Anwar, bisa-bisanya kamu mengatai keluargaku yang bukan-bukan. Oh iya, apa kamu lupa, saat kamu menggelar resepsi pernikahan anakmu, siapa penyumbang terbesar di acara itu? Tidak perlu kamu jawab, karena aku sudah tahu jawabannya. Pasti aku bukan?


Lalu saat aku menggelar acara pernikahan untuk anakku, kamu tahu siapa penyumbang dengan sumbangan terkecil? Tidak perlu kamu jawab, karena aku sudah tahu jawabannya.


Jadi, jika kamu sudah tahu itu semua. Sebaiknya ingat, untuk selalu instrospeksi diri!"

__ADS_1


Pak Anwar sangat geram, karena pak Abas menceramahinya habis-habisan. Dan ia juga tidak dapat membalik ucapannya, karena memang benar adanya.


__ADS_2