
Lain Anggara dan Olive, lain pula Thoriq dan Tsamara.
Thoriq sengaja mengajak Tsamara bercerita panjang lebar, sehingga membuatnya kelelahan dan akhirnya mengantuk. Tak lama kemudian, istrinya tertidur lelap.
Saat Tsamara tertidur itu, Thoriq melakukan aksinya. Di bantu asisten rumah tangganya, ia membawa koper-kopernya masuk ke dalam mobil.
Sedangkan ia sendiri menggendong Tsamara menuju kendaraan roda empatnya. Karena wanita itu baru saja terlelap tidur, tentu saja ia tidak terusik ketika suaminya menggendongnya.
"Ma, Thoriq pamit dulu ya. Do'akan kami, semoga setelah pulang, bawa kabar bahagia untuk semuanya."
"Tentu mama akan mendoakan kalian. Mama juga tak sabar ingin memiliki cucu dari kalian. Setiap mama melihat Soffin saja, selalu terkekeh. Apalagi nanti ketika memiliki cucu sendiri, pasti mama akan semakin tertawa lebar."
"Terima kasih ma, atas doanya. Sekali lagi Thoriq pamit." Pria itu lalu mencium punggung tangan ibunya. Setelah itu, ia masuk ke mobil.
Bu Husna menatap kepergian sang putra dan menantunya yang berada di balik mobil. Lalu bayangannya menghilang di balik pekatnya malam.
"Bersiaplah mendapatkan kejutan dariku, sayang." Bisik Thoriq lembut di telinga istrinya. Lalu mengecup keningnya cukup lama.
Sesampainya di bandara, beberapa asistennya Thoriq membawa kopernya. Sedangkan pria itu sendiri menggendong Tsamara menuju pesawat.
Sontak hal itu menjadi pusat perhatian bagi penghuni bandara. Seperti seorang mafia yang tengah menculik seorang wanita.
Namun karena Thoriq mampu menunjukkan identitasnya lengkap, maka ia bisa melewati pemeriksaan dengan mudah.
"Terima kasih, sudah membantuku." Ucap Thoriq pada beberapa asistennya, sebelum mereka turun dari pesawat.
__ADS_1
"Sama-sama, tuan. Kami permisi dulu." Ucap kepala asisten, sebelum akhirnya mereka turun.
Setelah kepergian para asistennya dan ia sendiri sudah nyaman berada di dalam pesawat, Thoriq pun bisa menghirup nafas lega.
Tak lama kemudian, pesawat meluncur. Thoriq yang sudah cukup kelelahan melakukan aktivitasnya tadi, akhirnya tertidur pulas.
**
Pesawat mengudara selama kurang lebih sepuluh jam.
Thoriq yang menggeliat bangun, perlahan mengucek matanya. Lalu menyunggingkan senyum, ketika melihat Tsamara masih tidur nyenyak dalam pangkuannya.
Ketika melihat arloji yang melingkar di pergelangan tangannya telah menunjukkan pukul sepuluh pagi, ia segera membangunkan Tsamara dengan menepuk pelan pipinya. Karena sebentar lagi burung besi itu akan mendarat di kota tujuan.
Perlahan Tsamara mengerjapkan matanya, lalu tersenyum melihat suaminya juga tengah tersenyum padanya.
"Iya, aku mau gosok gigi dulu. Habis itu bantuin mama memasak." Balas Tsamara, yang belum menyadari jika dirinya ada di dalam pesawat.
"Hari ini dan untuk beberapa hari ke depan, kita akan memasak berdua. Tidak perlu melibatkan mama. Karena mama sudah ada yang membantu."
"Tapi aku kasian dengan mama. Di kira aku menantu minim akhlak."
"Tidak boleh memiliki pikiran buruk. Aku rasa kalau kamu mau bantuin mama memasak, pasti sebelum kamu sampai, mama sudah kenyang duluan."
"Kenapa bisa begitu?" Tsamara mengernyitkan dahi.
__ADS_1
"Karena sebentar lagi, kita akan tiba di kota Maldives."
"Apa! Maldives?" Ulang Tsamara dengan terkejut. Lalu ia duduk, dan memindai keadaan sekitar dengan seksama.
Berkali-kali ia mengucek matanya, untuk memastikan bahwa dirinya tidak salah lihat. Beberapa orang terlihat bersiap-siap sebelum turun dari pesawat.
"Astaga, kapan kita naik pesawat, kak?"
"Semalam." Balas Thoriq sambil menyunggingkan senyum tanpa dosa.
"Tapi bagaimana cara membawaku masuk ke dalam pesawat? Kenapa aku tidak menyadarinya?"
"Di saat kamu kelelahan, lalu tertidur, aku langsung mengangkat tubuhmu ke mobil dan membawamu ke bandara."
"Ya ampun. Jadi kakak sengaja menculik ku?" Sungut Tsamara kesal sambil mencubit pinggang Thoriq. Sehingga membuat pria itu mengaduh kesakitan.
"Argh, sayang. Ampun. Aku sengaja melakukan semua ini untuk memberikan kejutan padamu. Bagaimana apa kamu suka dengan kejutan yang aku berikan padamu?"
Tsamara tidak dapat berkata apa-apa, selain menyunggingkan senyum dan berkali-kali mencubit pinggang suaminya.
Akhirnya Thoriq mampu mencekal pergelangan tangan istrinya, lalu melingkarkan di pinggangnya. Sedangkan tangan kanannya memeluk erat Tsamara.
"Sudah dong, sayang. Kamu jangan mencubit ku melulu. Nanti kalau senjataku bangun bagaimana? Tahanlah sebentar lagi saja, sampai kita tiba di penginapan. Kamu boleh mencubit ku sepuas hatimu. Dan nanti akan ku balas dengan tak kalah sengit."
"Kak!" Seru Tsamara sambil mendongakkan kepalanya. Ia melihat suaminya yang tampak cengar-cengir.
__ADS_1
"Kenapa? Kita kan sudah menikah. Tidak ada alasan untuk membicarakan hal itu padamu. Kecuali kalau kita belum menikah. Ya sudah, ayo kita siap-siap. Pesawat sudah mulai mendarat."
Tsamara menganggukkan kepalanya sambil mengulas senyum. Ia benar-benar tidak percaya, bahwa suaminya akan memberinya kejutan seindah itu.