Gagal Menikah Gara-gara Gendut

Gagal Menikah Gara-gara Gendut
57. Panas dingin karena Tsamara


__ADS_3

"Huft. Akhirnya selesai juga." Gumam Anggara sambil menjatuhkan tubuhnya di atas sofa.


Jangan di tanya lagi soal penampilannya. Jasnya sudah ia lepas sejak awal, celana dan kemejanya juga sudah di gulung. Kemejanya bahkan sampai basah karena keringat yang membanjiri tubuhnya. Ikat pinggangnya yang menyesakkan perut pun sampai ikut di lepas.


Setengah hari berada di rumah Tsamara benar-benar membuat Anggara tersiksa. Tidak hanya tersiksa secara fisik, tapi juga secara psikis.


Fisiknya lelah karena mengerjakan pekerjaan. Sedangkan psikisnya tersiksa karena tak tahan melihat lenggak-lenggok badan Tsamara saat membantunya membersihkan rumah.


Rasanya ia ingin menelan gadis itu hidup-hidup. Pesonanya sungguh tidak tertandingi. Hingga senjatanya tegak berdiri sejak tadi sampai sekarang


Tsamara mengintip Anggara dari balik kongliong. Gadis itu menyunggingkan senyum sinis, karena benar-benar puas bisa mengerjai Anggara.


"Ini belum seberapa. Lihat saja nanti, kejutan-kejutan dari ku. Yang akan membuat kamu menggelinjang bak cacing kepanasan." Gumam Tsamara penuh kebencian.


Gadis itu segera berlalu ke dapur. Mengambil air minum, lalu menyuguhkan pada Anggara.


"Mas, ini minumannya di minum dulu. Pasti kamu kehausan." Ucap Tsamara sambil meletakkan segelas air putih di meja. Sengaja ia mengambil posisi duduk lesehan, seperti pembantu dalam rangka menjalankan aksinya.


Anggara yang setengah lier karena kecapekan, berusaha membuka mata saat disuguhi minuman. Ia melihat air putih yang dihidangkan Tsamara.


'Ah, memang tidak ada sirup, soft drink atau apa gitu? Masa cuma air putih saja.' batin Anggara kesal.

__ADS_1


Tsamara memang sengaja hanya memberi air putih. Terlalu sayang gulanya jika di pakai untuk menyuguh tamu yang memiliki kelakukan buruk seperti Anggara.


Anggara pun mengulurkan tangannya hendak mengambil air putih itu. Tapi matanya membulat, manakala menangkap buah melon Tsamara yang tanpa pembungkus.


Tadi gadis itu memang sengaja melepas bra-nya. Agar bisa lebih membuat Anggara tersiksa.


Kaos yang di pakainya juga cenderung tipis, dan kerah bulatnya potongannya terlalu ke bawah. Sehingga garis dadanya juga semakin terlihat jelas.


Itu benar-benar pemandangan yang menyesakkan celananya. Bahkan model papan atas pun kini tidak ada apa-apanya jika dibandingkan Tsamara.


"Mas, kenapa hanya di pegang saja. Diminum dong. Atau, kamu tidak suka ya minum air putih? Padahal air putih itu baik lho untuk kesehatan." Jelas Tsamara dengan suara yang sedikit gemulai. Dan hal itu sukses semakin membuat Doni kelabakan.


"Iya, sayang." Balas Doni dengan suara parau. Karena menahan gejolak di dada.


Tsamara diam-diam melirik dan melihat, wajah merah Anggara yang bak kepiting rebus itu. Ia berusaha menahan tawa dalam hatinya. Karena puas mengerjai mantan calon suami.


'Sukurin! Tersiksa kan matamu, melihat liku-liku tubuh ku. Makanya jangan macam-macam jadi laki. Pembalasan wanita yang tersakiti itu, jauh lebih hebat dari ilmu dukun.' batin Tsamara dengan berapi-api.


"Mas, aku tinggal ke belakang dulu ya. Sebentar lagi, kita kan mau menjemput Soffin."


"Sebentar lagi?" Ulang Anggara, dan Tsamara menganggukkan kepalanya.

__ADS_1


"Tapi aku ingin berduaan dengan mu."


"Itu bisa lain kali. Karena urusan adikku jauh lebih penting. Hanya keluarga ku saja yang mau menerima ku apa adanya."


"Siapa bilang hanya keluarga mu saja yang menerima mu apa adanya? Aku juga menerima mu apa adanya kok.


"Ah, kebalik mas kata-kata mu itu. Kalau kamu menerima ku bukan apa adanya. Tapi ada apanya. Duh, malu aku mas, bau asem seperti ini. Aku mandi dulu ya."


Anggara benar-benar di buat mati kata, oleh ucapan Tsamara yang memang ada benarnya itu. Gadis itu segera bangkit dari duduknya. Tapi pergelangan tangannya dengan cepat di cekal oleh Anggara.


"Tunggu. Aku ikut."


Tsamara terkekeh, sebelum akhirnya menjawab.


"Rumah ini kecil. Kamar mandinya cuma ada satu. Jadi kalau mau pakai harus gantian. Lalu, siapa yang mau mandi duluan? Aku, atau kamu."


"Tidak bisakah kita mandi bersama?"


"Memang kamar mandi ku kolam renang? Ya sudah, kalau begitu aku mandi duluan saja." Tsamara melenggang pergi menuju kamar mandi.


"Ah, sial-sial! Kenapa bisa dulu aku melepaskannya begitu saja. Kalau tidak melepaskannya, setiap hari aku bisa nununana dengannya setiap hari. Lalu kalau sudah begini, aku juga yang menyesal." Anggara menjambak rambutnya frustasi.

__ADS_1


"Senjata ku sejak tadi juga sudah tegak. Menyiksa sekali rasanya, karena tidak ada tempat untuk melepaskan nya." Anggara terus meracau tidak jelas. Membuat Tsamara semakin bersemangat untuk membalaskan dendam nya.


__ADS_2