Gagal Menikah Gara-gara Gendut

Gagal Menikah Gara-gara Gendut
145. Memulai usaha


__ADS_3

Pagi hari di tempat yang berbeda dan jauh dari keluarga, Tsamara dan Thoriq telah bangun dari tidurnya. Keduanya juga telah menyelesaikan sarapan paginya.


Setelah memastikan segala sesuatunya tidak ada yang terlewat, keduanya berangkat menuju bandara.


Tanpa di minta Tsamara melingkarkan tangannya di lengan suaminya. Keduanya tampak mesra sekali, meskipun itu di dalam taksi atau pun di dalam pesawat.


"Kamu yakin kan, meninggalkan pulau ini?" Tanya Thoriq memastikan, sebelum pesawat lepas landas.


Tsamara yang tadi melihat keadaan sekitar dari jendela, kini mengalihkan pandangannya menatap suaminya.


"Yakin dong. Keluarga kita kan ada di sana. Masa kita mau di sini terus. Kecuali nanti ada rezeki lagi. Bisa kita mengagendakan untuk datang lagi."


"Do'akan saja, semoga suamimu ini senantiasa dilancarkan rezekinya. Sehingga kita bisa mengunjungi tempat-tempat yang indah di dunia ini." Thoriq meletakkan tangannya di atas tangan Tsamara.


"Tentu." Balas Tsamara dengan senyuman.


Tak lama kemudian, pesawat pun mulai mengudara.


**


Di sebuah rumah kontrakan, sejak beberapa hari lalu Olive dan Anggara berlatih menggunakan alat-alat laundry.


Alat-alat laundry itu mereka beli second dari sebuah laundry yang sudah tutup, dan kebetulan ditawarkan secara online dalam sebuah market place.


Sudah beberapa kali mereka menggunakannya, dan terlihat sudah cukup mahir.


Kini, keduanya sudah resmi membuka usaha laundry. Di depan rumahnya, mereka pasang sebuah spanduk yang besar. Agar orang yang kebetulan lewat di depan rumahnya, mengetahui.


Tidak hanya itu saja, keduanya juga membuat brosur dan menyebarkan pada tetangga kanan kiri sekitar tempat tinggalnya.


Selama tiga hari membuka usaha laundry, belum ada seorang pun yang mendekat.


Putus asa tentu saja keduanya rasakan. Karena mereka belum memiliki mental yang kuat untuk menjadi seorang pebisnis. Meskipun papanya sebenarnya juga adalah seorang pebisnis.


Bahkan keduanya terlihat saling menyalahkan satu sama lain.


Olive tidak terima jika barang-barang limited edition nya sudah di jual dan uangnya digunakan untuk modal usaha, tapi justru tidak berhasil.


Sedangkan Anggara, juga tidak terima disalahkan. Karena ia hanya memberi usul dan awalnya Olive juga menyetujuinya.


Untunglah keributan seketika berhenti, ketika seorang tetangga warga sekitar datang dan membawa dua tas besar.


"Mbak, saya mau laundry." Ucap ibu-ibu yang baru saja datang itu.


Olive dan Anggara sangat berbinar wajahnya. Lalu cepat-cepat menganggukkan kepalanya.


"Iya, Bu." Balas keduanya, lalu Olive segera menimbang semua baju-baju itu.

__ADS_1


"Ini ya Bu, nota pengambilannya. Terima kasih." Ucap Olive, sambil menyerahkan selembar kertas pada ibu di depannya.


"Iya, mbak. Sama-sama."


"Biar aku saja yang mencucinya. Kamu di sini saja. Siapa tahu ada pengunjung yang datang lagi. Atau kerjakan pekerjaan lainnya yang ringan. Jaga kandungan mu." ucap Anggara sebelum berlalu ke belakang.


Olive tersenyum jika melihat perhatian yang ditunjukkan oleh Anggara. Padahal baru saja keduanya bertengkar dan saling menyalahkan.


Sambil duduk, Olive memainkan handphonenya. Ia coba-coba mengiklankan di market place. Siapa tahu, ada satu dua orang yang membutuhkan jasanya.


Sambil menunggu pengunjung, Olive menyibukkan diri dengan kegiatan lainnya.


Setelah sekian menit berlalu, datang seorang ibu-ibu yang memasuki pekarangan rumahnya. Olive yang melihat kedatangannya, menyambutnya dengan senyum ramah.


"Silahkan, Bu. Ada yang bisa saya bantu?"


"Ini, mbak. Saya mau laundry, tapi besok harus jadi bisa ngga? Ada beberapa pakaian yang harus di pakai besok. Kalau sudah jadi, tolong sekalian antar ke rumah saya. Dekat kok dari sini. Mbak ikuti saja jalan ini, lurus ke selatan habis itu belok kiri, lurus sedikit sampai ketemu perempatan. Nah rumah saya dekat perempatan itu, catnya warna orange. Atas nama ibu Amel."


Sesaat Olive terdiam sambil garuk-garuk kepala. Karena ia di situ hanyalah seorang pendatang baru. Bukan penduduk asli situ. Jika menolak, takut akan berimbas pada usaha yang sedang dirintisnya.


"Baik, Bu. Akan saya usahakan untuk kenyamanan pelanggan."


"Terima kasih. Oh iya, save saja nomor saya. Kalau masih bingung juga saat mengantar, kamu bisa telepon saya."


"Ah, iya. Saya rasa itu jauh lebih baik, bu. Berapa nomor teleponnya?" Tanya Olive dengan bersemangat.


"Ada yang datang lagi?" Tanya Anggara terlihat bersemangat. Olive pun menganggukkan kepalanya.


"Kalau begini, aku jadi semangat mencuci bajunya." Gumam Anggara, sambil mengeluarkan baju-baju yang sudah di cuci dari mesin cuci.


**


Hari sudah sore, Olive mengangkat jemurannya. Lalu meletakkan baju-baju itu di dekat tempat menggosok.


"Biar aku saja Liv, yang menyetrika bajunya. Kamu masak saja buat makan malam nanti." Olive menurut saja ucapan suaminya. Lalu ia pun pergi ke dapur.


Biasanya keduanya makan makanan yang serba enak dengan lahap, tanpa perlu repot-repot memasak. Jika makanan yang dihidangkan asisten rumah tangganya tidak enak, keduanya langsung marah-marah.


Tapi kini hal itu tidak terjadi lagi. Anggara memaklumi jika terkadang masakan yang dibuat Olive, rasanya kurang pas. Terdorong rasa lapar, ia bahkan bisa menghabiskan makanannya.


**


Hari sudah berganti malam. Olive dan Anggara telah menyelesaikan tugas masing-masing.


Kini keduanya berkumpul di meja makan. Di hadapannya ada nasi, tempe dan tahu goreng, sayur bayam jagung dan sambal.


Anggara dan Olive menuang menu makanan itu ke piring masing-masing.

__ADS_1


"Enak sekali masakan mu, Liv." Puji Anggara, sambil mengunyah makanannya.


Olive yang sedang mengaduk makanannya, tampak mengernyitkan dahi.


"Kamu mau mengejekku?" Olive justru membalas pujian yang dilontarkan suaminya dengan ketus. Karena selama ini Anggara tidak pernah memujinya.


"Aku tidak bohong, Liv. Coba kamu makan punyamu, jangan di aduk saja." Cerocos Anggara dengan mulut yang penuh dengan makanan.


Olive pun menyuap makanan ke mulutnya. Kali ini rasa masakannya memang benar-benar enak. Pantas saja suaminya memujinya.


Setelah selesai makan malam, Anggara membersihkan sisa makanan dan mencuci piring. Sedangkan Olive membersihkan diri, lalu ke kamarnya.


Ibu hamil itu kini tengah duduk di tepi ranjang sambil mengusap perut buncitnya lembut. Rasa sayang pada buah hatinya mulai tumbuh.


Ia menyesal, dulu terlalu mengedepankan ambisinya demi meraih sesuatu. Sehingga ia tidak bisa merasakan hidup bahagia.


Ia pun menyadari, jika butuh keikhlasan dan kesabaran untuk meraih kebahagiaan.


Setelah tinggal terpisah dengan kedua orang tua dan belajar hidup mandiri. Perlahan Olive bisa menemukan kebahagiaan itu.


Seperti beberapa hari yang telah dilaluinya bersama sang suami. Dulu keduanya sama-sama egois dan keras kepala. Saling menghujat kekurangan masing-masing.


Tapi kini, Anggara tampak bertambah dewasa. Ia mau membantu mengerjakan tugas rumah dan konsekuen dengan usaha laundry nya.


Di tengah-tengah Olive yang tengah asyik melamun, Anggara datang dan merebahkan tubuhnya di sampingnya.


"Kamu capek? Mau aku pijitin?" Tawar Olive.


Anggara yang baru memejamkan matanya, kini menoleh dan menatapnya.


"Tumben."


"Ish, aku begini karena kamu juga baik denganku. Kalau kamu ngga perhatian denganku, mana mau aku baik denganmu." Olive mengerucutkan bibirnya sambil memukul lengan suaminya. Sebelum akhirnya ia mulai memijit badan suaminya.


"Sudah cukup memijitku. Tidurlah di sini. Aku ingin memelukmu." Tangan Anggara menarik pergelangan tangan Olive. Lalu merebahkan tubuhnya pelan di sampingnya.


"Kamu sedang tidak membayangkan aku sebagai wanita itu kan?"


"Liv, kita ini sudah niat berubah. Jangan berpikir macam-macam tentang masa lalu kita."


Sesaat Olive menelisik mata dan wajah Anggara, mencari kejujuran yang tercipta di sana.


"Apa kamu bisa melayaniku malam ini. Aku janji tidak akan membayangkan wanita itu lagi." Pinta Anggara.


Semenjak pindah ke rumah kontrakan, memang pasangan suami-istri itu tidak pernah melakukan hubungan suami-istri.


Olive yang melihat perubahan suaminya, malam itu menganggukkan kepalanya. Lalu dengan ikhlas melayani suaminya.

__ADS_1


__ADS_2