Gagal Menikah Gara-gara Gendut

Gagal Menikah Gara-gara Gendut
85. Pesan singkat


__ADS_3

Keluarga Anggara datang ke rumah Olive untuk mengadakan pertemuan keluarga. Sesampainya disana, seorang asisten rumah tangga membukakan pintu untuk mereka.


Keluarga itupun duduk di sofa ruang tamu sambil menunggu sang pemilik rumah. Mereka mengedarkan pandangannya ke setiap sudut ruangan, dan selalu merasa bangga, akan berbesan dengan keluarga yang cukup kaya raya.


Tak lama kemudian, kedua orang tua Olive berjalan menuruni anak tangga. Belum juga keduanya sampai di anak tangga bawah, Olive terlihat menyusul kedua orang tuanya.


Kini sang pemilik rumah itu sudah duduk, dan saling berhadapan dengan keluarga Anggara.


"Mari kita mulai acara pada malam hari ini." Ucap pak Sanusi.


Pak Anwar terkekeh kecil mendengar ajakan pria dihadapannya.


"Apakah kalian tidak menyuguhkan sesuatu untuk kami?" Tanya pak Anwar.


"Kami tidak mau repot. Menikahkan anak kami dengan anakmu saja sudah membuat kami kerepotan." Pak Anwar mencibirkan bibirnya, ketika mendengar jawaban pak Sanusi.


"Okaylah, tidak apa-apa." Pak Anwar menghela nafas panjang, walaupun sebenarnya jengkel juga dengan sikap calon besannya itu.


"Kapan kita akan menggelar resepsi pernikahan untuk anak-anak kita?" Pak Anwar mulai membuka obrolan pada malam hari itu.


Setelah dua jam terlewati akhirnya mereka dapat mengambil sebuah kesimpulan. Acara pernikahan akan diadakan sebulan lagi. Karena bagaimana pun juga, Olive adalah anak satu-satunya pak Sanusi.


Seluruh urusan pernikahan, mulai dari catering, WO, MUA, dan lain sebagainya yang mengurus adalah keluarga pak Sanusi. Keluarga Anggara tidak mengeluarkan uang sepeser pun juga. Meskipun jengkel, pak Sanusi lakukan agar anaknya tidak hamil tanpa suami.


**


Di tempat lain, Tsamara tengah menemani adiknya belajar. Tiba-tiba handphone yang ada didekatnya bergetar.


Dahinya mengernyit ketika melihat nomor tak dikenal mengirimnya pesan singkat. Ia pun membaca dengan seksama pesan itu. Tak lama kemudian, senyum melengkung di wajah cantiknya.


"Kenapa kak Tsa senyum-senyum sendiri?" Tanya Soffin, yang melihat perubahan di wajah kakaknya.


"Eh, ini Sof. Rasanya kakak tidak menyangka, jika novel kakak akan diangkat lagi ke layar lebar."


"Oh ya, bagus dong kak."

__ADS_1


Tsamara menganggukkan kepalanya pada adiknya.


Baru saja ia membalas pesan itu, satu pesan kembali masuk ke WhatsApp nya.


"Soffin!" Seru Tsamara, hingga membuat adiknya yang ingin kembali mengerjakan tugasnya berjingkat kaget.


"Ada apa kak?"


"Kakak diundang sebuah stasiun televisi." Ucap Tsamara dengan binar wajah bahagia.


"Apa? Soffin ikut kak." Adik bungsu itu menggoyangkan lengan tangan kakaknya.


"Iya, tentu kamu, Farah dan papa, akan kakak ajak jika syuting nanti."


"Yei. Hore." Seru Soffin kegirangan.


Mata Tsamara berkaca-kaca, karena Tuhan begitu baik padanya.


"Tsamara, Soffin. Ayo makan malam dulu." Ucap papa sambil berdiri diambang pintu kamar.


"Ayo, kak. Kita makan dulu. Jangan menangis melulu. Harusnya kan bahagia."


Tsamara menganggukkan kepalanya, lalu menghapus butiran air mata yang sempat menetes melewati pipi mulusnya.


"Kak Tsa menangis?" Tanya papa, sambil berjalan mendekati putri sulungnya.


"Ada apa, Tsa?"


"Ini, pa. Tsamara dapat tawaran wawancara di sebuah stasiun televisi."


"Ambi peluang itu. Papa dukung kamu." Dengan mantap pak Abas menjawab. Bahkan disertai dengan menjentikkan ibu jari dan telunjuknya. Sehingga menimbulkan suara yang keras.


"Terima kasih, pa. Papa selalu mengijinkan Tsamara melakukan apa saja." Ucap gadis itu dengan wajah yang berbinar.


"Tidak hanya kamu saja, Tsa yang papa dukung. Tapi semua anak-anak papa, jika mempunyai suatu cita-cita, pasti akan papa dukung. Karena sebagai orang tua, hanya itu yang bisa papa lakukan."

__ADS_1


Tsamara tersenyum dan memeluk papanya. Ia begitu bahagia memiliki papa yang sangat baik, seperti pak Abas.


Pantas saja mamanya begitu mencintainya. Begitu juga sebaliknya, papanya juga sangat mencintai mamanya.


"Sudah, jangan menangis. Nanti papa juga ikutan menangis. Ayo kita makan malam dulu. Papa sudah memasak menu diet yang enak untukmu."


Tsamara menganggukkan kepalanya sambil menyunggingkan senyum. Mereka pun berjalan beriringan menuju dapur.


**


"Hallo, mas. Aku ingin makan siang keluar. Jemput aku sekarang." Ucap Olive, melalui panggilan telepon pada Anggara.


"Tapi aku masih ada kerjaan yang harus aku selesaikan, Olive."


"Tidak ada tapi-tapian, ini anak kamu yang minta. Memang kamu mau anak kita jadi sering ecesan, gara-gara papanya tidak menuruti permintaannya?"


"Tidak! Aku saja sangat tampan, masa memiliki anak yang ecesan." Anggara langsung bergidik ngeri, walau hanya membayangkannya saja.


"Makanya, cepet jemput aku."


"Okay, tunggu ya."


Anggara langsung mematikan teleponnya secara sepihak. Setelah itu, menyambar kunci mobilnya dan berlari keluar.


"Anggara, mau kemana kamu." Tanya pak Anwar menghentikan langkah kaki anaknya.


"Makam siang dengan Olive, pa."


"Jangan sampai telat kembali ke kantor."


"Yaelah, pa. Berangkat saja belum, sudah diwanti-wanti."


"Karena kamu tipe laki-laki yang tidak bisa on time."


Anggara membuang nafas kasar, lalu berlalu pergi, tanpa mengiyakan permintaan papanya.

__ADS_1


__ADS_2