Gagal Menikah Gara-gara Gendut

Gagal Menikah Gara-gara Gendut
116. Paket untuk Anggara


__ADS_3

"Permisi, mas. Ini ada paket." Ucap security, sambil menyerahkan sebuah kotak coklat pada Anggara yang baru saja pulang keluar dari mobil.


"Perasaan aku tidak belanja online." Gumamnya sambil menerima paket itu.


Pria itu meletakkan tas kerjanya di lantai, lalu duduk di kursi yang ada di teras rumahnya, dan mulai membuka paket yang ada di tangannya.


Matanya membulat, ketika melihat gambar siapa yang tertera di selembar kertas tebal itu.


"Tsa-tsamara. Dia akan menikah?" Gumamnya terbata.


Tangannya bergerak pelan mengambil kertas itu dan perlahan membukanya. Lalu membaca dengan seksama setiap deretan tulisan.


"Ja-jadi dia akan menikah dengan laki-laki itu? Kenapa dia tega melakukan ini padaku? Harusnya Tsamara menjadi milikku." Gumamnya sambil terisak.


"Hei, kenapa kamu menangis?" Tanya pak Anwar, yang baru saja pulang dari kantor. Ia melihat wajah anak laki-lakinya yang sungguh jelek karena menangis.


Meskipun tinggal serumah, keduanya tidak berangkat bersama. Karena sejak menikah, Anggara sering bangun kesiangan dan akan pulang lebih awal. Alasannya kecapekan, karena setiap malam masih lembur berdua dengan Olive.


Karena tak kunjung di jawab, pak Anwar perlahan mengambil selembar kertas yang ada di kotak itu. Sama halnya dengan anaknya, ia juga terkejut ketika melihat dan membaca isi undangan itu.


"Dia akan menikah?" Desisnya.


"Bagaimana ini, pa. Tsamara akan menikah."

__ADS_1


"Ya sudah, kita akan datang."


"Lhoh, papa ngga kasian dengan Anggara. Kehilangan wanita cantik seperti Tsamara?"


"Ya mau bagaimana lagi? Toh kamu juga sudah menikah duluan. Memang kamu mau memiliki dua orang istri?"


Anggara menganggukkan kepalanya.


"Dasar, mengurus satu orang istri saja tidak becus. Bagaimana mau mengurus dua orang istri?" Pak Anwar memukul kepala anaknya dengan kertas undangan yang ia bawa, dan berlalu pergi.


Anggara segera menghapus air matanya kasar, lalu mencoba menghubungi Tsamara. Namun, berulang kali ia menelpon, tetap tidak di angkat. Bergegas ia mengirimi gadis itu pesan, tapi berakhir dengan ceklis satu.


"Arghhh... Kenapa sial sekali hidupku." Teriak Anggara, dan berniat membanting handphonenya. Namun hal itu ia urungkan, karena terlalu sayang, jika handphonenya rusak.


**


Keluarga Tsamara telah pindah ke rumah utamanya, yang tentu jauh lebih besar, agar bisa menampung lebih banyak tamu undangan.


Meskipun dulu pernah gagal menikah, dan terlanjur membuat pesta pernikahan yang megah, tapi tidak menyurutkan niat pak Abas untuk kembali menggelar pesta pernikahan yang lebih megah lagi.


Terbukti dengan kediamannya yang telah di hias beberapa hari sebelum pesta pernikahan di gelar. Beberapa anak buah pak Abas, juga terlihat berjaga-jaga untuk memastikan kesterilan tempat acara.


Sebagai seorang pengusaha, tentu akan ada beberapa orang yang tidak menyukainya. Entah itu tetangga, rekan bisnis atau orang lain yang tidak ia kenal sekali pun.

__ADS_1


Bahkan walaupun ia sudah berbuat baik sekali pun, tetap hal itu akan terjadi. Karena sejatinya baik buruknya kita, tetap akan ada orang yang membicarakan di belakang kita.


Papa dari Tsamara itu yakin, jika Thoriq adalah pemuda yang tepat untuk putri sulungnya. Ia telah melihat sepak terjang calon menantunya itu dalam segala bidang.


Seperti dalam dunia bisnis, dalam dunia pendidikan dan bidang lainnya. Bahkan Soffin, putra bungsunya juga sangat nyaman berada di dekatnya.


Setelah menghadiri acara pernikahan di tempat Anggara, Tsamara tidak pernah lagi keluar rumah. Layaknya adat di tempatnya, ia menjalani masa pingitan. Dimana, ia tidak akan keluar sebelum hari pernikahannya terlaksana.


**


Sejak pagi tadi, tampak kesibukan di rumah Tsamara. Karena malam nanti akan diadakan acara malam Midodareni.


Sedangkan di kamarnya, Tsamara tengah duduk di dekat jendela. Hatinya begitu deg-degan, karena malam nanti ia akan bertemu dengan Thoriq, setelah sekian waktu tidak bertemu dengannya. Bahkan keduanya juga tidak berhubungan sama sekali, walaupun hanya sekedar mengirim pesan.


Di tengah keheningan itu, Soffin dan Farah masuk ke kamarnya bersamaan. Sehingga membuat Tsamara terkejut.


"Kakak." Seru keduanya, sambil berlari kecil mendekatinya.


"Kalian kenapa mengejutkan kakak sih?"


"Cie, yang baru kasmaran. Padahal nanti malam mau bertemu dengan kak Thoriq." Goda Farah, yang membuat Tsamara tersipu malu.


Mereka bertiga bercanda tawa, sebelum Tsamara melepas masa lajangnya.

__ADS_1


__ADS_2