Gagal Menikah Gara-gara Gendut

Gagal Menikah Gara-gara Gendut
152. Akhirnya bertemu Anggara


__ADS_3

Pak Sanusi melangkah memasuki pekarangan rumah Olive. Lalu ia masuk ke dalam rumah begitu saja tanpa mengucapkan salam. Sehingga membuat Olive, Anggara dan mama yang tengah berkumpul di ruang makan terkejut dengan kehadirannya.


"Papa?" Gumam mereka bertiga kompak.


"Jadi, mama selama ini diam-diam pergi kesini ya."


"I-iya, pa. Habis mama kangen dengan Olive. Apalagi dia anak satu-satunya kita."


"Kalau hanya sekedar kangen dan ingin bertemu tidak apa-apa, ma. Tapi kalau mama sering memberi mereka makanan, justru bisa merusak niat mereka untuk berlatih hidup mandiri."


"Mama cuma sesekali saja membawakan mereka makanan kok, pa. Soalnya mama kasian melihat mereka kerepotan menjalankan usaha laundry. Jadi tidak apa-apa sesekali membawakan keduanya makanan. Apalagi perut Olive juga semakin bertambah besar."


Pak Sanusi menghela nafas panjang. Ia ingin melihat anak dan menantunya berjuang lebih lama lagi. Tapi istrinya justru merusaknya.


"Ya sudah, terserah mama saja deh. Yang penting, jangan sering-sering memberi mereka fasilitas. Bukannya papa benci dan pelit sama mereka. Tapi kembali lagi ke niat awal, berubah menjadi lebih baik." Setelah berkata seperti itu, pak Sanusi pergi.


Olive dan Anggara merasa tidak enak, karena gara-gara dirinya, mama jadi kena marah oleh papanya.


"Kalian tenang saja, papa sudah tidak marah dengan kalian. Yang penting kalian terus semangat menjalani usaha. Jaga kondisi badan juga, kalau capek ya istirahat dulu."


"Iya, ma." Balas Anggara dan Olive bersamaan, demi melegakan hati mamanya.


Karena pekerjaan sudah menumpuk, Anggara segera kembali ke ruang laundry, untuk mengerjakan tugasnya. Mama dari Olive pun ikut turun tangan membantu mengerjakan pekerjaan anaknya.


Sebenarnya Olive dan Anggara sudah melarangnya, tapi mama tetap bersikukuh. Akhirnya keduanya mengalah dan membiarkan mama membantu pekerjaannya.


**


Malam itu pak Anwar tidur dengan pulas. Kebetulan Mama menggeliat bangun, karena ingin buang air kecil.


Ketika melihat handphone suaminya ada di atas meja nakas, muncul sebuah niat dalam hatinya. Dengan mengendap-endap, ia mengambil handphone itu lalu mencari nomor Anggara.


Setelah berhasil menyalin nomornya, ia mengembalikan handphone itu pada posisi semula. Senyum lega melengkung di bibirnya.


'Yes, akhirnya aku bisa menghubungi Anggara.' batin mama berseru kegirangan.


Setelah Anggara pergi meninggalkan rumah, pak Anwar memang sengaja menghapus nomornya dari daftar kontak istrinya. Sehingga mama tidak bisa menghubunginya untuk sekedar bertanya kabar.


Keesokan harinya, setelah pak Anwar berangkat kerja, mama menghubungi Anggara.


"Hallo, ma." Sapa Anggara dari seberang sana.

__ADS_1


"Anggara." Balas mama sambil terisak.


"Kamu di mana? Kenapa tidak pernah menghubungi mama?"


"Anggara tinggal di rumah kontrakan dengan Olive, ma. Kami baik-baik saja. Bagaimana dengan mama?"


"Dasar anak bodoh, tentu saja mama kangen denganmu. Kami mengontrak di mana? Kenapa tidak tinggal di rumah Olive saja?"


"Kami memutuskan untuk hidup mandiri, ma. Agar tidak menjadi tanggungan kalian."


Mama tidak bisa membendung air matanya, ia terenyuh mendengar penjelasan anaknya. Ia pikir selama ini anaknya tidak menghubungi atau mengunjunginya karena sudah nyaman tinggal di rumah mertuanya. Tahunya malah tinggal di rumah kontrakan.


"Apa Olive bisa memasak, mencuci baju, membersihkan rumah..."


"Olive dan Anggara sekarang bisa melakukan semuanya, ma. Tenang saja, susah dan senang kami lewati bersama. Kalau kita tidak bisa bersyukur dengan pemberian Tuhan, bisa jadi Tuhan lebih murka dan justru menimpakan suatu masalah yang jauh lebih besar dari ini."


Bergetar bibir mama, karena mendengar penjelasan anaknya. Tumben sekali anaknya bisa berkata bijak seperti itu. Ia tergelitik untuk bertemu dengannya.


"Kirim alamat rumah kontrakan mu. Mama akan kesana sekarang." Setelah itu, mama pun langsung mematikan teleponnya. Dan Anggara mengirimkan alamat rumah pada mamanya.


Seperti yang dilakukan oleh mamanya Olive, mamanya Anggara juga membawa bekal makanan lengkap beserta sayur dan lauknya, untuk Anggara.


Menempuh satu jam perjalanan, akhirnya ia tiba di rumah bercat hijau, yang terdapat spanduk laundry berukuran besar.


"Apa mereka buka laundry?" Gumamnya sambil mengernyitkan dahi dan mengamati rumah di hadapannya.


Karena di ruang laundry tidak ada orang, maka mamanya Anggara tidak bisa mengetahui apakah itu benar rumah kontrakan Anggara atau bukan. Ia pun menelepon anaknya, tapi nomornya malah tidak aktif.


"Kemana sih, tuh anak." Gumamnya, lalu ia pun turun dari mobil.


Baru saja ia ingin mengetuk pintu, pintu itu sudah terbuka lebih dahulu. Sehingga membuat mama terkejut dan mengusap dadanya.


"Anggara." "Mama." Ucap mama dan Anggara bersamaan. Keduanya lalu berpelukan untuk beberapa saat.


"Jadi kamu benar mengontrak di rumah ini?" Tanya Mama setelah mengurai pelukan dan memindai ruang tamu.


"Iya, ma. Ayo masuk."


"Tunggu sebentar, mama balik ke mobil dulu."


Mama pun balik ke mobil untuk mengambil makanan yang tadi ia bawa dari rumah. Sedangkan Anggara kembali melanjutkan pekerjaannya menyapu rumah.

__ADS_1


Tak lama kemudian, mama sudah kembali sampai teras. Anggara pun mempersilahkannya masuk.


"Kemana istrimu?"


"Sedang masak, ma."


"Masak?"


"Iya, Anggara panggilkan dulu ya, ma." Anggara bangkit dari duduknya dan hendak berjalan ke arah dapur. Namun mama menahannya.


"Tidak usah, mama penasaran dia sedang memasak apa." Mama pun bangkit berdiri dan berjalan beriringan dengan Anggara menuju dapur.


Terlihat menantunya itu tengah menghapus peluh yang menetes di wajahnya dengan sebelah tangannya. Sedangkan tangan yang satunya mengaduk masakan yang ada di dalam panci.


"Kamu sedang masak apa, Liv?" Tanya mama yang membuat Olive terkejut, lalu ia menoleh.


"Mama."


Ibu hamil itu menghentikan aktivitasnya, lalu membersihkan tangannya dengan baju daster yang ia kenakan sebelum mengulurkan tangan untuk bersalaman dengan ibu mertuanya.


Tidak hanya menerima uluran tangannya, mereka berdua juga saling berpelukan.


"Maafkan mama dulu menyuruhmu untuk mengerjakan pekerjaan rumah. Sehingga kamu tidak betah tinggal di rumah mama dan memilih pergi. Mama pikir kalian hidup bahagia di rumah mu, ternyata justru tinggal di rumah kontrakan."


"Tidak apa-apa, ma. Justru Olive mengucapkan terima kasih, karena mama telah mengajari Olive mengerjakan pekerjaan rumah. Jadi sekarang kami sudah terbiasa mengerjakan semuanya sendirian."


"Perut mu sudah besar sekali, sudah berapa bulan?" Mama mengusap perut buncit Olive.


"Empat bulan lebih, ma."


"Jangan terlalu kecapekan. Kasian bayi dalam kandunganmu."


"Iya, ma."


"Oh, iya. Tadi mama bawakan sayur dan lauk. Kalian makan dulu gih."


"Tunggu sebentar, ma. Tanggung, sebentar lagi sayur yang Olive buat juga hampir matang."


Di sela-sela pembicaraan mereka, terdengar suara seseorang yang berasal dari ruang laundry.


"Anggara ke depan sebentar, ma. Sepertinya ada orang yang mau laundry." Suami dari Olive itu segera berjalan cepat menuju ruang laundry. Mamanya senang melihat anak dan menantunya yang tampak berubah, dan usahanya bisa berjalan.

__ADS_1


__ADS_2