
Meskipun sudah dibangunkan Thoriq beberapa kali, tetap saja Tsamara hanya mengerjapkan matanya pelan, lalu kembali menutup matanya.
Mungkin karena gempuran yang dilakukan suaminya semalam, sehingga membuatnya seperti itu. Akhirnya Thoriq membiarkan istrinya tidur sementara waktu. Sedangkan dirinya yang sudah bangun duluan, segera membersihkan diri sebelum ibadah pagi.
Selesai mandi dan beribadah, Thoriq kembali membangunkan Tsamara. Namun hasilnya tetap sama.
Pria itu pasrah, dan akhirnya kembali merebahkan diri di samping istrinya. Ia betah berlama-lama memandang wajah cantik istrinya. Meskipun Tsamara tanpa polesan make up.
Tak hanya memandang, ia juga mengusap bagian wajahnya. Mulai dari bibir, alis, pipi dan sebagainya. Hingga membuat sang pemilik wajah mulai merasa terganggu.
"Hah!"
Tsamara begitu terkejut dan spontan membulatkan matanya, mulutnya juga menganga. Kedua tangannya menarik selimut untuk menutupi tubuhnya.
"Ka-kak Thoriq?" Ucapnya dengan terbata.
"Kenapa kamu ketakutan seperti itu?" Thoriq mengernyitkan dahi sambil menatap istrinya.
"Apa yang sudah kakak lakukan di kamar ku?"
"Apa yang sudah aku lakukan?" Ulang Thoriq.
Belum sempat ia menjawab, Tsamara sudah meringis kesakitan karena langsung duduk.
"Apa yang terjadi, Tsa?"
Thoriq tampak menatap Tsamara dengan wajah panik. Sedangkan istrinya diam tidak menjawab, tapi wajahnya masih tampak meringis.
Seketika Tsamara ingat, jika tadi malam telah menghabiskan waktu cukup lama bersama laki-laki yang ada di hadapannya, yang sekarang sudah bergelar suaminya.
"Maafkan aku, kak. Aku lupa jika kita sudah menikah." Thoriq menghirup nafas sambil mengulas senyum lega.
__ADS_1
"Oh, tidak apa-apa. Mungkin itu juga salah satu hal yang wajar di alami oleh pengantin baru, karena memang belum terbiasa."
"I-iya, kak. Kamu benar. Baru kali ini aku tidur dengan seorang laki-laki."
"Sama. Aku juga baru pertama kalinya tidur dan di layani sepenuh hati oleh wanita yang baik seperti dirimu." Wajah Tsamara bersemu merah karena malu. Tak lama kemudian ia mengendus aroma wangi yang menguar dari tubuh suaminya.
"Kakak, kamu sudah mandi?"
"Sudah sejak tadi. Kamu susah sekali aku bangunkan."
"Maaf, kak. Mungkin karena acara pernikahan yang cukup lama, jadi membuatku kecapekan."
"Yakin, kecapekan karena pesta pernikahan atau karena gempuran ku semalam?"
"Karena pesta pernikahan, kak." Balas Tsamara dengan cepat, yang membuat Thoriq mengulas senyum.
"Okay, berarti boleh dong nanti malam aku minta jatah lagi?" Godanya sambil menaik turunkan alisnya.
Tentu saja hal itu membuat Tsamara syok. Dia sengaja berbohong karena tidak ingin membuat suaminya merasa bersalah, tapi yang ada ia malah minta tambah lagi.
Karena tidak enak dengan suaminya yang sudah berbau wangi, Tsamara berangsur turun dari tempat tidurnya berniat mandi.
"Biar kakak bantuin mandi."
"Hah?" Kini giliran Tsamara yang terbengong, lalu dengan refleks menyilangkan tangannya di depan dada.
"Tidak usah, kak." Balasnya sambil menggelengkan kepalanya.
"Aku, bisa sendiri."
"Apa kamu masih malu memperlihatkan tubuhmu padaku? Bukankah semalam aku telah melihat semuanya? Ya sudah, aku tidak akan memaksa. Karena semua memang butuh waktu. Tapi biar aku membantu kamu ke kamar mandi." Setelah berkata seperti itu, Thoriq mengangkat tubuh Tsamara dan melangkah menuju kamar mandi. Sehingga membuatnya berjingkat kaget.
__ADS_1
"Jangan lupa urutan mandinya." Pesan Thoriq sebelum menutup pintunya.
Di dalam kamar mandi, Tsamara duduk di atas kloset sambil senyum-senyum sendiri. Rasanya masih seperti sebuah mimpi, bahwa kini ia sudah memiliki seorang suami.
Tsamara membersihkan badannya dengan seksama, agar tidak kalah wanginya dengan sang suami. Setelah selesai mandi, ia bercermin untuk memastikan tidak ada kotoran yang tertinggal di badannya.
"Apa ini?" Gumamnya sambil meraba permukaan kulitnya yang berwarna biru keunguan.
"Arghhh. Kok sakit?"
Sejenak Tsamara mengamati beberapa tanda yang ada di beberapa bagian tubuhnya.
"Apa ini bekas gigitan, kak Thoriq?" Tsamara kembali meraba tanda biru keunguan tadi.
"Ya ampun, ternyata kak Thoriq itu jago sekali ya berhohohehe. Padahal menurutku dia pria yang cukup pendiam. Mungkin benar juga apa kata pepatah, diam-diam menghanyutkan." Tsamara terkekeh geli, dan segera berlalu keluar.
Ia mengobrak-abrik isi almari, untuk mencari kaos turtle neck. Malu rasanya jika stempel dari suaminya di lihat oleh keluarganya.
"Tsamara, kamu mencari apa?" Thoriq yang baru saja melakukan peregangan di balkon tiba-tiba masuk ke kamar, dan melihat istrinya tengah sibuk di depan almari.
"Aku cari baju, kak."
"Cari baju? Baju yang seperti apa? Biar kakak bantuin mencari." Thoriq ikut berjongkok di depan almari.
"Kaos turtle neck."
Thoriq menganggukkan kepalanya, lalu segera ikut membolak-balik tumpukan baju. Namun berulang kali keduanya mencari kaos itu, tapi tidak juga ketemu.
Tsamara mulai capek dan akhirnya terduduk di lantai. Thoriq ikut duduk di hadapannya. Ia membulatkan matanya, ketika melihat banyak tanda keunguan di badan Tsamara.
"Apa kamu membutuhkan baju itu untuk menutupi stempel yang aku berikan padamu semalam?"
__ADS_1
Tsamara spontan menutup tubuhnya dengan kedua tangannya lalu menganggukkan kepalanya.
"Maafkan aku ya."