Gagal Menikah Gara-gara Gendut

Gagal Menikah Gara-gara Gendut
92. Tiba-tiba beku


__ADS_3

Siang itu, seperti biasanya Tsamara mengantar adiknya les. Sembari menunggu adiknya menimba ilmu, ia duduk di kursi taman. Jika sudah begitu, ia lupa dengan keadaan disekelilingnya.


Maklum saja, di taman itu memang ditanam banyak bunga yang beraneka ragam jenis dan warnanya. Serta pohon mangga yang tumbuh rimbun. Semilir angin yang menyegarkan, membuat Tsamara nyaman sekali menyalurkan hobi menulisnya. Hingga ia tidak menyadari jika Thoriq memperhatikannya dengan seksama.


Pria itu berdiri bersandar tiang, sambil melipat kedua tangannya di depan dada. Ia tersenyum melihat calon istrinya sedang asyik menulis. Dengan langkah pelan, ia mendekati Tsamara.


"Serius sekali." Ucap Thoriq sambil duduk di kursi dekat Tsamara.


"Kak Thoriq."


Tsamara langsung menghentikan aktivitasnya, dan menatap calon suaminya. Terlihat pria itu menyunggingkan senyum. Sehingga gadis itupun membalas senyumannya.


Untuk sesaat keduanya saling terdiam, dengan pemikiran yang berkecamuk di kepala. Padahal, sebelum acara lamaran diadakan, keduanya setiap kali bertemu pasti banyak bicara.


Tiba-tiba keduanya merasa canggung. Sampai akhirnya, keduanya justru membuka mulut bersama.


"Kak." "Tsa."


Menyadari hal itu, keduanya pun terkekeh bersama.


"Kakak mau bicara apa?"


"Tidak. Kamu duluan, mau bicara apa?"


"Em. Aku mendadak lupa kak, mau bicara apa. Kalau kamu kak?"


"Hari pernikahan kita sebulan lagi. Aku ingin mengajakmu mencari WO, MUA, dan semuanya yang sesuai dengan keinginan mu."


"Em, kenapa semuanya harus sesuai dengan keinginanku kak?"

__ADS_1


"Karena kamu calon istriku. Semua hal yang aku lakukan, harus mampu membuatmu bahagia. Kebahagiaan istri itu berpengaruh pada kesuksesan suami."


Sungguh, memanas wajah Tsamara ketika Thoriq berkata sedemikian indah padanya. Begitu menentramkan hatinya.


Padahal ia merasa hanyalah gadis biasa, yang tidak berpendidikan tinggi. Setiap hari yang dikerjakan hanyalah pekerjaan rumah tangga.


Tapi bisa merebut hati dan begitu dicintai oleh laki-laki yang baik hati, menjadi direktur utama perusahaannya, dan segudang prestasi lainnya.


"Kalau aku terserah kakak saja yang memilih. Apapun pilihan kakak, aku pasti suka." Tsamara kembali mengukir senyum.


"Kamu kan belum tahu, bagaimana pilihanku. Kenapa sudah bisa memastikan kalau suka?"


"Kak Thoriq adalah orang yang baik. Selalu memperlakukan ku dengan istimewa, dan selalu membuatku tidak berkutik. Hal itu sudah cukup membuktikan, bahwa rata-rata semua pilihan kakak aku suka."


Thoriq terkekeh kecil mendengar penjelasan Tsamara.


"Syukurlah, kalau apa yang aku lakukan bisa membuatmu bahagia. Tapi, tidak ada salahnya juga aku mengajakmu pergi bersama, untuk memastikan tidak ada yang terlewat, karena kita pasti akan saling mengingatkan."


"Besok pagi aku jemput kamu. Kita antarkan Soffin ke sekolah dulu, baru kita jalan berdua."


"Iya kak, aku setuju. Terima kasih ya, sudah berniat mengantarkan adikku ke sekolah."


"Kenapa harus mengucapkan terima kasih? Bukankah adikmu, juga akan menjadi adikku juga? Lagian aku juga suka dengan anak-anak."


"Sama. Aku juga suka dengan anak-anak." Timpal Tsamara.


"Apakah itu artinya, kita akan memiliki banyak anak setelah menikah?" Gurau Thoriq, yang membuat Tsamara memerah kembali wajahnya.


"Hayo! Kakak pasti sedang pacaran." Ucap Soffin, mengejutkan kedua pasangan muda-mudi yang tengah dimabuk asmara itu.

__ADS_1


"Soffin! Kamu mengejutkan kakak saja."


Tsamara bersungut-sungut kesal pada adiknya, hingga mengusap dadanya. Sedangkan sang biang onar, justru terkikik. Thoriq yang juga ikut terkejut, melengkungkan senyum tipis diwajahnya, untuk menyembunyikan rasa itu.


"Kamu sudah selesai? Kok cepat sekali?" Tanya Tsamara, sambil menatap adiknya.


"Jamnya sama seperti biasanya. Tapi kalau nungguinnya sambil pacaran, ya pasti terasa lebih cepat lah." Kekeh Soffin lagi.


Bocah kecil itu memang sangat cerewet, jika sudah berbicara dengan Tsamara dan Thoriq. Sehingga kini mereka bertiga saling melempar candaan.


"Kak, maaf. Hari sudah sore, kami mau pulang dulu." Ucap Tsamara, setelah sinar matahari perlahan mulai meredup.


"Aku antarkan."


"Tidak usah. Lagian kami juga bawa sepeda onthel kok."


"Baiklah. Kalau begitu kamu hati-hati ya. Kalau ada apa-apa hubungi aku."


"Salah, kak. Kalau ada apa-apa, ya menghubungi kantor polisi dong." Sahut Soffin dengan wajah seriusnya. Sehingga membuat Thoriq dan Tsamara terkekeh kecil.


"Betul apa yang kamu katakan, Sof. Dan polisi yang khusus menjaga hatinya kak Tsamara, adalah kak Thoriq." Balas calon suaminya Tsamara, sambil senyum-senyum menatapnya.


"Cie... Cie..." Goda Soffin.


Untuk yang kesekian kalinya, Tsamara menghangat wajahnya. Tidak hanya calon suaminya, adiknya pun ikut menggodanya.


"Sudahlah. Ayo kita pulang, Sof." Ajak Tsamara sambil menarik pergelangan tangan adiknya.


"Tsa. Jangan lupa besok lagi, aku akan menjemputmu." Teriak Thoriq, untuk mengingatkan.

__ADS_1


Calon istrinya pun menoleh, lalu mengangguk. Keduanya saling melempar senyum hangat sebelum berpisah.


__ADS_2