
Saat Tsamara dan Thoriq berjalan melewati lobby, sampai masuk ke lift pribadi. Keduanya terus menjadi pusat perhatian.
Para karyawan itu beranggapan bahwa, keduanya adalah sepasang kekasih yang sangat serasi. Yang laki-lakinya tampan, dan yang perempuannya cantik. Padahal kenyataannya, tidak.
Thoriq beberapa kali memperhatikan wajah Tsamara dari dekat. Sementara Tsamara sendiri, memandang ke setiap sudut ruangan yang memiliki design elegan. Dan tidak menyadari jika dirinya tengah menjadi sorotan pemuda tampan di dekatnya, dan juga para karyawan.
"Kamu mau minum apa?" tawar Thoriq saat keduanya masih berada di lift. Ia tahu pasti gadis dihadapannya itu merasakan haus dan capek. Karena mengayuh sepeda untuk bisa sampai ke kantornya.
"Air mineral saja."
"Apa? Kamu jauh-jauh datang kesini, dan hanya aku suguhi air putih? Nanti aku dikira pelit." Tsamara menggeleng sambil tersenyum.
"Tidak kak. Justru kamu adalah pemuda yang sangat baik. Aku senang bisa bertemu dengan mu. Kalau tidak berkenalan dengan mu, dan mencoba produk mu. Mungkin aku juga masih lama kurusnya." balas Tsamara lagi, sambil terkekeh kecil.
Tak lama, pintu lift terbuka, dan keduanya melanjutkan langkahnya.
"Bagaimana kalau jus alpukat?"
Tsamara menghentikan langkahnya sejenak, lalu menganggukkan kepalanya.
Saat berpapasan dengan office boy, Thoriq memintanya untuk membuatkan jus alpukat, dan memintanya untuk membawa ke ruangannya.
"Jadi benar, kak Thoriq adalah direktur utama di kantor ini?" Tsamara menghentikan langkahnya, lalu menoleh ke arah laki-laki disampingnya. Ketika sampai di depan pintu yang tertempel tulisan, ruang direktur utama.
"Tapi pada dasarnya, kita disini memiliki tanggung jawab sama untuk memajukan perusahaan ini kok. Yuk, masuk." ajak Thoriq sambil membukakan pintu untuk Tsamara, dan mempersilahkannya masuk terlebih dahulu.
Thoriq mempersilahkan Tsamara duduk di sofa empuk, yang berada di dalam ruangannya. Lalu baru dirinya.
__ADS_1
Bukannya segera menyampaikan hal-hal yang berkaitan dengan kontrak, Thoriq malah menatap gadis disampingnya dengan seksama.
Tak berselang lama, terdengar suara ketukan pintu. Tapi Thoriq masih tidak menanggapinya. Hingga Tsamara menepuk lengan tangannya. Yang membuat laki-laki itu tersentak kaget.
"Kak, itu sepertinya ada yang mau masuk." ucap Tsamara mengingatkan.
"Eh, iya kah?" tanya Thoriq dengan muka tak bersalah. Ia pun bangkit dari duduknya dan membukakan pintu.
"Maaf, pak. Mengganggu. Ini minumannya."
Seorang laki-laki berseragam orange, membawa nampan yang berisi dua gelas jus alpukat, yang terasa menyegarkan itu.
"Iya, taruh di meja."
Setelah mendapat perintah, office boy itu masuk ke dalam ruangan pimpinannya, dan meletakkan dua gelas minuman itu dengan hati-hati di atas meja.
"Terima kasih, kak." tanpa sungkan, Tsamara segera meminum jus alpukat itu, hingga habis.
"Kalau kamu masih ingin minum, kamu bisa minum punyaku. Tenang saja, jus nya low sugar. Jadi aman untuk kamu."
"Kakak tahu saja. Oh iya, jadi aku kesini di suruh apa nih?"
Tsamara mengingatkan, karena sejak tadi Thoriq belum membicarakan hal yang serius padanya.
Laki-laki itu pun seketika menepuk jidatnya, karena kelupaan. Terhipnotis dengan kemolekan Tsamara.
Akhirnya ia segera menyampaikan seluruh poin yang harus dikerjakan oleh Tsamara. Gadis itu terlihat manggut-manggut tanda paham. Lalu ia menandatangani surat kontrak yang sudah ditempel matrei.
__ADS_1
Setelah selesai, dan bercakap-cakap sejenak, Tsamara pamit pulang. Karena sebentar lagi, ia juga harus menjemput adiknya. Thoriq mengantarkannya sampai lobby.
"Tsa, boleh aku mengantar mu?" Tsamara menyunggingkan senyum, sebelum akhirnya menggelengkan kepalanya.
"Tidak perlu, kak. Kakak kan juga masih kerja. Nanti aku justru mengganggu waktunya kakak."
"Tidak. Kerjakan ku bisa dikerjakan lagi nanti. Ini sudah siang, panas."
"Iya aku tahu. Dan aku sudah terbiasa."
"Baiklah, kalau begitu. Kamu hati-hati ya."
"Siap." balas Tsamara sambil menempelkan ujung tangannya di pelipis, matanya juga mengedip sebelah. Membuat Thoriq semakin gemas, dan ingin sekali mencubit pipinya.
Tsamara berjalan menuju sepedanya, lalu mulai mengayuhnya pelan meninggalkan perusahaan yang besar itu. Tak lupa ia melambaikan tangannya pada Thoriq, yang masih memperhatikannya. Hingga akhirnya bayangan gadis itu tak lagi terlihat.
"Kamu memang benar-benar wanita tangguh dan rendah hati. Meskipun sudah mendapatkan apa yang kamu inginkan, tapi tetap tidak mengubah kebiasaan mu." gumam Thoriq.
**
Saat makan malam, Tsamara mengatakan pada keluarganya, jika besok ia akan mulai bekerja. Sesuai surat kontrak, ia akan melaksanakan beberapa pemotretan untuk foto produk.
Papa memberinya ijin. Kedua adiknya juga mengangguk, mendukung. Bahkan mereka juga memberi beberapa saran pada Tsamara. Demi tugasnya bisa berjalan dengan baik dan lancar.
Hari kian merangkak malam. Tsamara sudah berada di kamarnya. Ia menghempaskan tubuhnya di atas tempat tidurnya.
Mata beningnya menatap langit-langit kamar. Bibirnya mengukir senyum indah. Setelah ia mengalami kesedihan sekian waktu, kini kebahagiaan datang silih berganti. Ia sangat bersyukur sekali.
__ADS_1