Gagal Menikah Gara-gara Gendut

Gagal Menikah Gara-gara Gendut
70. Ban kempes


__ADS_3

[Malam sayang.] Sebuah pesan dari Anggara, pada Tsamara.


"Cih, dia memanggilku sayang. Sayang-sayang kepala lo peyang. Ngga ada hubungan apapun tapi memanggilnya seperti itu." Sungut Tsamara kesal.


[Iya selamat malam. Ada yang bisa dibanting?] Sebuah pesan balasan Tsamara kirimkan. Baru juga terkirim, sudah cek list biru dua.


"Fast respon sekali dia? Kalau soal urusan kadal mengkadali."


[Kok dibanting sih? Pasti handphonenya typo ya, gara-gara dapat pesan dari makhluk tampan seperti ku?] Disertai emoticon ngakak.


"Hua, dia percaya diri sekali. Ngaku-ngaku tampan. Kalau dia berjejer dengan para penghuni kebun binatang, memang dia yang paling tampan. Tapi kalau disuruh berjejer dengan kak Thoriq, ya cakepan kak Thoriq kemana-mana." Cerocos Tsamara sambil geleng-geleng kepala.


"Oh Tuhan, kenapa Engkau ciptakan makhluk plankton seperti Anggara?" Tsamara terus saja mengoceh sendiri, ketika berbalas pesan dengan mantan calon suaminya.


[Eh, iya. Maksudnya begitu tadi.] Balas Tsamara disertai emoticon ngakak juga.


Padahal dia sebenarnya juga ingin membanting Anggara, tapi bagaimana kalau akhirnya hidupnya di penjara? Bukan kah terkadang orang yang benar bisa masuk penjara? Dan orang yang salah bisa bebas dari penjara?


[Okay tidak apa-apa, aku sudah memaafkan mu kok. Oh iya, aku mau tanya. Ada hubungan apa kamu dan si laki-laki jadi-jadian tadi? Terus kenapa juga kamu sering jalan bareng dengan laki-laki itu?]


"Hah, dia kepo banget sih. Mau tahu saja urusanku. Menjalin hubungan dengan siapa pun juga terserah aku dong." Untuk yang kesekian kalinya, Tsamara terus mengoceh, setiap selesai membaca balasan pesan dari Anggara.


[Kami hanya kebetulan bertemu. Jika tidak ada yang ingin disampaikan, aku mau segera tidur. Capek tahu ngga.]


Sebenarnya itu hanyalah alasan saja, karena Tsamara belum bisa tidur, dan ingin menulis.


[Ya sudah, kamu istirahat saja sayang. Besok pagi aku antarkan kamu dan Soffin sekolah. Sampai ketemu besok ya. Bye-bye.]

__ADS_1


"Besok mau nganterin Soffin sekolah? Okay, aku bakal kasih dia kejutan." Gumam Tsamara sambil menyunggingkan senyum sinis.


**


Pagi harinya di kediaman Anggara. Pria itu kini tengah mematut diri di depan cermin. Tak lupa sebotol parfum ia semprotkan ke seluruh badannya. Agar Tsamara terhipnotis, dan jatuh ke dalam pelukannya.


"Kamu tidak sarapan dulu, Ga?" Tanya mamanya.


"Tidak, ma. Anggara mau berangkat duluan, takut terjebak macet." Dusta pemuda itu.


Ia pun mempercepat langkahnya menuju carport. Lalu mengemudikan mobilnya dengan kecepatan cukup tinggi.


"Kenapa berdiam diri seperti patung, ma?" Tanya pak Anwar yang mengejutkan istrinya.


"Itu, kelakuan anak kita kok semakin aneh-aneh saja akhir-akhir ini."


"Anggara?"


"Dia kenapa memangnya?"


"Katanya berangkat pagi biar tidak terjebak macet. Bahkan ia sampai menunda sarapannya."


"Hem, pasti ini ada hubungannya dengan seorang gadis." Tebak pak Anwar sambil mengusap dagunya.


"Oh ya, tapi gadisnya cantik dan langsing kan pa?"


"Yah, seperti itu lah. Dia anak rekan kerja papa, namanya Olive. Mungkin anak kita itu sudah kebelet pengen kawin, makanya dia sampai oleng seperti itu.

__ADS_1


Sebenarnya papa setuju jika dia dengan Olive sampai menikah. Karena papa Olive orang kaya. Lumayan bisa memberi suntikan dana untuk perusahaan kita.


Tapi pikiran oleng Anggara, sungguh berimbas pada kacaunya seluruh pekerjaannya. Sehingga papa sampai pusing sendiri di buatnya. Bukannya memberikan keuntungan, malah papa hampir saja bangkrut gara-gara laporan yang dia buat salah semua."


"Ya sudah, papa sabar saja. Nanti cepat tua lho. Yuk kita sarapan berdua."


**


Sepanjang perjalanan, Anggara terus menyunggingkan senyum, karena sebentar lagi ia akan segera bertemu dengan pujaan hatinya.


Tapi, saat sampai tikungan menuju rumah Tsamara, tiba-tiba mobilnya oleng. Terpaksa ia menginjak rem mendadak. Hingga kepalanya membentur kaca mobilnya.


"Arghhh... sakit." Gumamnya sambil mengusap kepalanya yang sedikit benjol.


Bergegas ia turun dari mobil dan mengecek apa yang terjadi. Matanya membulat melihat kedua ban bagian depan, kempes semua. Dan yang lebih parah lagi, semua bannya tertancap paku.


"Sial! Siapa yang berani-beraninya membuang paku sebanyak ini di jalanan?" Umpatnya kasar, sambil menendang ban mobilnya.


"Arghh... Sakit." Rintih Anggara lagi, karena terlalu keras menendang ban, hingga kakinya justru membentur plat mobil.


"Dimana ada tukang tambal ban? Tidak mungkin aku mendorong mobil, sambil mencari tukang tambal ban. Argh, gagal deh rencana ku bisa berdekatan dengan Tsamara." Gerutu pemuda itu untuk yang kesekian kalinya.


Ia masuk ke mobil untuk menghubungi Tsamara, agar gadis itu tidak marah padanya.


"Hallo, Tsamara."


"Iya, ada apa Anggara?"

__ADS_1


"Sepertinya aku tidak bisa menjemput mu sekarang. Ban mobil ku semua kempes karena melindas paku. Entah siapa orangnya yang menaruhnya. Aku sangat geram sekali padanya. Gara-gara dia aku tidak bisa menjemput mu."


"Oh, tidak apa-apa Anggara. Aku bisa naik sepeda kok. Selamat mencari tukang tambal ban ya. Bye."


__ADS_2