
"Anggara, kamu mengejutkan mama saja." Sungut mama kesal, dan segera meraup uang yang berhamburan itu.
"Mengejutkan bagaimana? Memang mama tidak mendengar suara langkah kaki kami?"
Anggara dan Olive duduk di sofa yang masih kosong, sambil melihat lembaran uang itu.
"Kemarin Anggara melihat, papanya Tsamara memberi amplop tebal. Pasti isinya banyak ya, pa." Pandangan Anggara kini beralih pada pak Anwar.
"Tuh, tanya saja sama mama. Kan baru di hitung."
"Bukan kah kemarin papa juga menghitungnya?"
"Iya, tapi sekarang sudah lupa. Tahu sendiri kan, kemarin papa juga capek."
"Mas, kita makan saja yuk. Lapar tahu." Olive memegangi perutnya.
"Ayo, kebetulan aku juga sudah sangat lapar sekali." Anggara juga memegangi perutnya, sambil bangkit berdiri.
"Hei, kalian bantu mama dulu." Cegah mama.
"Tapi, ma. Kita sudah lapar." Ucap Anggara sambil memegang perutnya.
"Tidak ada alasan. Pokoknya, kalian harus membantu kami." Tegas mama.
"Ma, Olive baru hamil. Apa tidak kasian dengan bayi yang ada dalam perut Olive. Nanti kalau cacat bagaimana? Karena kurang gizi."
__ADS_1
"Mau kurang gizi, atau kurang hidungnya, mama tidak peduli."
"Ih, kelewatan banget sih. Mau jadi nenek juga. Kalau anak Olive jelek, mama sendiri lho yang malu. Nanti mama bakal di hina tetangga, dan teman arisan. Papa juga, memang papa mau di hina sama relasi papa? Punya cucu jelek dan cacat." Cerocos Olive dengan hati yang jengkel setengah mati, karena memiliki mertua yang tidak perhatian.
Sejenak kedua orang tua Anggara terdiam sambil berpikir. Dan tak lama kemudian mereka menggelengkan kepalanya.
"Tentu saja aku tidak mau, memiliki cucu jelek dan cacat. Ya sudah, kamu makan sana dulu gih." Ucap mama sambil melambaikan tangannya, menyuruh anak dan menantunya pergi ke ruang makan.
"Betul apa kata, mama. Cepat makan sana! Tapi ingat, jangan di habiskan. Kamu di sini cuma menumpang." Imbuh pak Anwar.
"Nah, gitu dong. Kami ke belakang dulu." Anggara melingkarkan tangannya di bahu Olive, yang tengah mengerucutkan bibirnya.
"Suami dan istri, sama saja. Sama-sama pelitnya." Gumam istri Anggara.
"Apa kamu bilang? Kami pelit?" Ulang mama, yang dengan jelas mendengar celotehan menantunya.
"Dasar, menantu tak tahu diri. Sudah menumpang, masih saja mengatai orang pelit." Gerutu mama, sambil menatap kepergian anak dan menantunya. Setelah itu, ia kembali menghitung ulang uang yang berantakan tadi.
Sedangkan di dapur, Olive dan Anggara duduk sambil menghadap tudung saji, yang di yakini akan ada banyak makanan yang tersembunyi di sana.
"Apa?" Ucap keduanya kompak, ketika Olive membuka tudung saji dan hanya menemukan nasi, balado telur goreng, dan sayur bayam yang masih sedikit.
"I-ini serius?" Ucap Olive sambil tercekat suaranya, karena tidak percaya dengan apa yang di lihatnya.
"Makanan yang kamu konsumsi setiap hari seperti ini kah?" Tanya Olive, sangat penasaran.
__ADS_1
"Setiap hari kami selalu makan makanan yang bergizi. Ya, salah satu contohnya adalah seperti ini. Ada sayur, karbohidrat dan protein hewani."
"Kamu bilang makanan seperti ini bergizi? Kalau tidak bergizi contohnya seperti apa?"
Olive geleng-geleng kepala, lalu bangkit berdiri, dan berjalan menuju ke arah kulkas. Sesampainya di sana, ia membuka pintu kulkas, untuk melihat apa saja yang tersimpan di dalam sana.
"Hem, rupanya kalian menyembunyikan makanan di sini ya." Gumam ibu hamil itu, lalu mencomot sepotong kue dan buru-buru menghabiskannya dalam satu kali gigitan.
Setelah kuenya habis, Olive mengambil semangkuk dendeng, lalu membawanya ke meja makan.
"Kenapa lauknya tidak di simpan di dalam microwave? Kan bisa tetap hangat."
"Entahlah, aku juga tidak tahu. Rusak kali microwave nya." Balas Anggara santai, sambil mengambil secentong nasi dan meletakkan di piringnya.
Olive pun melakukan hal yang sama dengan suaminya. Ia mengambil nasi dan sayur serta lauk. Lalu keduanya menikmati sarapan pagi dan makan siang yang kembali di jama' menjadi satu waktu.
Erghh...
Keduanya bersendawa bersamaan, yang menandakan bahwa mereka sudah kekenyangan. Mereka sampai menyandarkan badannya di kursi masing-masing, sambil mengusap perutnya.
Sedangkan di ruang keluarga, mama dan papa telah selesai membuka seluruh amplop sumbangan.
Ternyata survei membuktikan, bahwa pemberi sumbangan terbesar adalah pak Abas. Dengan nominal sepuluh juta rupiah. Namun masuk ke dalam tempat persembunyian pak Anwar tiga juta rupiah.
Sedangkan tamu lainnya, hanya memberikan sumbangan satu lembar uang merah atau biru saja.
__ADS_1
"Terbukti, ternyata semua rekan kerja papa itu hanya terlihat kaya saja. Tapi aslinya miskin." Gerutu mama.
"Ya mana papa tahu. Kalau mereka punya hajat, aku akan datang dan membawa amplop kosong. Biar tahu rasa mereka."