Gagal Menikah Gara-gara Gendut

Gagal Menikah Gara-gara Gendut
150. Pertemuan tidak terduga


__ADS_3

Pagi hari di rumah kontrakan, Anggara dan Olive mulai berjibaku dengan pekerjaannya masing-masing. Setelah selesai, keduanya berangkat menuju rumah sakit. Untuk mengecek kondisi kehamilan Olive.


Perut buncitnya sudah semakin terlihat. Karena menurut prediksi, kandungannya sudah berusia kurang lebih empat bulan.


Ia sudah tidak nyaman lagi menggunakan celana panjang. Dan lebih nyaman menggunakan daster. Namun, karena pergi ke tempat umum, ia mengenakan midi dress yang berbahan rayon. Agar tetap nyaman dan tidak kegerahan.


Menempuh perjalanan hampir satu jam, ia dan suaminya tiba di rumah sakit. Setelah mengurus pendaftaran, keduanya duduk di depan poli kandungan.


"Om Abas." Gumam Anggara, ketika melihat papa Tsamara lewat di depannya.


"Siapa yang sakit, om." Tanya Anggara sambil beranjak dari duduknya.


"Putriku."


"Tsamara?" Tebak Anggara. Pak Abas pun menganggukkan kepalanya.


"Sakit apa dia, om?"


"Tidak perlu aku kasih tahu ke kamu. Toh, kamu juga akan menertawakannya."


"Anggara tidak seperti itu lagi, om."


Pak Abas tersenyum smirk sambil menatap sejenak wajah membosankan yang ada di hadapannya.


"Oh ya? Bukan kah keluarga mu itu pandai berdusta?"


"Setiap orang bisa berubah, om. Termasuk Anggara."


"Terserah kamu berkata apa. Aku tidak peduli." Pak Abas berlalu pergi meninggalkan Anggara yang tampak mematung.


Olive yang melihat hal itu, segera menarik lengan suaminya agar duduk kembali.


"Sudah lah. Jangan kamu pikirkan perkataannya. Bikin hati dongkol tahu ngga?"


Anggara menganggukkan kepalanya, sambil menatap kepergian mantan calon papa mertuanya. Tak lama kemudian, Olive di panggil. Ia dan suaminya beranjak berdiri dan berjalan menuju ruang pemeriksaan.


Dokter menyapa keduanya dengan senyum hangat, lalu mempersilahkan mereka duduk.


Terlihat mereka berbincang sejenak tentang kehamilan. Kemudian dokter menyuruh Olive berbaring di atas brankar, untuk melakukan USG.


"Bayinya sudah berbentuk ya, ini gambarnya. Terlihat bergerak perlahan. Semuanya menunjukkan hasil yang bagus. Hanya saja, untuk jenis kelaminnya belum terlihat jelas. Karena tertutup oleh pahanya." Dokter menjelaskan sambil menunjuk layar monitor.


Olive dan Anggara manggut-manggut mendengar penjelasan sang dokter. Setelah selesai, tak lupa dokter memberi resep vitamin yang harus di minum oleh Olive.


Kini pasangan suami-istri itu sudah kembali berada di dalam mobil. Anggara segera melajukan mobilnya.

__ADS_1


"Kenapa kamu diam saja?" Tanya Olive, sambil melihat wajah suaminya yang tengah fokus menyetir.


"Aku hanya penasaran saja. Sebenarnya Tsamara sakit apa."


"Apa! Jadi kamu masih memikirkannya. Hingga sejak tadi kamu terus diam. Padahal kita sudah janji lho, tidak akan memikirkan masa lalu kita." Sungut Olive.


"Aduh, Olive. Kamu bisa membedakan tidak sih? Antara penasaran dan memikirkan? Ingat ya, aku cuma penasaran saja. Aku juga masih ingat dengan janji kita. Tenang saja, aku tidak akan melupakannya. Oh iya, kita mampir dulu ke apotik." Olive diam saja, tidak menjawab.


Tak berselang lama, mobil Anggara terlihat berbelok ke sebuah apotik. Lalu pria itu turun dari mobil, sedangkan Olive masih tetap berada di dalamnya.


Setelah membeli apa yang dibutuhkan, Anggara berjalan menuju mobilnya terparkir.


"Anggara?" Gumam seseorang yang kebetulan berpapasan dengan suami Olive.


"Mama mertua." Balas Anggara.


"Sedang apa kamu di sini? Di mana Olive?"


"Anggara baru saja beli susu hamil untuk Olive, ma. Tuh dia, orangnya di dalam mobil." Anggara menunjuk Olive yang berada di dalam mobil.


"Mama ingin bertemu dengannya."


"Ayo ikuti Anggara, ma." Mamanya Olive menganggukkan kepalanya, lalu mengikuti menantunya yang berjalan ke arah mobil.


"Olive." Pekik mama, yang membuat Olive mendongakkan kepalanya dan mengabaikan handphone yang diotak-atik sejak tadi.


Ibu dan anak itu terlihat saling berpelukan sementara waktu.


"Bagaimana kabarmu, sayang? Mama kangen sekali denganmu."


"Baik, ma. Mama juga baik kan?"


"Mama begitu cemas memikirkan mu. Takut tidak bisa hidup mandiri." Olive menyunggingkan senyum.


"Ma, Olive kan pernah tinggal terpisah dengan papa dan mama dalam kurun waktu yang cukup lama. Pastilah bisa hidup mandiri." Olive menghibur mamanya.


"Tapi dulu, setiap bulan papa rutin mengirim uang padamu untuk mencukupi segala keperluan mu. Kalau sekarang, siapa yang akan mencukupi kebutuhanmu? Apalagi kamu sedang hamil." Pandangan mama beralih pada perut buncit anaknya, lalu mengusapnya perlahan.


"Olive kan punya suami, ma. Lagian Olive juga bekerja. Jadi tenang saja, Olive masih bisa bertahan hidup."


"Memang suamimu bisa menghidupi mu? Kenapa kamu jadi kelihatan kurus? Bukankah orang hamil itu justru bertambah gendut? Memang kamu kerja apa? Harusnya kamu tidak usah kerja saja. Biar suamimu yang kerja." Cerocos mama.


"Ma, sudahlah. Jangan menghina suami Olive terus. Walaupun Olive kurus, yang penting sehat. Begitu pula dengan bayi yang Olive kandung. Bahkan kami juga baru saja pulang dari rumah sakit, untuk memeriksa kandungan."


"Okay, sekarang kamu kerja apa, dan tinggal di mana? Kenapa belum di jawab?"

__ADS_1


"Kami membuka usaha laundry di rumah kontrakan."


"Apa! Usaha laundry? Di rumah kontrakan?" Ulang mama terlihat terkejut.


"Iya, ma. Yang penting halal dan hasilnya cukup untuk memenuhi kebutuhan kami." Balas Anggara, yang sejak tadi diam melihat percakapan mertua dan istrinya.


"Anggara, kenapa kamu tega mengajak Olive tinggal di rumah kontrakan? Pasti rumah itu kecil dan sempit. Harusnya tinggal di apartemen kek."


"Yang penting bisa di pakai untuk berteduh dari panas dan hujan, ma. Dari pada kami tinggal di apartemen, dan harus berhutang."


Mama tidak bisa berkata apa-apa lagi, melihat keseriusan dalam setiap ucapan yang keluar dari mulut anak dan menantunya.


"Kalau begitu, mama ingin ke rumah kontrakan kalian."


"Nanti mama menghina." Tuduh Olive.


Jujur ia tidak mau niatnya untuk berubah, harus rusak karena ulah mamanya yang belum bisa sepenuhnya melepasnya.


"Mama tidak akan melakukan hal itu."


"Janji?" Tegas Olive.


"Iya, mama janji." Mama menganggukkan kepalanya penuh keyakinan.


"Kalau begitu, ayo masuk mobil, ma." Ajak Anggara.


"Mama tadi kesini bawa mobil sendiri. Tunggu dulu." Olive dan Anggara terlihat menganggukkan kepalanya, lalu masuk ke mobilnya.


Suami dari Olive itu melajukan mobilnya menuju rumah kontrakan, dan mama mertua mengikuti di belakangnya dengan mengendarai mobil yang berbeda.


Mama berusaha menghafalkan jalannya, agar suatu saat ketika kembali berkunjung, tidak bingung.


Setelah beberapa menit berlalu, akhirnya rombongan itu tiba di depan rumah kontrakan. Mama sejenak memindai sisi luar rumah itu, yang tampak terlihat rapi dan bersih.


"Ayo, ma. Silahkan masuk." Anggara mempersilahkan mama mertuanya masuk ke dalam rumahnya.


Sekali lagi, mamanya Olive itu juga tampak melihat dengan detail setiap sudut ruangan yang tidak terlalu luas itu.


"Kalian yakin, betah tinggal di sini?"


"Tentu saja kami betah, ma. Karena di sini kita bisa belajar mandiri." Balas Olive, untuk meyakinkan mamanya jika dirinya baik-baik saja.


"Syukurlah, mama ikut senang mendengarnya." Mama pun tersenyum sambil memeluk Olive.


"Anggara memang bodoh, ma. Tapi akan terus berusaha untuk bisa menghidupi dan membahagiakan anak mama satu-satunya."

__ADS_1


"Mama mulai percaya padamu. Teruslah bertanggung jawab sebagai seorang pria sejati." Mama menepuk bahu menantunya. Anggara menganggukkan kepalanya sambil tersenyum.


__ADS_2