
Di tengah Tsamara dan Thoriq menikmati waktu sebagai seorang pengantin baru dengan berbagai uforianya, hal yang berbeda tengah di alami oleh Anggara dan Olive.
Pasalnya kedua anak manusia itu sudah satu bulan mencari pekerjaan kemana-mana, tapi belum juga mendapatkan apa yang diinginkannya.
Jika hal itu terus-menerus terjadi, bisa-bisa keduanya akan mati kelaparan, karena keuangannya semakin menipis.
Akhirnya, Anggara mendesak Olive untuk menjual barang-barang brandednya, sebagai modal untuk bertahan hidup.
Tentu saja awalnya Olive sangat keberatan. Apalagi semua barang-barangnya adalah limited edition. Ada barang yang dibeli dari luar negeri. Ada juga yang di beli dari dalam negeri, tapi tentu saja harganya fantastis. Mengingat Olive adalah seorang shopaholic.
Tapi perlahan ia sadar, jika semua barang-barangnya itu tidak berarti apa-apa, jika ia tidak bisa makan. Akhirnya Olive merelakan barang-barang itu untuk di jual.
Tidak di sangka, barang-barangnya yang baru saja di tawarkan di sebuah market place, banyak sekali peminatnya. Bahkan laku terjual dengan harga cukup tinggi. Uang yang dikumpulkan pun cukup banyak.
"Apa yang akan kita lakukan dengan uang-uang ini?" Tanya Olive menatap Anggara dengan serius. Karena ia tidak ingin pengorbanannya merelakan barang-barang kesayangannya, berakhir sia-sia.
"Liv, bagaimana kalau uang ini di pakai untuk modal usaha saja. Dari pada keluar masuk kantor, toko dan sebagainya selalu di tolak." Usul Anggara setelah terdiam sekian menit.
"Usaha? Usaha apa?" Ulang Olive, dengan mengernyitkan dahinya.
Selama ini ia tidak pernah menyukai suatu hal, selain menghabiskan uang untuk mempercantik diri dan berbelanja. Entah itu butuh atau tidak.
"Kamu bisa bikin kue, atau apa gitu ngga? Kita jual saja kalau kamu bisa."
"Tahu sendiri, aku ngga bisa masak. Malah ditanya bisanya bikin apa." Dengus Olive, sambil menyandarkan punggungnya di sofa ruang tamu.
Sejenak ia melihat perutnya yang sudah terlihat buncit. Lalu mengusapnya perlahan.
Anggara juga melakukan hal yang sama, ia menyandarkan punggungnya di sofa, sambil menatap perut istrinya.
Pria itu meyakinkan dalam hatinya, bahwa ia harus bisa mendapatkan uang untuk biaya persalinan istrinya nanti.
"Liv, kalau kita buka usaha laundry gitu, kamu mau tidak sih?" Celetuk Anggara.
"Laundry?" Ulang Olive, dengan pandangan yang menerawang.
"Siapa yang akan mengerjakannya?"
"Tentu, kita berdua dong."
"Sebelum memutuskan, ayo kita menyetrika baju dulu. Kalau kamu bisa rapi, aku mengijinkan buka laundry. Karena kalau kita melipat baju saja tidak rapi, bagaimana orang mau mempercayakan laundry di tempat kita?"
"Benar juga apa yang kamu katakan. Ya sudah, ayo kita ke belakang." Ucap Anggara, setelah berpikir sekian detik.
__ADS_1
Keduanya menyetrika baju, lalu berusaha melipatnya dengan rapi. Setelah itu mereka memperhatikan hasil tangan masing-masing pasangan, dan menilainya.
"Menurutku hasilnya sudah lumayan. Kalau kita sering berlatih, pasti bisa lebih rapi lagi." Ucap Olive.
"Lalu bagaimana, apa kita akan serius membuka usaha laundry."
Olive menganggukkan kepalanya mantap. Anggara yang melihatnya begitu berbinar wajahnya. Hingga akhirnya ia mengangkat tubuh Olive tinggi.
"Anggara, lepaskan!" Seru Olive ketakutan, sambil memukul bahu suaminya.
"Maafkan, aku. Mungkin karena terlampau bahagia." Ucap Anggara setelah menurunkan Olive.
Rasanya Anggara tidak pernah sebahagia itu, begitu juga dengan Olive.
**
Di tempat lain, mama Anggara ataupun mama Olive, keduanya sama-sama cemas memikirkan keadaan anak semata wayangnya.
Walaupun anak-anaknya sering melakukan kesalahan, berbuat yang tidak baik, tapi sebagai orang tua, keduanya begitu merasa kehilangan ketika anak-anaknya pergi dari rumah.
Apalagi kedua anak itu sama sekali tidak memiliki skill yang mumpuni dalam berbagai bidang. Karena selama ini mereka cenderung mengandalkan harta kekayaan kedua orang tuanya.
Berulang kali mamanya Anggara dan mamanya Olive menyuruh suami mereka untuk mencari keberadaan anak-anaknya, tapi kepala rumah tangga itu bersikeras menolak permintaan istrinya.
**
Dan hal yang berbeda, justru ditunjukkan oleh anggota keluarga Tsamara dan Thoriq.
Bu Husna tak mempermasalahkan anak dan menantunya pergi lama untuk berbulan madu. Karena ia berharap, dengan kepergian keduanya yang cukup lama, pulang-pulang langsung membawa kabar bahagia.
Begitu juga dengan pak Abas. Ia begitu senang ketika mendapat kabar dari besannya, bahwa Thoriq mengajak Tsamara pergi berbulan madu.
Sudah satu bulan, keduanya belum juga pulang. Ia yakin, pasti pulang-pulang anak dan menantunya akan membawa kabar bahagia.
Apalagi di lihat dari fisiknya, Tsamara dan Thoriq sama-sama terlihat segar dan bugar.
Namun, hal yang berbeda rupanya ditunjukkan oleh si kecil Soffin. Ia selalu mengerucutkan bibirnya dan bermuka masam.
Pasalnya, kakak kandung dan kakak iparnya setelah menikah, justru tidak kelihatan batang hidungnya sama sekali. Bahkan mereka juga tidak memberi kabar padanya. Membuat bocah kecil itu begitu membenci yang namanya pernikahan.
Farah dan pak Abas, sudah sering memberi pengertian padanya. Bahwa mereka sedang ada tugas penting setelah menikah, jadi tidak boleh di ganggu.
Bukan Soffin namanya, jika tidak mencerca kakak dan papanya dengan pertanyaan yang bertubi-tubi. Karena memang mereka tidak menjelaskan dengan detail, mengingat otak Soffin yang belum mampu untuk mencerna hal-hal yang berbau dewasa.
__ADS_1
**
Di kepulauan Maldives, Tsamara dan Thoriq sudah sangat puas berbulan madu di pulau itu. Bisa berduaan setiap hari tanpa khawatir ada yang mengganggu, dan keduanya saling mengungkapkan perasaan cintanya dengan pasangan tanpa malu-malu.
Kini pasangan suami-istri itu tengah bersiap-siap, karena besok pagi keduanya akan pulang ke tanah air.
"Sayang, yakin kan semua tidak ada yang tertinggal?" Tanya Thoriq, saat Tsamara menyandarkan kopernya di dekat rak baju.
"Menurutku tidak ada, kak." Balas Tsamara setelah berpikir sekian detik.
"Coba diingat-ingat lagi?"
Tsamara kembali mengernyitkan dahi sambil mengingat-ingat.
"Aku rasa memang tidak ada kak."
"Oh ya, kamu yakin? Kita kan belum melakukannya hari ini. Mumpung ini adalah hari terakhir kita disini, aku ingin melakukannya sebagai kenang-kenangan terakhir."
Wajah Tsamara langsung bersemu merah, mendengar celotehan suaminya.
"Kamu mau kan?"
Tsamara menundukkan wajahnya sambil mengangguk pelan. Lalu ia ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
Tidak afdol rasanya, jika tidak membersihkan diri sebelum melayani suami. Ia ingin suaminya hanya menghirup aroma wangi dari tubuhnya.
Setelah Tsamara selesai, kini giliran Thoriq yang membersihkan diri.
Tak lama kemudian, ia keluar dari kamar mandi dan mendekati istrinya yang tengah duduk di dekat jendela kamar.
Tsamara terlihat begitu menikmati pemandangan malam di pantai dari jendela. Thoriq yang sudah berdiri di dekatnya, mengalungkan tangan di lehernya.
"Aku akan menunggumu, sampai kamu bosan melihat deburan ombak dan melayaniku."
"Aku tidak akan pernah bosan melihat ombak pantai. Karena rumah kita memang jauh dari pantai bukan? Tidak setiap hari aku bisa melihatnya."
"Okay, kalau begitu biarkan saja jendelanya terbuka. Sambil kita melakukannya, kamu bisa melihat ombak."
"Apa? Nanti kalau ada orang yang mengintip bagaimana?"
Thoriq terkekeh mendengar pertanyaan istrinya.
"Di pulau ini, setiap penghuninya sangat di jaga privasinya. Tidak mungkin ada yang mengintip."
__ADS_1
Setelah itu, dengan sigap Thoriq langsung mengangkat tubuh Tsamara. Sehingga membuatnya menjerit karena terkejut dengan sikap suaminya yang tiba-tiba.