Gagal Menikah Gara-gara Gendut

Gagal Menikah Gara-gara Gendut
56. Mengerjai Anggara


__ADS_3

Anggara seketika menelan saliva. Bayangan bisa berduaan dengan Tsamara, di rumahnya yang sepi, karena keluarganya sedang bekerja dan menuntut ilmu menguap.


"Kenapa kamu masih berdiri disitu? Ayo masuk." ucap Tsamara, menyadarkan Anggara dari lamunannya. Laki-laki itu pun masuk mendekati Tsamara.


"Jangan lupa jas nya di lepas dulu. Celananya digulung ke atas, agar tidak kotor. Oh iya, kalau mau ganti sandal jepit juga ada, punya papa. Aku khawatir kalau sepatu mahal mu juga kotor."


"Iya, ini memang sepatu mahal. Harga sekitar tiga juta."


Anggara mengatakan dengan terlalu melebihkan harganya. Agar dia terlihat seperti orang kaya.


Padahal sejatinya Tsamara sudah tahu, jika harga sepatu yang di pakai Anggara itu, hanya sekitar tiga ratus ribuan saja. Jika beli pre loved, harganya tentu lebih murah lagi.


Tsamara memang seorang gadis yang sederhana. Walaupun ia berasal dari keluarga yang kaya raya. Toh, baginya murah atau mahal suatu barang, tidak begitu ia pikirkan. Yang penting ia nyaman memakainya.


Dan ketika ada orang yang mempertanyakan harganya, dia akan menjawab dengan cenderung merendahkan harganya.


Kini Tsamara telah kembali di hadapan Anggara. Ia membawa kemoceng, kain lap dan semprotan. Lalu menyerahkan pada Anggara.


"Mas, kamu bersihkan semua perabotan di rumah ini pakai kemoceng dulu ya. Setelah itu, baru di lap pakai kain ini. Sebelumnya, jangan lupa di semprot. Agar mengkilap. Kamu lihat sendiri kan, di rumah ku hanya ada sedikit perabotan. Aku yakin, kamu pasti cepat menyelesaikannya."


"I-iya." Anggara menerima barang-barang itu, lalu sejenak mengamatinya.


'Apes sekali nasib ku.' batin Anggara.

__ADS_1


Sesaat Tsamara tersenyum, menikmati perubahan wajah Anggara yang terlihat tidak mengenakkan itu.


"Semangat ya, mas. Aku juga mau beres-beres kok." Tsamara pura-pura menyemangati Anggara. Sehingga laki-laki itu mengangguk lalu membalas senyuman nya.


Laki-laki itu pun segera membersihkan meja dan kursi dengan kemoceng, lalu menyemprotkan cairan pembersih dan mengelapnya.


Awalnya ia memang sedikit ilfill melakukan hal itu. Tapi ketika melihat badan Tsamara yang bergerak naik-turun, sedang membersihkan kaca jendela, membuat ia kesusahan menelan saliva. Bahkan matanya sampai tak berkedip.


"Oh, sarapan pagi yang lezat." gumam Anggara, sambil menjulurkan lidahnya, dan menyapu bibirnya sendiri.


Anggara bergerak cepat menyelesaikan pekerjaannya. Agar ada waktu untuk bisa berduaan dan bermesraan dengan Tsamara. Otaknya sudah bergerak liar.


Hingga tak sadar, jika botol spray yang digunakan untuk menyemprot perabotan, ia semprotkan ke mukanya sendiri.


"Beh!"


"Apaan pula sih, aku ini. Menyemprot dan mengelap wajah sendiri dengan benda-benda ini." cicitnya semakin kesal.


Tanpa Anggara sadari, kekonyolannya itu disaksikan oleh Tsamara. Tentu saja hal itu membuatnya terkikik geli. Ingin sekali ia bisa tertawa lebar, tapi dia urungkan. Takut jika rencana untuk mengerjai Anggara gagal.


Ya, Tsamara memang sengaja melakukan hal itu. Ia membersihkan kaca jendela, dengan gerakan badan yang se erotis mungkin. Agar Anggara kepanasan.


Setelah selesai mengelap perabotan. Tsamara menyuruh Anggara untuk menyapu setiap sudut rumah.

__ADS_1


"Apa tidak ada alat penyedot debu?" tanya Anggara, ketika gadis itu mengulurkan sapu.


"Kamu tahu kan, semenjak gagal menikah, kami jatuh miskin. Gara-gara tidak memilki uang yang cukup untuk membayar seluruh biaya pesta." ucap Tsamara, dengan wajah pura-pura sedih.


Anggara pun merasa tidak enak hati, ketika Tsamara berkata demikian. Ia merangkul bahu gadis itu.


"Maaf, ya. Aku janji, akan memperbaiki kesalahan ku."


'Cih, dasar. Memperbaiki salah apanya? Saat badan ku langsing, mendekat. Saat melihat badanku gendut, seperti melihat hantu. Bahkan sampai pingsan.' batin Tsamara geram.


Ia menghembuskan nafasnya, lalu menyandarkan kepalanya di dada Anggara, sambil pura-pura terisak sedih. Anggara seketika mengusap pelan lengan Tsamara.


"Sudah, ah. Aku tidak mau banyak bersedih. Percuma saja aku menangis. Toh, semua tidak bisa kembali seperti awal. Lebih baik ayo kita bersih-bersih lagi, mas." Tsamara mendongakkan kepalanya, lalu menghapus air mata bohongan nya.


Keduanya kembali melanjutkan pekerjaannya masing-masing. Terdengar suara handphone Anggara yang berdering.


Ia pun segera merogoh handphonenya dari saku celananya. Tertera nama papanya. Ia tahu laki-laki itu pasti akan bertanya, dimana dirinya berada.


Jika ia menjawab tengah membersihkan rumah bersama Tsamara, tentu papanya akan memarahinya. Karena lebih mementingkan orang lain. Dari pada orang tuanya sendiri.


Akhirnya, Anggara meriject panggilan telepon itu. Dan lebih memilih tidak mengaktifkan handphonenya.


Tak hanya mengelap dan menyapu saja, bahkan Tsamara juga menyuruh Anggara untuk mengepel. Lalu mengerjakan pekerjaan rumah tangga seperti pada umumnya.

__ADS_1


Hingga tak ada waktu untuk laki-laki itu bisa berbuat seperti apa yang diinginkannya. Tsamara tersenyum puas, melihat mantan calon suaminya melakukan itu semua.


__ADS_2