
Olive sudah menunggu kedatangan Anggara di depan lobby, sambil membaca novel online dalam handphonenya.
Memang akhir-akhir ini ia suka sekali membaca novel. Ia terkekeh sendiri ketika membaca novel Gagal Menikah gara-gara Gendut.
Ia tak habis pikir, kenapa ada perempuan yang tidak bisa menjaga berat badannya sendiri. Sehingga badannya sampai membengkak.
"Bodoh sekali sih cewek ini? Kalau dalam kehidupan nyata, aku lah orang pertama yang akan menertawakannya. Pasti ini terjadi sama orang miskin. Orang kaya seperti aku, tidak mungkin badannya akan berubah jadi gajah." Oceh Olive, disela-sela tertawanya.
Tanpa sadar ia telah menjadi pusat perhatian karyawan dikantornya.
Sementara itu, Anggara sudah sampai di kantor Olive. Ia melihat Olive sedang terkekeh sendiri sambil menatap layar handphonenya.
Pria itu pun membunyikan klakson, tapi Olive tidak juga ngeh. Akhirnya ia turun dari mobil dan mendekatinya.
"Olive." Ucap Anggara mengejutkan calon istrinya.
"Mas, bikin aku kaget saja sih." Gerutu Olive, sambil mengusap dadanya.
"Memangnya kamu lagi ngapain sih? Tertawa sendiri seperti orang kurang genap pikirannya."
Beberapa karyawan yang kebetulan melintas di dekat keduanya, geleng-geleng kepala. Karena ucapan Anggara yang seenaknya sendiri pada wanita. Tidak sopan sama sekali.
"Aku cuma sedang baca novel saja, sambil menunggu kedatangan mu."
"Okay, ayo kita berangkat sekarang. Papaku membatasi aku keluar."
Olive bangkit dari duduknya, lalu menggandeng mesra tangan Anggara. Merasa diperlakukan seperti itu, pria itu berjalan sembari membusungkan dadanya. Agar terlihat semakin gagah.
"Kita mau makan apa?" Tanya Anggara, sambil melajukan mobilnya.
"Spaghetti dan pizza."
Anggara menganggukkan kepalanya, dan menambah laju kendaraan roda empatnya.
__ADS_1
Sesampainya di restoran yang dituju, keduanya berjalan memasuki tempat itu sambil bergandengan tangan dengan mesra.
"Mas, kapan kita akan beli seserahan untukku?"
"Beli online saja."
"Ngga mau. Aku maunya beli offline saja, biar bisa dekat denganmu."
Olive memasang wajah manja, membuat Anggara gemas dan menarik ujung bibirnya yang mengerucut.
"Bagaimana kalau besok? Mumpung weekend."
"Okay. Beneran ya, mas." Olive terlihat berbinar wajahnya.
"Iya, tapi kamu kan yang bayar." Ucap Anggara sambil meringis.
Wajah Olive yang tadi berbinar, berubah mendung. Ketika mendengar Anggara berbicara seperti itu.
"Dalam perjanjiannya kan memang seperti itu. Lagian barang-barang itu nantinya juga yang pakai kamu semua."
"Tapi ya ngga gitu juga kali. Semua barang-barang seserahan nanti yang pakai memang aku. Tapi yang melihat dan menikmati kamu juga kan? Atau kamu mau barang-barang seserahannya di pakai untuk kita berdua. Kita joinan makeup, bra...."
"Memangnya aku ini kaum melambai?" Potong Anggara dengan kesal, mendengar ocehan calon istrinya yang ngelantur.
Tak lama kemudian, pesanan mereka datang. Mata Olive berbinar ketika melihat hidangan yang sudah tersaji diatas meja. Sedangkan Anggara terkejut, ketika melihat menu makanan dengan jumlah yang banyak itu.
"Kamu tidak salah pesan kan, Olive?"
Gadis dihadapannya yang sedang mengaduk makanannya itu, menggelengkan kepalanya.
"Tapi kenapa banyak sekali? Biasanya makan mu kan sedikit." Protes Anggara, seolah tak percaya.
"Itu kan dulu. Apa kamu lupa? Sekarang ini aku sedang mengandung anakmu, jadi harus banyak makan."
__ADS_1
"Tapi nanti kalau kamu gendut bagaimana?"
"Gampang, banyak obat pelangsing kok." Sahut Olive santai, sambil menikmati makanannya.
Anggara hanya bisa geleng-geleng kepala, lalu ikut menikmati makanan yang sudah tersaji itu.
Hanya dalam waktu singkat, makanan itu sudah ludes. Keduanya sama-sama kekenyangan.
"Nah, kamu makannya juga banyak kan? Kita kenyang bersama. Tidak usah banyak protes seperti tadi." Ucap Olive, sambil menaikkan sebelah sudut bibirnya.
"Benar juga apa katamu. Ya sudah, sekarang ayo kita bayar pesanannya." Ajak Anggara sambil berdiri.
"Sayang, ayo bayar." Bisik Anggara, pada Olive.
"Aku?" Olive menunjuk batang hidungnya sendiri.
"Iyalah."
"Kamu dong mas, yang bayar. Biar kamu terlihat lelaki yang bertanggung jawab."
"Benar juga apa yang kamu katakan."
Anggara merogoh dompetnya, dan mengeluarkan ATM nya dengan enteng.
Sementara Olive menyunggingkan senyum tipis, merasa rencananya untuk membuat calon suaminya membayarkan pesanannya berhasil.
Selanjutnya ia akan melakukan cara itu, agar ia tidak perlu repot-repot keluar uang, untuk membayar setiap pengeluarannya.
Setelah itu, mereka kembali masuk mobil, dan bergerak menuju kantor Olive. Saat dalam perjalanan pulang, keduanya terkejut ketika melihat seseorang yang tengah memasang banner, berisi foto Tsamara.
Anggara menelan saliva, karena semakin kagum dengan gadis itu. Sedangkan Olive terlihat tidak suka dengan foto itu.
'Kenapa sih, gadis miskin itu fotonya selalu membuat mataku sakit saja.' batin Olive kesal.
__ADS_1