Gagal Menikah Gara-gara Gendut

Gagal Menikah Gara-gara Gendut
136. Acara di kediaman Thoriq


__ADS_3

Serangkaian acara untuk penyambutan kedua mempelai di lakukan. Terdiri dari sambutan-sambutan, dan acara adat seperti meminum air putih dari kendi yang di tuang ke dalam gelas-gelas kecil. Setelah itu barulah pengantin dipersilahkan duduk.


Kedua orang tua Olive yang hadir, karena memang di undang oleh Thoriq, juga tidak dapat menyembunyikan kekagumannya pada kecantikan Tsamara. Pak Sanusi pun baru menyadari jika Tsamara jauh lebih cantik dan anggun ketimbang anaknya.


Berbeda dengan Anggara dan Olive yang sulit sekali untuk mengikhlaskan takdir yang sudah digariskan oleh Tuhan untuk mereka. Anggara tampak geleng-geleng kepala melihat penampilan baru Tsamara. Sedangkan Olive merasa kalah saing dengan istri Thoriq.


Acara selanjutnya pun di mulai. Sebenarnya acaranya juga hampir sama dengan yang dilakukan di kediaman Tsamara. Ada acara sungkeman, foto bersama, dan di tambah dengan tausyiah.


Semua orang memperhatikan dengan seksama tausyiah singkat yang dibawakan oleh seorang ustadz. Apalagi saat itu, tausyiah yang disampaikan seputar nasehat pernikahan.


Bahwa menjalani biduk rumah tangga bukanlah suatu hal yang mudah. Akan ada banyak ujian dan cobaan di dalamnya.


Barang siapa yang mampu melewatinya dengan sabar dan ikhlas, pasti akan mendapatkan kebahagiaan di dalamnya. Kedamaian dalam menjalani setiap detik kehidupan berumahtangga dengan pasangannya.


Dan barang siapa yang tidak bisa melewatinya dengan sabar dan ikhlas, maka yang didapatkan hanyalah kesia-siaan belaka. Bukannya adem-ayem, dan tentram, tapi justru akan ribut setiap hari. Walaupun itu menyangkut perkara kecil.


Thoriq dan Tsamara mengangguk-anggukkan kepalanya tanda paham, tentang apa yang harus ia lakukan demi menjaga keutuhan rumah tangganya.


Olive dan Anggara yang awalnya malas-malasan memperhatikannya tapi karena telinga keduanya masih dapat mendengarkannya, perlahan mulai meresapi dan memaknai setiap ucapan dari sang ustadz.


Pikiran keduanya menerawang jauh memikirkan hari-hari yang sudah mereka lewati bersama. Tidak pernah ada kasih sayang yang tulus untuk pasangannya. Yang ada hanya cek-cok setiap harinya.


Ada saja hal kecil yang selalu mereka jadikan bahan untuk meluapkan emosi. Andaikata keduanya mampu untuk menahan perasaannya, pasti cek-cok setiap hari bisa dikurangi atau bahkan dihindari.


Jika mengingat itu semua, rasanya keduanya begitu menyesal. Harusnya bisa sedikit menahan hati, tindakan dan ucapan yang bisa saja menyakiti hati pasangan.


Keduanya beradu pandang, tapi lisan mereka terasa sulit untuk mengucap kata maaf. Bahkan seulas senyum pun tidak ada.


Tanpa terasa kini sudah tiba di penghujung acara. Keluarga mempelai bangkit berdiri dan berjejer di atas pelaminan. Tamu undangan juga berjejer rapi dan satu persatu menyalami untuk mengucapkan selamat dan doa bagi pengantin baru.


Olive dan Anggara memilih keluar duluan tanpa mengucapkan selamat ataupun doa bagi kedua mempelai.


Karena Anggara membawa mobil sendiri, maka ia dan Olive segera melajukan mobilnya meninggalkan tempat parkir.


Suasana hening meliputi keduanya, sepanjang perjalanan pulang. Hingga akhirnya, Anggara berbicara duluan.


"Kamu mau pulang ke rumah orang tuamu atau ke rumah orang tuaku?"

__ADS_1


"Sebenarnya aku ingin pulang ke rumah orang tuaku. Di rumahmu mamamu memperlakukan ku seperti pembantu. Aku di suruh untuk mengerjakan pekerjaan rumah. Apa dia tidak sayang dengan bayi dalam kandungan ku? Meskipun awalnya aku membencinya, tapi lama-kelamaan aku juga kasian dengannya." Olive menundukkan kepalanya melihat perutnya yang sudah sedikit membuncit. Ia mengusapnya pelan.


"Baiklah, aku setuju." Balas Anggara singkat.


Perlahan pria itu juga menaruh rasa iba, ketika beberapa kali melihat mamanya menyuruh istrinya untuk mengerjakan tugas rumah, padahal di rumahnya juga sudah ada asisten rumah tangga.


Mobil Anggara sampai lebih dahulu di kediaman Olive. Keduanya turun dari mobil dan berlalu menuju kamarnya.


**


Sementara itu di kediaman Thoriq, setelah seluruh tamu undangan pulang, pak Abas dan kedua adik Tsamara juga berpamitan pulang.


"Jadi istri yang baik untuk suamimu, dan juga jadi menantu yang baik untuk mama mertuamu, ya sayang."


"Tsamara akan berusaha melakukan yang terbaik untuk keduanya, pa."


"Hem, bagus itu. Papa percaya padamu."


Pak Abas meletakkan kedua tangannya di bahu putri sulungnya, sambil menyunggingkan senyum. Lalu keduanya berpelukan erat. Setelah itu, pandangannya beralih pada Thoriq.


"Thoriq, sekarang papa titip putri papa padamu. Jaga dan bimbing ia dengan sebaik mungkin."


"Papa percaya padamu." Pak Abas menepuk pelan bahu menantunya sambil tersenyum, dan memeluknya.


Setelah mengurai pelukannya, pak Abas kini beralih pada Bu Husna.


"Bu, saya titip putri kami. Tolong bimbing dan sayangi dia seperti anda membimbing dan menyayangi putra anda sendiri. Ingatkan dia dengan baik ketika ia melakukan kesalahan."


"Saya akan berusaha membimbing dan menyayangi Tsamara dengan baik, seperti anak saya sendiri pak. Apalagi ia adalah seorang gadis yang baik." Bu Husna menyunggingkan senyum tipis pada besannya. Pak Abas pun membalasnya dengan hal yang sama.


Setelah itu, giliran Farah yang berpamitan. Tidak dapat dipungkiri, Farah dan Tsamara saling menitikkan air mata ketika berpelukan. Dan kini tibalah giliran Soffin.


"Kak, habis ini cepetan pulang ya. Kemarin Soffin kesal karena kakak dan kak Thoriq tidak keluar seharian. Sebenarnya di dalam kamar ngapain saja sih?"


Semuanya terkekeh mendengar ucapan polos Soffin. Tapi bocah kecil itu justru mengernyitkan dahi, karena merasa ditertawakan.


"Kak Tsamara biarkan di sini dulu sementara waktu. Siapa tahu ada tamu yang datang. Kalau tidak bertemu dengan pengantinnya kan kasian juga." Farah menasehati adiknya.

__ADS_1


"Betul apa kata kak Farah. Seperti kemarin saat acara di tempat kita, juga seperti itu kan?" Papa menimpali ucapan Farah.


"Iya-iya, berarti besok baru pulang ke rumah kan?" Bocah kecil itu, masih saja ngotot dengan pendiriannya.


Setelah menenangkan si kecil Soffin, rombongan pak Abas pulang. Tsamara dan keluarga barunya menatap kepergiannya, hingga mereka menghilang di balik cetarnya udara di siang hari.


"Thoriq, ajak istrimu untuk beristirahat. Pasti kalian capek sekali bukan?"


"Baik, ma. Ayo, Tsa." Pandangan Thoriq beralih dari mamanya ke istrinya. Lalu melingkarkan tangannya di bahunya.


Pasangan pengantin baru itu berjalan menuju kamarnya. Thoriq membantu memegangi gaun yang dikenakan oleh istrinya, agar tidak jatuh terserempet kainnya yang lebar.


Sesampainya di kamar, Thoriq mendudukkan Tsamara di depan meja rias. Lalu membantunya melepaskan segala aksesoris yang menempel di seluruh tubuhnya.


"Terima kasih, kak sudah dibantuin." Tsamara menatap wajah suaminya dari pantulan cermin sambil menyunggingkan senyum.


"Sama-sama, sayang."


Thoriq pun menatap wajah istrinya dari pantulan cermin, dan menyunggingkan senyum yang sama manisnya. Ia melingkarkan kedua tangannya di perut ramping Tsamara, sedangkan dagunya diletakkan di bahunya.


Menghangat hati Tsamara, ketika suaminya memanggilnya dengan sebutan, sayang.


"Bolehkah kakak memanggilmu dengan panggilan sayang? Karena kakak begitu menyayangi mu."


"Tentu saja boleh, kak." Tsamara menganggukkan kepalanya dengan masih tersenyum.


Perlahan Thoriq menaikkan wajahnya, lalu memberi kecupan di sebelah pipi Tsamara.


"Kakak." Tsamara memegang sebelah pipinya yang baru saja di kecup Thoriq.


"Kenapa? Apa pipi yang satunya iri, karena belum di kecup?"


Dengan gerak cepat, Thoriq mengecup sebelah pipi yang satunya lagi. Kini Tsamara memegangi kedua sisi pipinya yang tampak memerah karena di kecup.


"Jangan membuatku gemas seperti itu, sayang. Takutnya aku tidak tahan, lalu kembali menerkam mu."


Setiap untaian kata yang keluar dari bibir Thoriq selalu saja membuat Tsamara memerah wajahnya.

__ADS_1


"Ayo kita membersihkan diri dulu." Thoriq menarik pelan lengan Tsamara, yang tampak menganggukkan kepalanya, lalu bangkit berdiri dan mengikuti langkah suaminya.


__ADS_2