
Pada malam harinya setelah makan malam bersama, Tsamara, Thoriq dan Bu Husna berkumpul di ruang keluarga.
Tsamara dan Thoriq menceritakan pengalamannya selama berada di sana, atas permintaan Bu Husna.
Tak lupa Tsamara menyerahkan oleh-oleh untuk mama mertuanya. Yakni sebuah tas dan jam tangan, yang mereka beli dari Majeedhee Magu.
Majeedhee Magu adalah salah satu pusat oleh-oleh yang ada di pulau Maldives. Di sana banyak menyediakan aneka souvernir yang beraneka ragam. Mulai dari tas, jam tangan, pakaian, bahkan kosmetik pun juga ada di sana.
Sebenarnya kemarin Thoriq dan Tsamara tidak hanya mengunjungi Majeedhee Magu saja. Tapi keduanya juga mengunjungi Chaandanee Magu dan pasar lokal.
Seperti halnya Majeedhee Magu, Chaandanee Magu juga merupakan tempat untuk berburu oleh-oleh khas Maldives yang cukup terkenal di kalangan para turis.
Di tempat itu ada banyak penjual yang menjual kerajinan tangan yang terbuat dari kayu. Ada pula yang menjual hasil alam hingga makanan yang lezat.
Di pasar lokal, banyak penjual yang menjajakan makanan khas Maldives. Ada juga yang menjual sayuran, acar, manisan, hingga aneka jenis permen manis.
Selain berbulan madu, keduanya menikmati kuliner itu bersama. Untuk sesaat Tsamara melupakan program dietnya. Ia mencicipi makanan itu sedikit-sedikit. Karena ia tidak tahu kapan bisa mengunjungi tempat itu lagi.
Ketika menceritakan hal itu, pasangan suami-istri itu tampak berbinar wajahnya. Keduanya mengingat berbagai hal yang telah mereka lalui bersama di pulau kecil itu.
Bu Husna yang bisa melihat pancaran kebahagiaan di wajah mereka, juga ikut menyunggingkan senyum. Jika anak dan menantunya bahagia, ia pun ikut bahagia.
Hari sudah cukup larut, Bu Husna menyuruh anak dan menantunya untuk kembali ke kamar dan beristirahat.
Terdorong oleh rasa lelah, mereka pun bangkit dari duduknya dan berjalan menuju kamar masing-masing.
**
Keesokan harinya Tsamara bisa bangun pagi. Namun, saat ingin ke kamar mandi, ia merasakan kepalanya sedikit berputar. Ia pun sejenak berdiam diri di tepi ranjang tempat tidur, untuk menghilangkan rasa pusingnya.
"Apa karena aku jarang naik pesawat ya? Di tambah lagi asistennya kak Thoriq kebut-kebutan menyetirnya." Gumam Tsamara, ia takut mengganggu tidur suaminya.
Setelah enakan, Tsamara bangkit dari duduknya dan berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. Kemudian turun ke lantai bawah, untuk membantu ibu mertuanya mengerjakan pekerjaan rumah.
Meskipun sudah ada asisten rumah tangga, ia tidak keberatan untuk melakukan pekerjaan itu. Karena ia memang sudah terbiasa melakukannya.
Bu Husna yang mengetahui Tsamara ingin membantunya memasak, melarangnya. Ia khawatir jika menantunya itu masih kecapekan. Namun sungkan untuk kembali tidur.
__ADS_1
Tsamara menolak untuk kembali tidur setelah sembahyang. Baginya mengerjakan tugas rumah, adalah olahraga ringan yang mengasyikkan.
Bu Husna tak lagi bisa melarangnya. Keduanya kembali memasak menu sarapan pagi bersama.
**
Perlahan, Tsamara sudah merasa enak lagi badannya. Dan, pada saat sore hari, ia dan suaminya pergi ke rumah orang tuanya. Tak lupa keduanya berpamitan pada Bu Husna.
"Ma, Tsamara pamit pulang ke rumah papa dulu ya." Ucap istri Thoriq, sambil menjabat tangan ibu mertuanya, lalu menciumnya dengan takzim.
"Iya, sayang. Hati-hati. Jaga selalu kondisi badanmu." Bu Husna tersenyum, sambil mengusap lembut bahu menantunya.
Setelah itu, Thoriq pun melakukan hal yang sama dengan yang istrinya lakukan. Lalu keduanya masuk mobil, dan melambaikan tangannya pada Bu Husna.
**
Menempuh perjalanan kurang lebih tiga puluh menit, pasangan suami-istri Tsamara dan Thoriq, tiba di kediaman pak Abas.
Seperti halnya saat keduanya pulang dari berbulan madu, di mana mereka tidak memberitahu tentang kepulangannya pada Bu Husna. Kini keduanya kembali melakukan hal yang sama. Tidak memberitahu pada keluarganya jika sudah pulang dari berbulan madu.
Tsamara sengaja menekan bel berulang kali. Penghuni rumah tentu saja merasa terganggu akan hal itu.
"Paling juga teman kak Farah."
"Enak saja. Teman kak Farah itu semuanya sopan. Biasanya yang ngga sabar menekan bel itu anak SD. Ayo, cepetan bukain pintunya."
"Ih, ganggu orang saja."
Dengan mengerucutkan bibirnya, Soffin berjalan menuju pintu utama. Saat membuka pintunya, ia sangat terkejut dengan mulut yang menganga.
"Kak Tsa." Gumamnya, lalu menghambur ke pelukan kakaknya, yang tengah tersenyum manis padanya.
"Kak Tsamara!" Pekiknya sekali lagi, yang mengundang perhatian seluruh anggota keluarganya.
Farah dan papa berjalan pelan menuju ruang tamu. Begitu pula dengan asisten rumah tangga di tempat itu.
Mereka membulatkan matanya melihat siapa yang tengah berdiri di ambang pintu. Lalu berlari kecil menyongsong kedatangan anggota keluarganya yang sudah satu bulan lebih tidak bertemu.
__ADS_1
"Tsamara."
"Kak Tsa." Ucap papa dan Farah bersamaan. Lalu keduanya memeluk Tsamara.
Thoriq tersenyum melihat hal itu, karena mereka terlihat begitu saling menyayangi.
Setelah puas berpelukan dengan Tsamara, pak Abas dan kedua anaknya menyalami dan berpelukan dengan Thoriq.
"Kenapa kak Thoriq sekarang jahat banget. Tega menculik kak Tsamara lama sekali." Celetuk Soffin, yang membuat mereka para orang dewasa terkekeh.
Thoriq menggendong Soffin, lalu mereka berjalan beriringan menuju ruang keluarga.
"Kak Thoriq tidak jahat. Justru sangat baik, karena mengajak kak Tsamara jalan-jalan ke tempat yang jauh." Jelas suami dari Tsamara.
"Oh ya, kemana? Kenapa Soffin tidak di ajak?"
"Bulan kemarin, kak Thoriq mengkhususkan waktu untuk kak Tsamara. Kalau bulan ini dan bulan-bulan depan, kakak menyediakan waktu untuk Soffin dan sekeluarga. Kamu mau kemana, kakak akan berusaha untuk menurutinya."
"Wow! Beneran nih, kak? Janji?" Soffin berbinar wajahnya.
"Iya dong. Makanya sekarang tidak usah ngambek seperti itu, jelek tahu. Nanti kakak ngga mau ngasih kamu oleh-oleh lho."
"Ampun. Soffin, tidak akan nakal lagi." Bocah kecil itu mengacungkan kedua jarinya sambil tersenyum.
Kini mereka sudah berada di ruang keluarga. Thoriq bisa menghirup nafas lega, karena baru saja menurunkan Soffin dari gendongannya.
Tak lama kemudian setelah mereka duduk di ruang keluarga, asisten rumah tangga datang membawakan minuman dan cemilan. Lalu meletakkannya di meja.
Momen itu Tsamara gunakan untuk membagi oleh-oleh pada anggota keluarganya, dan juga untuk para asisten rumah tangganya.
Tentu saja hal itu membuat semua orang sangat senang, karena mendapatkan souvernir dari negeri yang nun jauh di sana.
Tak lupa mereka mengucapkan terima kasih, dan mendoakan untuk kebaikan pernikahan Tsamara dan Thoriq.
Cukup lama mereka bercakap-cakap di ruang keluarga. Sehingga membuat keluarga Tsamara, tergoda ingin pergi kesana juga.
Farah yang kebetulan memegang handphone, diam-diam browsing tentang pulau itu. Pikirannya berkelana, matanya mengerjap berulang kali, membayangkan jika posisinya seperti kakaknya.
__ADS_1
Dan kehaluannya seketika buyar, ketika mendengar suara Soffin yang memekik ingin segera kesana.
"Ih, dasar bocah. Suara cempreng mu mengganggu kehaluan kakak saja deh." Farah menoyor kepala adiknya.