
Mau tak mau Anggara duduk di kursi kebesarannya, dan mulai membuka satu persatu berkas, lalu mengerjakannya.
Baru dapat dia berkas, ia sudah di ganggu oleh suara handphonenya. Ia pun meletakkan bolpoin yang ia pegang. Lalu merogoh handphone dari saku celananya.
"Pasti Tsamara." gumamnya senang.
Tapi raut wajahnya langsung berubah seratus delapan puluh derajat. Ketika yang mengiriminya pesan bukan Tsamara. Melainkan Olive.
"Mas, kapan kamu mau melamar ku?" itulah bunyi pertanyaan Olive melalui pesan singkat.
"Melamar? Memangnya dia positif hamil? Kawin saja, baru kemarin." gumam Anggara sambil geleng-geleng kepala.
Laki-laki itu tidak tahu, jika tingkat kesuburan seseorang itu berbeda-beda.
Ada yang sangat subur. Jadi ketika dibuahi, walaupun hanya sekali, sudah bisa langsung jadi. Begitu pula sebaliknya. Ada yang berkali-kali dibuahi, tapi tidak kunjung jadi-jadi.
Anggara pun meletakkan handphonenya di meja kerja. Lalu kembali mengerjakan tugasnya. Setelah itu, tak berselang lama. Handphonenya kembali berdering. Ia melongok menatap layar handphone.
"Olive lagi." gumamnya.
__ADS_1
"Iya, sayang. Aku akan secepatnya datang untuk melamar mu. Tapi kedua orang tua mu setuju kan? Kalau kita mau menikah? Aku takutnya mereka tidak menyetujui pernikahan kita. Terus aku diperlakukan seperti Upik abu." balas Anggara lewat pesan singkat.
Ya, Anggara sudah tahu, jika pak Sanusi kurang menyukainya. Ia juga tidak tahu apa sebabnya. Karena ia juga tidak mau berintrospeksi diri.
"Duh, ngantuk plus lapar juga nih. Malah pekerjaan belum ada yang kelar." gumam Anggara sambil menyandarkan punggungnya di kursi kerjanya.
"Minum kopi saja dulu kali ya. Telepon OB saja lah." gumam Anggara, sambil melirik jam di pergelangan tangan kirinya.
Melihat jarum jam yang telah menunjukkan pukul tujuh lebih. Ia yakin jika OB nya sudah datang. Ia pun meraih telepon kantor, untuk menghubungi OB nya.
Setelah selesai menelpon, ia kembali melanjutkan pekerjaannya. Tak berselang lama, terdengar suara ketukan pintu. Ia mempersilakan masuk.
"Ini, pak. Kopinya." ucap laki-laki berseragam orange, sambil meletakkan secangkir kopi moccachino di meja kerja Anggara.
OB nya menarik sebelah sudut bibirnya, sambil geleng-geleng kepala. Melihat kelakuan anak bos nya yang di anggap sangat sombong.
Setelah kepergian OB, Anggara ingin mencicipi minumannya. Ia pun meraih cangkir mug itu, dan mulai menyesap isinya.
"Anggara! Sudah selesai belum pekerjaannya?" ucap papanya dengan suara yang lantang dan keras. Sambil menghempaskan pintu hingga mengenai dinding. Dan menimbulkan bunyi yang cukup keras.
__ADS_1
Anggara tersentak kaget. Hingga kopi yang baru ia minum, menyembur kembali keluar dari mulutnya. Dan mengenai beberapa berkas penting yang ada dihadapannya.
Selain itu, kopi yang ia sesap tadi, juga masih sangat panas. Sehingga bibir dan lidahnya juga ikut kepanasan.
"Papa, apa-apaan sih? Buat aku kaget saja." sungut Anggara dengan sangat kesal. Sambil meletakkan kopinya kembali.
Sementara itu, pak Anwar tidak mendengarkan ucapan anaknya. Melainkan mendekat ke arah meja, dengan setumpuk berkas yang menghiasi tempat itu.
"Bukannya papa menyuruhmu berangkat pagi sekali, agar bisa menyelesaikan semua pekerjaan ini. Tapi kenapa belum ada yang selesai. Dan bahkan, apa-apaan ini. Kenapa kamu mengotorinya?" protes pak Anwar, setelah mengecek satu persatu berkas. Tapi tidak ada yang sesuai dengan keinginannya.
"Pa, Anggara ini kan anaknya papa. Kenapa papa tega memberi pekerjaan sebanyak ini padaku? Bukannya papa juga memiliki banyak karyawan?"
"Papa melakukan semua ini juga demi kamu. Karena kamu satu-satunya penerus perusahaan papa ini. Jadi kamu harus dilatih, agar memiliki skill yang mumpuni. Kalau kamu saja menjadi pimpinan perusahaan ini tidak becus kerjanya. Bagaimana perusahaan kita mau berkembang? Yang ada malah justru semakin mundur. Dan akhirnya bangkrut." jelas pak Anwar panjang lebar.
Namun, sepertinya nasehat papanya yang panjang lebar itu, tidak masuk ke sanubari Anggara. Justru ia terlihat semakin dongkol. Mumpung masih muda, ia inginnya bersenang-senang.
"Hei. Kenapa kamu malah diam saja? Cepat selesaikan pekerjaan mu itu. Dan nanti, jangan lupa antar ke ruangan papa." pak Anwar melempar satu berkas yang ia bawa ke meja Anggara. Lalu memutar tumit, dan berjalan keluar ruangan.
Anggara mendengus kesal. Sepagi ini sudah dibuat frustasi oleh tingkah semua orang. Mulai dari Olive, jalanan yang macet, kopi yang panas, dan terakhir papanya.
__ADS_1
Ia juga mengusap bagian bibir dan lidahnya yang terasa kepanasan.
"Apa semua ini gara-gara, Tsamara. Ya, aku kan terlalu memikirkannya. Aku benar-benar tidak bisa melupakan pesonanya." gumam Anggara sambil menyandarkan punggungnya, lalu senyum-senyum sendiri. Sepertinya ia lupa, tadi papanya menyuruhnya apa.