
Tsamara dan Thoriq duduk berdua di saung. Tempatnya begitu teduh, sehingga membuat keduanya betah berlama-lama duduk disitu.
Tak lama kemudian, pesanan mereka datang. Nila bakar bumbu rujak, nasi beras merah, cah kangkung, jus buah naga dan jus tomat disajikan dihadapan keduanya oleh pelayan.
Setelah mencuci tangan, keduanya mulai mencicipi makanan itu.
Saat sedang mendongakkan kepalanya, tak sengaja Thoriq melihat seorang laki-laki yang tengah menatap Tsamara tanpa kedip. Tak bisa dipungkiri, hatinya mulai terbakar cemburu.
Seketika matanya menatap tajam pada laki-laki itu, ketika tak sengaja pandangan keduanya saling bertemu. Tapi pria yang melihat Tsamara tadi, justru malah menyunggingkan senyum.
"Apa maunya dia?" Gumam Thoriq.
"Maksudnya, kak?" Tsamara menatap calon suaminya, sambil mengernyitkan dahi.
"Eh, tidak apa-apa kok." Thoriq menyunggingkan senyum.
"Sebentar lagi kita akan menikah lho. Tidak boleh main rahasia-rahasiaan segala." Tsamara menyunggingkan senyum sambil menaikturunkan alisnya.
Thoriq gemas melihat calon istrinya seperti itu.
"Ada seorang pria yang tengah menatapmu serius." Balasnya kemudian.
"Oh, ya. Mana?" Tsamara celingukan mencari orang yang dimaksud Thoriq.
"Dia ada di kanan saung kita."
Tsamara pun menoleh mengikuti petunjuk calon suaminya. Ternyata memang benar apa yang dikatakan olehnya.
__ADS_1
Pria berbaju merah tengah menatapnya intens, sambil menyunggingkan senyum menggoda. Padahal dihadapannya sudah ada seorang perempuan.
Gadis itu tak habis pikir, kenapa begitu banyak laki-laki seperti Anggara di dunia ini.
"Melihatnya saja sudah membuat ku ilfill, kak. Dia jelalatan sekali. Kenapa ada laki-laki yang sikapnya seperti Anggara ya. Padahal sudah memiliki pasangan sendiri." Celoteh Tsamara.
"Mereka terlalu tamak, sehingga tidak puas dengan apa yang dimilikinya. Padahal jika kita pandai bersyukur, pasti semuanya akan terasa jauh lebih baik dan menyenangkan."
Tsamara manggut-manggut mendengar penjelasan calon suaminya.
"Apa kakak akan berbuat seperti laki-laki itu? Jika kita sudah lama menikah dan memiliki anak, lalu aku kembali gendut dan jelek." Celetuk Tsamara.
Bagaimana pun juga, perasaan khawatirnya kembali muncul karena melihat laki-laki yang memiliki sifat sama seperti Anggara.
"Kamu bicara apa? Mana tega aku meninggalkanmu hanya karena gendut efek melahirkan anakku? Aku bukan laki-laki seperti itu. Mau bukti?" Tantang Thoriq.
"Mau dong." Tsamara mengangguk antusias.
Tsamara menganga sambil membulatkan matanya, mendengar ucapan calon suaminya yang absturd itu.
Ia tidak menyangka, pria itu bisa berbicara soal perkembangbiakan manusia.
"Tsa! Hallo. Kenapa kamu diam saja?" Thoriq melambaikan tangannya dihadapan Tsamara.
"Kak Thoriq bisa juga bicara nyeleneh seperti itu?"
"Nyeleneh?" Ulang Thoriq.
__ADS_1
"Iya, kak Thoriq nyeleneh banget. Aku jadi merinding."
"Aku rasa setiap pasangan yang akan menikah atau baru saja menikah, akan membahas hal itu. Untuk melihat seberapa jauh kesiapan keduanya dalam menyambut kehadiran seorang bayi di hidup mereka.
Lihat saja kasus aborsi, bayi dibuang, atau perceraian dan mungkin masih banyak lagi kasus lainnya. Karena mereka tidak membicarakannya dengan pasangannya terlebih dahulu.
Kalau sudah menikah, segala sesuatunya ya harus dibicarakan berdua. Agar semuanya merasa nyaman dan tidak timbul salah paham. Lagian, bukankah kamu tadi bertanya soal bukti? Ya sudah aku jawab saja apa adanya."
Tsamara terdiam sekian detik, sambil mencerna ucapan calon suaminya. Pria dihadapannya itu tidak hanya tampan, mapan tapi juga berwibawa dan setiap perkataannya mengandung petuah. Ada benarnya juga yang ia katakan.
Hal itu semakin meyakinkan hati Tsamara, bahwa dia adalah laki-laki yang tepat untuk menjadi pasangan hidupnya.
"Lebih cepat yuk, makannya." Ajak Thoriq. Tsamara pun menganggukkan kepalanya.
Setelah menghabiskan makanannya, mereka segera berlalu dari tempat itu. Saat melewati saung yang ditempati oleh lelaki yang menatapnya tadi, Tsamara berhenti.
"Mbak, boleh bertanya sebentar?" Tanya Tsamara, pada wanita yang duduk didekat pria yang menatapnya tadi.
"Ada apa ya, mbak?"
"Maaf jika pertanyaan saya mungkin kurang sopan. Anda ada hubungan apa dengan pria disamping anda ini?"
Wanita itu menoleh pada pria disampingnya, lalu kembali menatap Tsamara.
"Dia calon suamiku." Balasnya singkat, pada Tsamara.
"Maaf ya mbak, aku rasa pria didekat anda ini bukanlah orang yang baik. Sejak tadi dia terus menerus menatapku, sehingga membuatku ilfill, dan membuat calon suamiku tidak senang.
__ADS_1
Saya mengatakan hal ini bukan karena sombong atau bagaimana. Tapi hanya memposisikan diriku jika berada diposisi, mbak. Sakit tahu nggak, kalau dikhianati cintanya oleh orang yang kita sayang. Sebaiknya pikirkan baik-baik lagi, sebelum semuanya terlambat."
"Benar apa yang dikatakan calon istri saya, mbak. Kalau begitu, kami permisi dulu. Ayo Tsa, kita pergi dari sini."