
"Kak, kapan mulai pemotretannya?" Ucap Tsamara, yang membuat Thoriq tergeragap dari lamunannya. Ternyata bidadari nya sudah ada di dekatnya.
"Eh, iya. Ayo, kita mulai pemotretannya sekarang. Aldi, kamu sudah siapkan?" Tanya Thoriq dengan suara parau. Entah kenapa berada di dekat Tsamara, membuatnya bagai tersengat aliran listrik.
"Sudah siap dari tadi, bos." Balas Aldi sang fotografer, disertai kekehan kecil.
"Baiklah, Tsamara kamu bisa kesana." Thoriq menunjuk ke arah Aldi berdiri.
Gadis cantik dan mempesona itu berjalan ke arah Aldi, sesuai perintah Thoriq. Ia bersiap mendengarkan arahan dari Aldi, sebelum pemotretan di mulai.
Setelah mendapat arahan, barulah Tsamara mulai bergaya. Kali ini ia sudah tidak canggung lagi. Hasilnya juga sangat bagus. Berkali-kali Aldi mengarahkan ibu jarinya ke arah Tsamara.
Sesi pemotretan berhenti sejenak, karena Tsamara hendak mengganti kostumnya. Sementara itu Aldi memperlihatkan hasil fotonya pada bos nya.
Thoriq manggut-manggut memperhatikan setiap deretan foto Tsamara. Gadis itu benar-benar mencuri perhatiannya.
"Kirimkan semua fotonya ke handphone ku. Tanpa ada yang terlewat." Bisik Thoriq.
"Siap, bos." Aldi menyunggingkan senyum.
"Tuan, nona Tsamara sudah siap." Ucap mbak Rima menginstruksi kedua laki-laki yang tengah berbisik itu.
'Kenapa mataku tak bisa berhenti menatapnya?' batin Thoriq saat menatap ke arah Tsamara yang berada di hadapannya.
Kali ini Tsamara mengenakan kaos crop lengan pendek berwarna hitam, dan celana berwarna merah menyala. Rambutnya juga di ikat ke belakang. Dan anting-anting sebesar gelang menghiasi kedua sisi telinganya. Kakinya berbalut sepatu berwarna merah. Sangat mempesona sekali.
Aldi mengacungkan ibu jarinya, lalu bangkit dari tempat duduknya. Ia dan Tsamara berjalan menuju ke tempat pemotretan yang kedua.
__ADS_1
Semakin luwes saja gaya Tsamara. Tak dipungkiri, baik mbak Rima ataupun Aldi juga memuji gadis itu.
Akhirnya tahap pemotretan selesai. Tsamara dipersilahkan duduk di samping Thoriq. Lalu Aldi berdiri sambil memperlihatkan hasil jepretannya.
Tsamara juga tak percaya, dirinya bisa secantik dan selihai itu dalam berlenggak lenggok.
Setelah selesai melihat hasilnya, Tsamara kembali ke ruang ganti. Untuk mengganti pakaiannya.
Tak lama kemudian, ia sudah keluar dari ruang ganti. Ia minta riasannya tadi dihapus dari wajahnya. Karena sebenarnya ia memang tidak suka berhias.
Thoriq mengajak Tsamara ke ruangannya, tapi gadis itu menolaknya. Karena ia harus segera menyelesaikan pekerjaan menulisnya.
Sebenarnya Thoriq cukup kecewa dengan menerima penolakan itu. Tapi ia tidak bisa memaksa juga. Akhirnya pria itu mengantar Tsamara sampai di lobby.
"Hati-hati ya." Nasehat Thoriq.
Tsamara tersenyum, lalu melangkahkan kakinya menuju mobilnya terparkir. Gadis itu mengemudikan mobilnya agar bisa sampai rumah lebih cepat.
Sesampainya di rumah, ia duduk di dekat duduk di tepi ranjang sambil menatap ke arah layar laptopnya.
Matanya membulat melihat notifikasi pesan yang masuk. Novel pertamanya akan diangkat ke layar lebar. Dan tentu saja untuk itu, ia akan mendapatkan royalti yang fantastis.
Tak berselang lama, muncul pula notifikasi di handphonenya. Ia mendapat undangan untuk mengisi sebuah acara di sekolah swasta terbuka. Untuk menjadi pembicara.
Tsamara sampai membungkam mulutnya, karena merasa speechless dengan apa yang didapatkan.
"Aku harus menerima semua ini. Aku tidak boleh menyia-nyiakan kesempatan yang sudah ada di depan mata." Gumamnya yakin.
__ADS_1
Gadis itu segera membalas semua pesan itu, setelahnya ia kembali menulis.
**
"Kakak diundang untuk menjadi pembicara disebuah acara di sekolah?" Ulang Farah.
Tsamara menganggukkan kepalanya sambil meringis ke arah adiknya.
"Wow. Kakak benar-benar hebat banget. The best banget dan aku rasa tidak ada yang bisa mengalahkan kakak." Imbuh Farah lagi, sambil mengacungkan kedua ibu jarinya.
"Benar apa yang dikatakan Farah. Papa semakin bangga saja padamu nak. Semoga lewat jalan ini kamu bisa meraih kesuksesan."
"Terima kasih do'anya, pa."
"Kak, kalau kakak semakin terkenal. Masih mau antar jemput Soffin sekolah dan les kan?"
"Ya ngga mungkin mau lah. Pasti nanti kak Tsa semakin sibuk. Dan kamu akan diantarkan oleh sopir." Cerocos Farah, yang membuat Soffin menundukkan kepalanya, dan menghentikan aktivitas makannya.
Tsamara mengulas senyum, lalu meletakkan piringnya dan merangkul bahu adik bungsunya.
"Kakak akan berusaha membagi waktu, agar tetap bisa mengantarkan kamu ke sekolah. Dan juga menjemput mu."
"Serius ya, kak?" Tsamara menganggukkan kepalanya pasti, sambil diiringi senyuman.
Papa sangat terenyuh melihat perhatian anak sulungnya yang begitu besar pada anak bungsunya.
Mungkin karena kebaikan dan ketulusan hati yang dimiliki oleh Tsamara, mengantarkannya pada kesuksesan yang ia raih sekarang.
__ADS_1
Bukan kah Allah sudah berjanji, akan mengganti keikhlasan kita dalam menghadapi suatu cobaan, dengan suatu hal yang tidak pernah kita sangka-sangka sebelumnya?