
Tak lama setelah ikrar ijab qobul selesai, Tsamara di dengan di dampingi oleh kedua adiknya berjalan menuju ke tempat yang di pakai untuk ijab.
Semua mata menatap dengan lekat ke arah gadis itu, tanpa kedip. Penampilannya kembali membuat semua orang berdecak kagum.
Gadis itu memakai busana adat Jawa. Kain jarik berwarna coklat putih dengan aksen kembang ulir dan kebaya brokat berwarna putih, yang panjang belakangnya sekitar dua meter.
Rambutnya di sanggul dan di hias dengan ronce bunga melati. Bibir tipisnya di poles dengan lipstik berwarna merah menyala, yang sangat kontras dengan warna kulitnya yang putih bersih.
Dia berjalan dengan anggun, memasuki tempat acara. Seulas senyum tipis menghiasi wajahnya yang begitu ayu.
Setelah sampai di dekat meja ikrar, Thoriq menoleh untuk menarik kursi yang ada di dekatnya, agar istrinya bisa duduk di sana.
Namun ia begitu speechless, ketika melihat penampilan Tsamara yang begitu berbeda. Tampak sangat cantik dan anggun memukau, sehingga lupa pada tujuan awalnya.
Soffin yang melihat Thoriq terbengong, segera menarik kursi itu untuk kakaknya.
"Silahkan duduk, kak." Ucap bocah kecil itu, yang membuat Thoriq tersadar dari lamunannya.
Tsamara kembali mengulas senyum, ketika melihat Thoriq bersikap demikian. Lalu gadis itu duduk di kursi, setelah mengucapkan terima kasih pada adiknya.
Farah dan Soffin berlalu pergi menuju tempat duduknya. Sedangkan kedua mempelai itu menandatangani dokumen penting pernikahan.
Setelah selesai, penghulu mempersilahkan Tsamara untuk mencium punggung tangan suaminya. Sedangkan Thoriq dipersilahkan untuk mencium pucuk kepala istrinya.
Kedua mempelai pun saling berhadapan sambil menyunggingkan senyum tipis. Lalu segera melakukan apa yang diperintahkan oleh penghulu.
__ADS_1
Tsamara untuk pertama kalinya mencium punggung tangan Thoriq, yang sekarang sudah bergelar menjadi suaminya.
Sedangkan bagi Thoriq, itu juga adalah pertama kalinya ia mencium ubun-ubun Tsamara sebagai istri sahnya. Tak lupa ia mendoakannya.
Cukup lama keduanya melakukan hal itu. Sehingga membuat semua orang yang melihatnya juga ikut-ikutan terbawa suasana.
Setelah selesai, Thoriq membantu Tsamara bangkit berdiri. Keduanya berjalan beriringan dengan langkah yang anggun menuju pelaminan.
Tentu saja setiap momen penting itu, tidak luput dari jepretan beberapa orang fotografer, team video syuting dan para wartawan.
Kini kedua mempelai telah sampai di pelaminan. Keduanya dipersilahkan duduk, untuk mengikuti acara selanjutnya.
Hingga akhirnya, tibalah di acara sungkeman. Kedua pengantin itu duduk bersimpuh di hadapan pak Abas.
"Thoriq, mulai hari ini, papa titipkan Tsamara padamu. Semoga kamu bisa menjadi pemimpin yang baik untuknya. Rumah tangga kalian selalu harmonis. Apapun masalahnya, semoga kalian bisa menyelesaikannya dengan baik. Jika kamu sudah tidak mencintai Tsamara lagi, maka kembalikanlah dia pada om, dengan cara yang baik."
Setelah berkata seperti itu, pak Abas menepuk pelan bahu Thoriq sambil tersenyum. Ia bangga memiliki menantu sepertinya. Lalu Thoriq menggeser sedikit tubuhnya, agar istrinya bisa bersungkem dengan papanya.
Kini Tsamara sudah bersimpuh sambil menundukkan kepalanya di pangkuan papanya. Belum sempat berkata, ia sudah mulai terisak. Papa pun akhirnya ikut terisak pula.
"Pa, Tsamara minta maaf ya, selama ini belum bisa menjadi anak yang baik dan membanggakan untuk papa. Dan Tsamara juga minta ijin, mulai detik ini akan membaktikan seluruh hidup, pada suami Tsa."
Pak Abas menarik nafas, dan sekejap mendongakkan kepalanya, untuk menahan air matanya yang hendak jatuh. Pria itu menyunggingkan senyum sebelum menjawab.
"Selama ini kamu sudah menjadi anak kebanggaan papa, sayang. Memainkan peranmu secara lebih, sebagai seorang kakak. Sudah saatnya papa melepas tanggung jawab sebagai seorang papa, dan melimpahkannya pada suamimu. Jadilah istri yang berbakti pada suami. Tutup lah aib suami, seperti engkau menutup aib mu sendiri."
__ADS_1
"Baik, pa." Lirih Tsamara sambil menganggukkan kepalanya, lalu ia menjatuhkan kepalanya di pangkuan papanya.
Tsamara dan papanya terisak. Tapi bukan isak tangis kesedihan, melainkan isak tangis haru.
"Sudah, sayang. Hapus air matamu. Kamu harus berbahagia hari ini."
Papa membantu Tsamara mendongakkan kepalanya. Lalu gadis itu menghapus air matanya, keduanya sama-sama menyunggingkan senyum.
"Mintalah restu pada mama Thoriq."
Tsamara mengangguk, membalas ucapan papanya. Gadis itu pun bangkit berdiri dengan di bantu oleh suaminya. Lalu keduanya berjalan bersama menuju ke arah Bu Husna duduk.
Thoriq bersimpuh di hadapan mamanya, lalu menjatuhkan kepalanya di pangkuannya dan mulai terisak.
"Ma, Thoriq mohon doa restunya. Karena hari ini, anak mama ini mulai mengemban amanah yang besar. Karena Thoriq adalah anak laki-laki mama satu-satunya, semoga bisa berlaku adil antara mama dan istri Thoriq."
"Tanpa kamu minta, mama akan selalu mendoakan segala kebaikan untuk kamu dan istrimu, Thoriq. Semoga apa yang menjadi cita-cita kalian, terkabul sayang. Rumah tangga kalian selalu di liputi keberkahan, senantiasa sakinah, mawadah, dan warahmah."
Setelah Thoriq selesai sungkem, kini giliran Tsamara. Gadis itu menundukkan kepalanya di hadapan sang mama mertua dan mulai terisak.
Bayangan sungkem di hadapan mamanya seketika melintas di kepala. Jika saat itu mamanya masih ada, tentu ia akan sangat bahagia.
"Ma, Tsamara mohon doa restunya. Mulai hari ini akan menjalani kehidupan sebagai seorang istri dari putra mama. Bila ada hal yang kurang berkenan di hati mama, saat Tsamara menjalankan peran sebagai seorang istri, mohon dimaafkan ya. Dan bimbing Tsamara menjadi istri yang baik seperti mama."
"Tentu, sayang. Mama akan senantiasa mendoakan yang terbaik untuk rumah tangga kalian berdua. Mama yakin, kamu pasti bisa memainkan peran mu dengan baik sebagai seorang istri. Karena mama sudah cukup lama mengenalmu. Pertahankan kebaikan yang kamu miliki ya."
__ADS_1
Mama membantu mendongakkan kepala Tsamara, lalu kedua wanita beda usia itu saling cipika-cipiki.
Setelah selesai sungkem, kedua pengantin itu selalu mencium punggung tangan orang tuanya dengan takzim.