Gagal Menikah Gara-gara Gendut

Gagal Menikah Gara-gara Gendut
79. Melamar


__ADS_3

Malam itu Anggara sudah berpenampilan rapi dan wangi. Ia mengenakan stelan jas berwarna hitam dan kemeja berwarna marun.


"Aku yakin, Olive akan terpesona dengan penampilan ku ini, begitu juga dengan keluarganya. Karena aku merupakan sosok menantu idaman." Gumam Anggara dengan penuh percaya diri.


Setelah itu, ia pun keluar dari kamarnya. Dan menuju ke ruang tamu, dimana menjadi tempat berkumpul kedua orang tuanya.


"Ma, pa. Keren kan penampilan Anggara?" Pria itu meminta penilaian kedua orang tuanya saat sudah berada di ruang tamu.


Mama dan papa yang tadinya sedang memainkan handphonenya, sejenak mengamati penampilan anaknya. Dan tak lama kemudian, mereka mengacungkan kedua ibu jarinya.


"Ayo kita segera berangkat." Ajak pak Anwar sambil bangkit berdiri. Tak sabar rasanya ia ingin berbesan dengan pak Sanusi.


Mereka bertiga berjalan menuju mobil, lalu melajukannya ke kediaman Olive.


**


Sementara itu di kediaman Olive, ia tengah duduk di depan meja riasnya sambil bersolek. Gadis itu tampak cantik dengan mengenakkan dress selutut berwarna marun. Rambut panjangnya di biarkan tergerai.


Sengaja ia hanya memberitahu mamanya soal rencana lamaran itu. Karena kebetulan dua hari ini ia tidak sempat bertemu dengan papanya langsung.


Tiga puluh menit telah berlalu. Kini keluarga Anggara sudah tiba di rumah pak Sanusi untuk melamar Olive.


Setelah merapikan kembali penampilannya, mereka mengetuk pintu. Berdebar juga hati Anggara, rasanya tidak sama seperti saat dulu melamar Tsamara.


Ah, jika ingat Tsamara yang sudah berubah menjadi langsing ingin buru-buru juga Anggara melamarnya. Tapi Olive sudah terlanjur hamil, jadi dia harus menikahi dulu. Barulah setelah itu bisa berselingkuh dengan Tsamara.


Tak Lama kemudian, pintu ruang tamu perlahan terbuka. Kebetulan mamanya Olive yang membukanya. Ia memindai satu persatu penampilan keluarga Anggara.


"Maaf cari siapa ya?" Tanya mamanya Olive.


"Maaf Tante, saya Anggara temannya Olive. Sengaja datang kesini ingin bertemu dengan Olive dan kedua orang tuanya." Ucap Anggara sok sopan.

__ADS_1


"Oh, silahkan masuk kalau begitu." Mama mempersilahkan mereka masuk dengan diiringi senyum hangat.


Tamu itu pun melangkahkan kakinya masuk ke dalam ruang tamu yang cukup besar dan luas. Tak kalah dengan rumah Tsamara. Tapi sayangnya mereka sudah jatuh miskin, di matanya.


Keluarga Anggara meletakkan seserahan berupa parcel buah dan parcel makanan, di atas meja. Lalu duduk sambil mengedarkan pandangannya, menyapu setiap sudut ruangan.


"Tunggu sebentar ya, saya panggilkan papa dan Olive." Ucap mamanya Olive.


"Oh iya, silahkan." Balas keluarga Anggara.


Mamanya Olive bangkit dari duduknya, lalu menuju ke kamarnya dan kamar Olive, untuk memanggil keduanya. Sedangkan keluarga Anggara tengah berbisik membicarakan rumah Olive.


**


"Pa, di luar ada keluarga temannya Olive. Namanya Anggara. Katanya ingin bertemu dengan keluarga kita."


"Keluarga Anggara? Ada apa? Tumben sekali?" Gumam pak Sanusi sambil mengernyitkan dahi.


"Sepertinya mau melamar Olive."


"Mereka berpenampilan rapi dan membawa parcel." Imbuh mama lagi.


"Ya sudah, papa keluar dulu gih. Mama mau memanggil Olive."


Setelah itu, mama pun keluar dan berjalan menuju kamar Olive. Tak lama kemudian, ia sudah tiba di depan pintu kamar Olive dan mengetuknya.


"Olive kamu cantik sekali." Gumam mama, sambil memperhatikan penampilan anak semata wayangnya dari atas ke bawah.


"Benar kah ma?" Olive mengulas senyum.


"Oh iya, keluarga Anggara sudah datang. Ayo cepat temui mereka."

__ADS_1


"Baik, ma." Kedua wanita itu jalan beriringan menuju ruang tamu.


Olive duduk ditengah-tengah kedua orang tuanya. Dan berhadapan dengan keluarga Anggara. Pak Sanusi menatap tajam ke arah keluarga yang ada dihadapannya, lalu melihat sejenak barang-barang yang ada di atas meja.


Untuk sesaat jantung Anggara dan Olive berdegub kencang.


"Apa ada yang ingin kalian sampaikan? Sehingga repot-repot datang kesini?" Pak Sanusi memulai pembicaraan pada malam hari itu.


Keluarga Anggara terkejut, karena nada suara pak Sanusi terlihat tidak bersahabat. Terlebih mereka juga tidak menyediakan suguhan apapun.


"Begini pak. Kedatangan kami kesini adalah untuk meminang anakmu untuk menjadi istri anakku." Ucap pak Anwar.


"Meminang?" Ulang pak Sanusi terkejut.


"Iya. Seperti yang kita tahu bahwa, anak-anak kita saling mencintai. Jadi tidak ada salahnya jika mereka segera menikah, agar terhindar dari dosa."


"Olive, memang kamu mencintai Anggara?" Pak Sanusi menoleh dan menatap anaknya.


"Iya pa."


"Serius?" Olive mengangguk sambil menunduk.


"Bukankah kamu mencintai Thoriq?" Olive mendongakkan kepalanya, lalu menggelengkan kepalanya.


"Sudah tidak lagi, pa." Walau kenyataannya dalam hatinya masih ada nama Thoriq, ia tidak boleh berkata jujur.


"Kenapa kamu tidak membicarakan hal ini pada papa?"


"Maaf, pa. Karena kita tidak bertemu dua hari."


"Hem, kamu sangat tidak sabaran. Kalau papa tidak mengijinkan mu menikah dengan Anggara bagaimana?"

__ADS_1


"APA!"


Semua orang yang ada di ruangan itu terkejut dengan ucapan pak Sanusi, hingga mereka menatapnya serius.


__ADS_2