
Tepat di hari ke tujuh, pasangan Thoriq dan Tsamara menggelar acara aqiqah untuk putri pertama mereka.
Acara itu di gelar di kediaman Thoriq. Tsamara tidak mempermasalahkan hal itu, karena kewajiban seorang istri, adalah taat pada suami.
Kediamannya di sulap menjadi sangat indah. Seluruh rekan-rekan dari kedua keluarga itu juga di undang untuk menghadiri acara itu.
Keluarga Tsamara dan Thoriq berdiri di depan untuk menyambut para tamu undangan. Tak lupa mereka juga memberikan sebuah gift berupa boneka kambing yang berukuran mini, dan di bagian perut boneka itu terdapat foto bayi.
Keluarga pasangan Anggara dan Olive pun juga ikut menghadiri acara itu. Segala jenis penyakit hati yang ada di antara keluarga itu perlahan memudar, setelah kehadiran bayi-bayi mungil di tengah mereka.
Tepat pada pukul tujuh lebih tiga puluh malam, acara itu di mulai. Karena hanya dalam sekejap saja, tempat acara sudah dipenuhi oleh para tamu undangan.
Seorang MC mulai membacakan susunan acaranya. Para tamu undangan mulai menyimak dan memperhatikannya.
Acara itu di mulai dengan bacaan tilawah Al-Qur'an, kata sambutan, cukur rambut bayi, tausyiah dan makan bersama.
Kini, tibalah saatnya kata sambutan dari tuan rumah. Yang dibawakan oleh Thoriq. Pria itu meraih microfon yang ada di depannya, lalu menyapa kehadiran para tamu undangan, dengan mengucapkan salam.
"Assalamu'alaikum warahmatullahi wa barakaatuh. Pertama-tama marilah kita panjatkan puji syukur pada Allah. Karena atas segala karunia dan kemudahan yang diberikannya pada kita, sehingga kita bisa berkumpul di acara aqiqah putri pertama saya pada malam hari ini.
Sholawat serta salam semoga senantiasa tercurah limpahkan pada junjungan kita, nabi besar Muhammad shalallahu alaihi wa salam. Karena melaksanakan Aqiqah, merupakan salah satu ajarannya.
Terima kasih tak lupa kami haturkan pada para tamu undangan sekalian. Karena telah sudi untuk meluangkan waktunya menghadiri acara pada malam hari ini.
Perkenankan lah kami untuk menyampaikan sepatah dua patah kata di malam hari ini.
Saya memohon pada para hadirin sekalian, untuk kiranya berkenan mendoakan putri kami, yang kami beri nama Salma Ramzia Mehreen. Agar tumbuh menjadi anak yang sholihah, berbakti pada orang tua dan agama, dan hidupnya senantiasa bermanfaat untuk semua, serta doa tulus lainnya dari anda sekalian.
Sekian sambutan dari saya. Apabila ada kurang dan lebihnya, saya mohon maaf yang sebesar-besarnya. Semoga acara yang kami gelar pada malam hari ini, senantiasa bisa diterima oleh para hadirin sekalian. Dan semoga Allah berkenan menerima doa kita semua, aamiin ya rabbal aalamiin. Wassalamu'alaikum warahmatullahi wa barakaatuh."
Tepuk tangan yang luar biasa atas sambutan yang baru saja disampaikan oleh Thoriq. Acara selanjutnya adalah tausyiah singkat, yang dibawakan oleh seorang ustadz.
__ADS_1
Ceramah itu berisi tentang hukum dan tata cara aqiqah. Meskipun dari sebagian besar para tamu undangan sudah mendengar hal itu, mereka tetap tidak merasa bosan untuk mendengarkannya lagi.
Tanpa terasa waktu bergulir dengan cepat, dan kini sudah tiba di penghujung acara. Para hadirin bangkit dari duduknya, dan antri untuk sekali lagi mengucapkan selamat, doa serta bersalaman dengan keluarga Thoriq dan Tsamara.
**
Empat tahu telah berlalu, putri kecil pasangan Tsamara dan Thoriq telah masuk bangku sekolah.
"Sayang, ayo bangun dulu. Ini hari pertama masuk sekolah lho." Tsamara membangunkan putrinya dengan lemah lembut.
Si kecil menggeliat, lalu mengucek matanya perlahan.
"Masih pagi, ma."
"Iya. Meskipun masih pagi, kamu harus segera bangun. Karena udara di pagi hari itu memang terasa menyegarkan."
"Tapi Salma masih mengantuk, ma."
"Pasti dingin."
"Tenang, mama sudah siapkan air hangat untuk kamu mandi."
Setelah di bujuk, akhirnya si kecil Salma mau mandi pagi. Di umurnya yang ke empat tahun, ia sudah bisa mandi sendiri. Tsamara hanya memantaunya dari dekat.
Namanya anak kecil, pasti akan membutuhkan waktu yang lama untuk mandi. Karena ia tidak sekedar mandi, tapi bermain dengan gelembung sabun.
Hal itu pulalah yang terjadi pada Salma. Tsamara perlu membujuk lagi, agar putri kecilnya segera menyelesaikan mandinya.
Tsamara menggendong putri kecilnya yang berbalut handuk, menuju kamar. Lalu melatihnya untuk mengenakan pakaian sendiri.
Ia memang menanamkan pada putri kecilnya untuk terbiasa hidup mandiri dan tidak bergantung pada orang lain.
__ADS_1
Setelah selesai, dan memastikan penampilan putrinya rapi, keduanya keluar dan berjalan beriringan menuju ruang makan.
Di sana rupanya nenek dan papa Thoriq telah menunggu kehadiran mereka.
"Putri cantik papa. Kamu sudah siap pergi ke sekolah?" Thoriq mengangkat Salma, lalu mengecup kedua pipi gembul nya.
"Sudah dong, pa. Salma tidak boleh datang terlambat, agar tidak ketinggalan pelajaran."
"Anak pintar. Sekarang, ayo makan dulu." Thoriq menurunkan putrinya, lalu mendudukkannya di kursi sebelahnya.
Salma menusuk roti panggang selai nanas, dan memasukkan ke dalam mulutnya.
Sambil makan, keluarga itu tak lelah memberi semangat pada Salma, agar senantiasa bersemangat dalam menempuh pendidikan.
Setelah selesai sarapan pagi, Tsamara mengantarkan putrinya ke sekolah. Tak lupa keduanya mencium punggung tangan Thoriq dan Bu Husna dengan takzim sebelum berangkat.
**
"Tsamara." Sang pemilik nama menoleh, ketika ada seseorang yang memanggilnya.
"Olive." Gumam Tsamara, ketika melihat siapa wanita yang berdiri di sampingnya. Keduanya saling melempar senyum.
"Anakmu sekolah di sini juga?" Tebak Olive.
"Iya. Anakmu memang sekolah di sini juga?"
"Iya. Alfaro, Salim dulu sama Tante Tsamara."
Anaknya Olive pun mengulurkan tangannya pada Tsamara. Dan segera di balas olehnya. Tsamara juga menyuruh anaknya untuk bersalaman pada Olive dan anaknya.
"Kamu cantik sekali." Celetuk Alfaro pada Salma, yang membuat kedua orang tua mereka terkekeh bersamaan.
__ADS_1