Gagal Menikah Gara-gara Gendut

Gagal Menikah Gara-gara Gendut
148. Bayi?


__ADS_3

Tanpa terasa sudah satu bulan, Olive dan Anggara menjalankan usahanya. Keduanya semakin semangat mengerjakannya. Apalagi ketika setiap hari ada saja pelanggan yang berdatangan.


Keduanya bahu membahu mengerjakan semua pekerjaan sampai selesai. Mereka pun mulai memahami satu sama lain. Sehingga cek-cok di antara keduanya semakin jarang terdengar.


"Liv, kamu kangen ngga dengan orang tuamu?" Tanya Anggara, saat keduanya tengah duduk santai sambil menonton siaran televisi.


Olive sejenak memandang wajah suaminya.


"Kenapa kamu bertanya seperti itu? Lalu, bagaimana perasaan mu sendiri? Kangen ngga dengan kedua orang tuamu?" Olive pun justru bertanya balik.


"Lho, kok kamu malah bertanya balik sih?" Anggara menatap Olive sambil mengernyitkan dahi.


"Habis, kamu pakai tanya hal itu segala sih." Sungut Olive terlihat kesal.


Ia sengaja melakukan hal itu, untuk menutupi rasa kangennya dengan kedua orang tuanya.


"Aku sebenarnya kangen dengan mereka. Tapi aku malu bertemu dengannya, kalau belum sukses. Kita harus lebih keras berjuang, Liv. Agar bisa sukses dan segera bertemu dengan mereka."


"Kalau ketemu dengan mereka. Apa yang akan kamu lakukan?"


"Minta maaf. Aku ingin minta maaf dengan mereka. Meskipun pernah meminta maaf, aku ingin melakukan hal itu. Karena aku yakin, dosaku sama mereka banyak."


"Aku juga ingin melakukan hal yang sama denganmu."


"Oh ya, besok kita periksakan kandunganmu ya. Aku ingin tahu perkembangan anak kita." Tanya Anggara, setelah hening sekian menit.


"Iya, aku setuju." Olive menganggukkan kepalanya, menyetujui ucapan suaminya.


**


Sudah satu bulan berlalu, sejak kepulangannya dari berbulan madu, Thoriq dan Tsamara kembali melakukan aktivitas seperti biasanya.


Menjadi seorang yang terkenal dan merupakan istri dari seorang direktur utama perusahaan vitamin, tidak lantas membuat Tsamara sombong.


Ia juga tidak melupakan kebiasaannya yang sudah mengantarkannya pada badan yang sehat dan langsing. Yakni mengendarai sepeda onthel. Ia sudah terlanjur jatuh cinta dengan hal itu.


Seperti pada siang hari itu, ia mengantarkan adiknya berangkat les dengan mengayuh sepeda, sesuai dengan permintaan Soffin.


Bocah itu merasa kangen, karena sudah beberapa bulan tidak dibonceng oleh kakaknya, saat berangkat ke tempat les.


Ia menyukai hal itu, karena memiliki sensasi yang berbeda. Apalagi ketika kakaknya mengayuh sepedanya dengan lebih cepat, badan dan sepedanya bergetar dan bergoyang-goyang ketika melewati jalan yang tidak rata. Pasti keduanya akan terkekeh, karena merasa hal itu seru dan lucu.

__ADS_1


Setelah Soffin masuk ke kelas, seperti biasanya Tsamara akan duduk cantik di kursi taman. Karena saat-saat seperti itu, adalah waktu yang paling tepat dan nyaman bagi Tsamara untuk menulis.


Ditengah-tengah keasyikannya menulis, Tsamara kehausan. Karena dia lupa membawa botol minum, akhirnya ia memutuskan membeli air mineral di warung terdekat. Bergegas ia mengayuh sepedanya, mencari warung yang buka.


Tak disangka, dua orang laki-laki yang mengendarai sepeda motor, mengikutinya dari belakang. Tapi ia masih tak memperhatikannya.


Kedua pria yang tergoda dengan kemolekan tubuh Tsamara, mulai berani menggodanya. Mereka menyejajarkan diri dengannya sambil menggapai tubuhnya.


"Hai! Apa yang kalian inginkan?" Bentak Tsamara kesal, tapi hal itu justru membuat kedua pria yang berboncengan itu semakin tertantang.


"Hei cantik. Kamu menanyakan, kami mau apa?" Tanya salah satu pria itu.


"Kami mau tubuhmu." Ucap pria yang lain, lalu keduanya terkekeh.


Tsamara yang merasa panik segera mengayuh sepedanya kencang. Tapi naas, ban sepeda bagian depan menabrak batu, sehingga menyebabkannya terjatuh.


Bukannya menolong, kedua pria itu justru menertawakannya. Setelah itu, keduanya mendekatinya dan mulai mencolek-colek tubuh Tsamara.


Tsamara terlihat meringis kesakitan sambil memegang perutnya. Sedangkan tangan satunya menghalau tangan-tangan jahil laki-laki dihadapannya.


Tak lama kemudian, sebuah mobil berhenti tepat di dekat tempat kejadian itu.


Bergegas ia mengusir kedua laki-laki brandal itu. Ia tertegun ketika melihat darah membasahi celana hotpants yang dikenakan Tsamara.


"Sayang, ayo kita ke rumah sakit sekarang." Thoriq dengan sigap mengangkat tubuh istrinya dan memasukkannya ke dalam mobil.


Sepanjang perjalanan, Thoriq tidak mengajak Tsamara berbicara. Tapi sesekali ia menoleh ke arah istrinya yang meringis memegangi perutnya.


Setelah menempuh satu jam perjalanan, akhirnya keduanya tiba di pelataran rumah sakit. Thoriq mengangkat tubuh Tsamara menuju koridor. Perawat yang kebetulan melihat hal itu, segera membantunya.


"Kak, aku tidak apa-apa. Malu tahu di perhatikan banyak orang."


"Ya ampun, sayang. Aku takut melihat darah yang ada di celanamu. Makanya aku membawamu kesini. Kenapa harus malu sih?"


"Mungkin gara-gara aku jatuh dari sepeda, lalu mengalami menstruasi kak."


"Sudah sampai sini, sebaiknya di periksa dulu. Biar jelas apa penyebabnya. Darah menstruasi atau darah yang lain." Tegas Thoriq. Ia tidak ingin di bantah, apalagi ini soal keselamatan istri tercintanya.


Sesampainya di ruang IGD, Thoriq tidak diijinkan masuk. Akhirnya, ia pun duduk di luar sambil merapalkan doa.


Sementara itu di dalam ruangan, seorang dokter dan seorang perawat mengecek keadaan Tsamara. Untuk mengetahui penyebab keluarnya darah.

__ADS_1


Setelah melakukan serangkaian pemeriksaan, dokter menarik nafas dalam-dalam. Lalu keluar ruangan, untuk menemui Thoriq.


"Dokter, apa yang terjadi dengan istri saya?" Cecar Thoriq, begitu melihat dokter keluar dari ruangan.


"Mohon, anda sabar dulu. Mari ikut saya ke ruangan."


Dokter dan Thoriq kembali masuk ke ruangan.


"Jadi begini, darah yang keluar dari organ kewanitaan istri anda, bukan karena ia menstruasi. Melainkan pendarahan, setelah tadi sempat mengalami benturan atau terjatuh. Untuk kepastiannya, kita akan melakukan USG. Semoga bayinya masih dapat diselamatkan."


"Apa! Bayi?" Ulang Thoriq dengan raut wajah terkejut yang tidak dapat disembunyikan. Begitu pula dengan Tsamara.


"Iya, bayi. Kenapa, apa anda belum mengetahui jika istri anda hamil?"


Thoriq menggelengkan kepalanya.


"Kalau begitu, tolong segera lakukan tindakan, dok."


Dokter pun mengangguk. Lalu dengan di bantu perawat, ia melakukan USG.


Thoriq dan Tsamara saling menautkan jari-jari mereka. Tidak dapat dipungkiri, jika keduanya memang sangat cemas sekali.


Sensasi dingin, ketika perut Tsamara di oles gel sebelum melakukan USG, membuatnya merasa sedikit nyaman. Setelah itu dokter menempelkan alat transduser di perutnya, lalu memutar gerakannya.


"Ini adalah gambar bayi, anda. Syukurlah, ia masih dapat bertahan." Dokter memberi penjelasan, ia menunjuk gambar hitam buram di layar monitor.


Thoriq dan Tsamara yang melihat hal itu, perlahan tersenyum. Usahanya untuk segera memiliki momongan, berhasil juga. Walaupun dengan cara tidak mengenakkan keduanya mengetahui hal itu.


"Namun, saya menyarankan agar pasien sementara waktu di rawat di rumah sakit dulu. Agar bisa mendapat penanganan lebih intensif." imbuh dokter lagi.


Thoriq menyetujui Tsamara untuk di rawat sementara waktu di rumah sakit. Di bantu oleh perawat, istri dari Thoriq itu dipindahkan ke ruang perawatan.


"Kak, maafkan aku tidak bisa menjaga bayi kita." Ucap Tsamara dengan penuh sesal, saat keduanya sudah berada di ruang VVIP.


"Kamu tidak perlu minta maaf, sayang. Toh kamu tidak mengetahui jika kamu hamil kan? Sekarang, istirahatlah. Agar kondisi kalian cepat membaik."


"Tapi, bagaimana dengan Soffin?"


"Ada mamaku. Sekarang kamu istirahat saja. Tidak perlu memikirkan yang lainnya. Fokus pada dirimu dan bayi kita. Titik."


Tsamara menganggukkan kepalanya. Sebuah kecupan di kening dari Thoriq, mengantarkannya untuk beristirahat.

__ADS_1


__ADS_2