Gagal Menikah Gara-gara Gendut

Gagal Menikah Gara-gara Gendut
83. Diterima


__ADS_3

"Aku, mencari seseorang yang membuat hatiku merasa nyaman, serta mau menerima diriku apa adanya. Dan aku merasa sudah menemukan orang itu."


Jantung Thoriq seperti berhenti berdetak, ketika Tsamara berkata seperti itu. Bagai bunga yang seketika layu. Wajahnya terlihat melemas. Dia pikir Tsamara masih seorang jomblowati. Ternyata...


"Oh, syukurlah." Ucap pria itu sambil berusaha menyunggingkan senyum, walau terasa berat.


"Siapa kira-kira laki yang beruntung itu?" Tanya Thoriq, yang cukup penasaran.


"Kamu." Balas Tsamara sambil menyunggingkan senyum.


"A-aku?" Thoriq menunjuk batang hidungnya sendiri, dengan raut wajah yang mulai berbinar.


Tsamara menyunggingkan senyum tipis sambil menganggukkan kepalanya.


"Te-terima kasih, Tsa."


Thoriq menggenggam tangan Tsamara, lalu mengecupnya. Hal itu membuat gadis cantik berbadan langsing itu tersipu malu.


Pria itu merogoh sesuatu dari dalam tasnya, lalu membuka dan memperlihatkan isinya pada Tsamara.


"Terimalah cincin ini, sebagai tanda kamu menerima cintaku."


Tsamara tidak dapat menyembunyikan rasa terkejutnya, ketika Thoriq memberinya sebuah cincin berlian yang indah berkilauan.


Gadis itu benar-benar merasa diperlakukan spesial oleh pria dihadapannya. Hingga ia menutup bibirnya dengan kedua tangannya, untuk menghilangkan rasa nervous nya.


"Ulurkan tanganmu." Titah Thoriq.


Perlahan Tsamara mengulurkan tangannya dihadapan Thoriq. Pria itu memegang tangannya dan memasukkan cincin ke jari manisnya. Pas sekali. Padahal Thoriq hanya mengira-ngira saat membelinya.


"Terima kasih, kak." Ucap Tsamara dengan senyum yang tak pernah memudar dari wajahnya.


Tak lama kemudian, makanan yang mereka pesan datang. Keduanya menikmatinya hidangan yang sudah disajikan.


"Mau aku potong kan makanannya?"


"Tidak, kamu pikir aku anak kecil." Kekeh Tsamara.


"Aku tidak berpikir seperti itu. Hanya saja kamu selalu mengutamakan orang lain, daripada dirimu sendiri. Makanya giliran aku yang mengutamakan mu."

__ADS_1


Tsamara memerah wajahnya, ketika Thoriq terus memperlihatkan perhatian padanya.


**


"Silahkan." Thoriq membukakan pintu mobil untuk Tsamara. Ketika keduanya sudah sampai di jalan depan rumah kontrakan Tsamara.


Gadis itu menatap pujaan hatinya sejenak, sambil menyunggingkan senyum lalu turun dari mobil.


"Mari aku antarkan sampai depan pintu."


"Apa tidak merepotkanmu, kak?"


"Untuk pujaan hatiku, tidak ada kata repot."


Keduanya berjalan beriringan menuju rumah kontrakan keluarga Tsamara.


"Masuklah."


"Tidak, aku lihat kak Thoriq pulang dulu saja."


"Kenapa? Apa kamu mengkhawatirkan ku? Takut aku diculik?"


Tsamara terkekeh kecil, mendengar pacarnya bercanda.


Tsamara begitu berbunga-bunga hatinya, ketika Thoriq memanggilnya dengan sebutan calon istri.


"Ya sudah, kalau begitu aku masuk dulu ya kak."


Tsamara membuka pintu rumahnya, yang ternyata tidak dikunci. Ketika masuk, ia melihat keluarganya masih menonton televisi.


"Kakak sudah pulang?" Tanya Soffin, yang langsung mengendus kepulangan kakak tercintanya.


"Lhoh, itu kak Thoriq masih diluar juga." Ucap Soffin lagi.


Papa dan Farah yang mendengar Soffin terus mengoceh, menoleh ke arah pintu. Lalu pak Abas bangkit berdiri dan mendekati anak serta pemuda tampan dihadapannya.


"Om." Thoriq menyunggingkan senyum, sambil mengulurkan tangan dan bersalaman dengan pak Abas.


"Terima kasih, om. Sudah mengijinkan saya keluar dengan putri, om. Maaf saya pikir om sekeluarga sudah tidur, jadi tidak bawa oleh-oleh." Thoriq berkata dengan sejujurnya.

__ADS_1


"Tidak apa-apa. Om dan adik-adiknya Tsamara juga sudah kenyang kok. Yang penting kamu sudah bawa pulang putri om dengan selamat, itu sudah membuat om tenang. Ayo masuk dulu."


"Maaf, om. Ini sudah malam, saya mau pamit pulang. Tidak enak dengan tetangga sekitar."


"Baiklah kalau begitu, kamu hati-hati dijalan."


"Siap, om. Permisi."


Tsamara menatap lekat Thoriq, sampai pria itu melajukan mobilnya meninggalkan jalan depan rumahnya.


"Ayo masuk. Jangan senyum-senyum sendiri. Nanti dikira...."


"Papa." Tsamara memukul lengan papanya.


Papa menahan tangan kanan Tsamara. Karena saat gadis itu memukulnya, tampak sinar indah keluar dari jemarinya.


Pak Abas menatap benda kecil yang berkilauan dengan indah, dan melingkar di jemari Tsamara, saat tertimpa cahaya lampu.


"Cincin berlian? Apa Thoriq yang memberikannya padamu?" Pak Abas bertanya dengan raut wajah yang serius.


Wajah Tsamara juga berubah serius, dan sedikit ketakutan.


"I-iya, pa."


"Syukurlah jika kamu sudah membuka hati untuk pria lain." Putri sulungnya mengangguk pelan.


"Apa papa mendukung Tsamara jadian dengan kak Thoriq?" Lirih Tsamara.


"Soffin akan mendukung kak." Seru adik bungsunya, yang ternyata mendengar percakapan kakak dan papanya.


"Farah juga setuju kak."


Adik perempuan Tsamara itu juga ikut menjawab sambil mengangkat jari telunjuknya.


Tsamara menepuk jidatnya melihat hal itu. Ia malu kisah cintanya mulai diketahui oleh adik-adiknya.


"Papa juga sama seperti mereka. Mendukung jika kamu jadian dengan Thoriq." Pak Abas menepuk bahu putri sulungnya, sambil menyunggingkan senyum.


"Beneran, pa?" Tsamara berbinar wajahnya menatap papanya.

__ADS_1


"Papa tidak pernah berkata bohong padamu."


"Terima kasih, pa." Gadis itu pun memeluk papanya dengan kegirangan.


__ADS_2