
"Semua ini gara-gara ulahmu."
Pak Anwar melempar surat pemutusan hubungan kerja sama ke wajah Anggara, yang baru saja masuk ke ruangannya.
"Aduh, apa-apaan sih ini, pa? Baru juga datang, sudah di maki-maki." Sungut Anggara kesal, sambil melempar balik surat itu dan tepat mengenai wajah papanya.
"Kamu jadi anak tak tahu diri sekali. Berani-beraninya melempar ke wajah papa. Lihat, gara-gara ulahmu papa jadi kehilangan banyak rekan kerja. Coba kamu bisa lebih bersabar sedikit menunggu Tsamara kurusan, pasti semua ini juga tidak bakal terjadi."
Anggara belum juga nyambung dengan apa yang diucapkan papanya. Tapi otaknya mengatakan jika telah terjadi sesuatu dengan perusahaan papanya dan perusahaan papanya Tsamara.
Pandangannya beralih pada beberapa kertas yang sudah koyak dan tersebar di lantai, lalu ia memungutnya satu dan membacanya.
Sama seperti papanya, ia pun tampak terkejut dengan pembatalan hubungan kerja sama yang dilakukan secara sepihak oleh salah satu perusahaan yang selama ini menjalin hubungan dengan perusahaan papanya.
Tak puas dengan selembar kertas, ia mengambil selembar kertas lagi dan membukanya, lalu kembali membaca isinya. Hingga beberapa kali ia melakukan hal itu.
Kepalanya terasa berdenyut nyeri, ikut merasakan apa yang papanya rasakan. Sejenak Anggara menatap papanya yang wajahnya tampak merah padam dan melakukan hal yang sama dengannya, memijit pelipisnya.
"Pa, maafin Anggara."
"Tidak ada maaf bagimu, pergi sana!" Pak Anwar menunjuk arah pintu keluar.
Anggara tahu jika papanya sedang berada di puncak amarahnya. Pria itupun segera berlalu keluar menuju ruangannya.
"Jangan sampai menginjakkan kaki di perusahaanku lagi." Tegas pak Anwar sebelum Anggara menutup pintunya.
Suami dari Olive itu begitu terkejut dengan apa yang baru saja di dengarnya. Namun entah kenapa ia tidak berani mengelak. Ia turuti apa kata papanya.
"Baik, pa."
Setelah itu, ia berlalu pergi menuju ruangannya untuk mengambil beberapa barang-barangnya. Lalu melajukan mobilnya menuju kediaman istrinya.
"Lhoh, kok tumben. Jam segini kamu sudah pulang, mas?" Tanya Olive yang baru saja ingin merebahkan diri di atas tempat tidurnya.
Anggara meletakkan tas kerjanya, lalu merebahkan diri di samping istrinya.
"Papa mengusirku dari kantor."
__ADS_1
"Apa!" Kok bisa?" Pekik Olive, lalu menyerongkan badannya dan menatap wajah Anggara dengan seksama.
"Semua ini karena salahku. Aku jadi laki-laki yang terlalu memikirkan kecantikan fisik dari pada kecantikan hati."
"Maksudnya?" Olive mencecar suaminya lagi, karena belum paham dengan maksud perkataan suaminya.
"Kamu ingatkan, dulu aku pernah meninggalkan Tsamara tepat di hari pernikahan. Mungkin selama ini keluarganya memendam kebencian yang mendalam padaku, dan kini saatnya mereka membalas dendam itu. Mereka memutuskan hubungan kerja sama dengan perusahaan papaku. Bisa dibayangkan berapa besar kerugian yang di alami oleh papaku. Makanya aku sampai di usir oleh papa dari kantor. Olive, bolehkah aku bekerja di kantor papamu? Aku janji akan bekerja dengan sebaik-baiknya, dan berjanji akan menjadi suami yang baik untukmu. Aku sadar, semua ini mungkin karma yang harus aku dan keluargaku jalani." Anggara duduk dan memegang erat tangan istrinya. Keduanya saling beradu pandang cukup lama.
"A-aku alam mengusahakannya untukmu. Tinggallah di sini lebih lama, tidak perlu balik ke rumah orang tuamu, jika memang mereka mengusir mu. Aku juga akan berusaha menjadi istri yang baik untukmu. Tidak lagi melirik pria lain. Baik buruknya kamu, aku akan menerima. Karena kamu adalah ayah dari anak yang sedang aku kandung." Olive meraba perutnya.
"Aku juga berjanji, tidak akan lagi melirik wanita lain. Dan fokus membesarkan anak kita. Maaf, aku telah menodai mu dulu sebelum kita menikah."
Olive menganggukkan kepalanya sambil menitikkan air mata. Lalu Anggara pun memeluknya dan mengusap lembut punggungnya.
Bukan tanpa sebab keduanya bersikap seperti itu. Karena mereka terus mengingat ucapan ustadz yang berceramah kemarin saat pesta pernikahan di kediaman Thoriq.
Keduanya diam-diam menyadari kesalahan masing-masing, tapi enggan untuk meminta maaf duluan. Dan baru kali inilah keduanya meminta maaf secara tulus.
"Istirahat saja dulu, nanti malam aku akan mengatakan pada papa soal pekerjaan yang cocok untukmu. Semoga papa bisa membantumu."
"Terima kasih." Anggara kembali merebahkan diri dan menepuk tempat tidur di sampingnya.
Olive mengangguk menuruti permintaan suaminya. Keduanya berpelukan dengan mesra untuk yang pertama kalinya.
**
Waktu menjelang sore, Olive bangun dari tidurnya. Ia berjalan menuju ke dapur. Lalu memasak menu untuk makan malam.
Sebenarnya selama ini, ia tidak pernah melakukan hal itu. Tapi mulai detik ini, ia akan melakukannya demi menepati janji yang baru di buatnya tadi bersama sang suami.
Ia membuka kulkas dan memilih dan mengeluarkan sayur mayur yang ingin ia olah. Mama yang melihatnya mengernyitkan dahi.
"Olive, kamu cari apa?" Tanya mama yang sudah berdiri di samping putrinya.
"Mau memasak, ma. Ini baru pilih-pilih sayurannya."
"Kamu? Mau memasak?" Ulang mama sambil mengernyitkan dahi.
__ADS_1
"Iya, memang kenapa?"
"Kamu kelamaan tidur kali ya. Jadi otaknya rada geser." Gumam mamanya pelan.
"Mama, anak niat mau berubah, kenapa harus dijatuhkan mentalnya?" Sungut Olive kesal.
"Kamu mau berubah?" Mama kembali mengulang ucapan anaknya. Seakan tidak percaya dengan apa yang baru saja di ucapkan oleh putrinya dan tidak percaya dengan pendengarannya sendiri.
"Olive ingin menjadi istri yang baik, ma. Meskipun mama dan papa bakal tidak percaya atau bahkan tertawa, ya silahkan. Terkadang orang yang sering berbuat buruk, lalu tiba-tiba ingin berubah menjadi baik, itu banyak yang meragukannya. Olive terima itu."
Setelah berkata seperti itu, Olive membawa beberapa sayuran menuju meja dapur. Ia menyiapkan pisau dan papan, untuk memotong.
Mama masih tidak percaya jika Olive bisa berubah dalam waktu yang sesingkat itu. Ia pun mendekati putrinya yang tengah memotong sayuran.
"Apa yang kamu katakan itu serius, sayang? Kamu tidak sedang menghadapi masalah atau menginginkan sesuatu dari kami kan?"
Olive menghela nafas, dan menghentikan aktivitasnya, lalu menatap mamanya serius.
"Ada orang yang sadar dengan kesalahannya sendiri. Tapi terkadang ada pula orang yang baru menyadari kesalahannya, setelah ia tertimpa suatu musibah. Dan sebelum Olive tertimpa suatu musibah yang lebih besar lagi, Olive dan mas Anggara ingin berubah."
"Okay, mama ingin lihat seberapa jauh kamu bisa berubah. Dan pastinya mama akan mendukungmu." Mama menepuk pelan bahu Olive sambil menyunggingkan senyum tipis. Lalu keduanya sibuk memasak.
**
Pada malam harinya, semua menu masakan hasil tangan mama dan Olive telah terhidang di atas meja. Tak lama kemudian, pak Sanusi muncul di dapur. Sedangkan Olive memanggil suaminya yang sejak tadi siang mengurung diri di dalam kamar.
"Mas, ayo kita makan malam bersama. Sekalian kita bicara pada papa, aku akan membantumu."
Anggara menganggukkan kepalanya, lalu beranjak dari tempat tidurnya. Keduanya berjalan menuju ruang makan.
Sesampainya di ruang makan, mereka duduk dan menuang makanannya ke piring masing-masing.
"Pa, bolehkah Anggara bekerja di perusahaan papa?" Tanya Anggara, setelah mengumpulkan segenap keberaniannya. Pak Sanusi menoleh dan menatap ke arahnya sejenak.
"Bukankah kamu sudah membantu papamu mengurus perusahaannya? Kenapa masih ingin kerja di perusahaanku? Apa yang sedang kalian rencanakan?"
Anggara menghirup nafas dalam-dalam, sebelum menjawab.
__ADS_1
"Kami tidak merencanakan apapun, pa. Papa telah mengusirku dari perusahaannya."
"Apa! Kamu di usir? Kok bisa?" Papa dan mama berkata bersamaan, karena terkejut.