
Kini rombongan keluarga pak Abas sudah sampai di depan rumah kontrakan. Setelah mengucapkan terima kasih, mereka satu persatu turun dari mobil.
"Tsamara." Ucap Thoriq, yang membuat si pemilik nama menghentikan langkahnya.
"Iya, kak." Tsamara menoleh dan menatap calon suaminya.
"Sampai bertemu di hari pernikahan kita nanti."
Thoriq melempar senyum manisnya, yang membuat Tsamara tersipu malu. Untuk sesaat keduanya saling terdiam, menahan gejolak di dada. Hingga akhirnya, sebuah suara begitu mengejutkannya.
"Kakak, ayo masuk!" Seru Soffin, yang sudah berdiri di ambang pintu masuk rumahnya.
"Eh, iya. Tunggu sebentar." Balas Tsamara sambil berteriak pula.
"Kak, aku pamit masuk dulu ya."
"Apa kamu tidak ingin membalas ucapan ku tadi?"
"Ucapan yang mana?" Tsamara mengernyitkan dahi.
"Masa belum ada satu jam sudah lupa. Bagaimana kalau kita berhari-hari tidak bertemu? Apa kamu akan melupakan ku?" Thoriq pura-pura memasang wajah sedih.
"Jangan cemberut dong. Nanti gantengnya hilang." Dengan gemas Tsamara mencubit pipi Thoriq.
Pria itu memegang sebelah pipinya yang baru saja di cubit pelan Tsamara. Ia merasakan wajahnya menghangat.
"Kenapa? Sakit ya?"
"Tidak. Justru mau tambah lagi." Celetuk Thoriq, dengan masih tetap mempertahankan senyuman di wajahnya.
Tsamara tidak tahu harus berkata apa, selain hanya bisa tersenyum. Naif sekali jika saat itu hatinya tidak berbunga-bunga.
Rasanya kini ia benar-benar diperlakukan dengan begitu baik oleh seorang pria, yang dicintainya.
"Kak Thoriq bisa menggombal juga ya. Tsamara, kabur ah."
"Aku bisa menggombal juga karena kamu."
__ADS_1
"Sudah, ya. Tsamara pamit masuk dulu."
Thoriq mempersilahkannya dengan menganggukkan kepala dan tersenyum. Tsamara membalas dengan hal yang sama, kemudian berlalu pergi.
Pria itu memperhatikan bayangan Tsamara, hingga menghilang di balik pintu. Keduanya kembali melempar senyum terindah mereka.
**
Sementara itu di kediaman Anggara.
"Kalian cepat ganti baju, setelah itu kita buka amplop sama-sama." Titah mama pada Anggara dan Olive, yang baru melangkahkan kakinya di lantai rumah.
"Kami capek, ma." Ucap pasangan pengantin baru itu bersamaan.
"Mama dan papa juga sama capeknya. Tapi tetap bersemangat membuka amplop."
"Ya itu kan, karena mama tak sabar ingin mendapatkan uangnya." Cetus Olive.
"Olive." Mama melotot ke arah menantunya.
"Betul apa kata Olive, ma. Nanti kalau Olive sakit bagaimana? Anggara ngga bisa malam pertama dong."
"Mas!" Olive memelototi Anggara.
"Kalian kan sudah kredit duluan. Kenapa masih mikir malam pertama?"
"Ah, mama seperti tidak pernah muda saja. Ya sudah, kami masuk ke kamar dulu. Besok saja kita buka amplopnya. Ayo, Olive." Anggara melingkarkan tangannya di bahu istrinya, lalu keduanya berjalan bersama menaiki anak tangga.
"Hem. Dasar, anak-anak tidak tahu diri." Mama menggelengkan kepalanya.
**
"Olive, kamu mandi duluan gih." Titah Anggara, setelah keduanya masuk kamar.
"Okay." Balas Olive santai, tanpa rasa curiga. Ibu hamil itu segera mengambil handuk dari dalam almari.
"Hem, dia tahu apa yang akan aku lakukan padanya." Gumam Anggara sambil menaikkan sebelah sudut bibirnya, menatap kepergian Olive.
__ADS_1
Setelah tiga puluh menit berlalu, Olive sudah keluar dari kamar mandi. Ia sudah memakai piyama dan bersiap untuk tidur.
"Giliran kamu, mas." Ucap Olive, sambil memukul Anggara dengan guling.
Tidak banyak bicara, Anggara yang tiduran, segera bangkit dan berlalu ke kamar mandi.
Pria itu mempercepat mandinya, lalu keluar dari kamar mandi dengan hanya melilitkan handuk sebatas pinggang.
"Waduh. Dia tidur beneran atau tidur bohongan ya?" Gumam pria itu sambil mendekati Olive.
"Astaga. Sepertinya dia memang tidur beneran. Aku heran dengannya, kenapa cepat sekali dia tidur."
Setelah bermonolog seorang diri, Anggara merebahkan tubuhnya di samping Olive. Lalu melingkarkan tangannya di pinggang istrinya.
Tidak hanya berbuat itu saja, perlahan tangannya juga mulai membuka satu persatu kancing baju Olive, dan melakukan aksi dua satu plus.
"Mas!" Pekik Olive, sambil membuka matanya lebar-lebar.
"Apa yang kamu lakukan?"
"Apa yang aku lakukan? Tentu saja aku melakukan kewajiban ku memberi nafkah batin padamu."
"Sudah cukup, nafkah batinnya. Besok-besok lagi saja. Aku capek mau tidur."
"Besok-besok kapan? Keburu perutmu semakin besar tahu. Sekarang saja, mumpung perutmu masih kecil." Anggara langsung menelungkupkan wajahnya dan beraksi.
Awalnya Olive memang menolak, karena badannya memang terasa capek. Apalagi di tambah dengan kehamilannya, yang membuatnya sering berubah-ubah mood dan kondisinya. Namun, perlahan ia mulai menikmati serangan demi serangan dari Anggara.
"Nah, enakkan?" Ucap Anggara, dan Olive menganggukkan kepalanya.
"Makanya, kalau aku kasih tidak perlu menolak. Hanya aku satu-satunya pria yang mau memberi nafkah batin secara berlebih, pada wanita yang tidak cantik seperti kamu."
"Mas!" Seru Olive, lalu memukul Anggara dengan bantal.
"Bisa ngga sih, ngga ngatain aku seperti itu. Mau cantik atau tidak, rasanya sama saja kan?" Sungut Olive, lalu bergerak memunggungi suaminya.
Sedangkan Anggara tidak mempedulikan istrinya yang marah, dan memilih memejamkan matanya, setelah pertempuran yang cukup menyita waktu dan tenaga.
__ADS_1