
Sesampainya di dalam kamar penginapan, Tsamara langsung membuka jendela. Angin pantai semakin keras menerpa wajah cantiknya.
Entah kenapa, ia suka sekali melakukan hal itu. Beban dalam hidupnya, seakan sirna bersama hembusan angin pantai.
"Kalau sudah di dalam kamar seperti ini, kamu tidak malu lagi kan?" Thoriq tiba-tiba sudah berdiri di belakang Tsamara lagi, dan kembali melingkarkan tangannya di pinggang ramping istrinya.
"Kak, kamu selalu saja mengejutkan ku." Tsamara pura-pura memasang wajah cemberut.
"Tahu ngga? Kalau kamu cemberut, kakak semakin gemas denganmu lho." Thoriq menarik hidung mancung Tsamara.
"Arghhh... Sakit tahu." Tsamara kembali bersungut-sungut kesal.
"Mau yang tidak sakit?" Thoriq bertanya sambil mengerlingkan matanya nakal. Lalu perlahan ia mulai mendekatkan wajahnya ke wajah sang istri.
"Aku belum mandi. Malu dong, bau asem." Tsamara menahan wajah suaminya dengan kedua tangannya.
"Siapa bilang bau asem? Orang baunya wangi seperti ini." Thoriq kembali mendekatkan wajahnya ke wajah sang istri.
"Tapi aku mau mandi dulu kak, biar badan kembali segar."
"Okay, kalau begitu siapa duluan yang mandi?"
"Aku duluan dong." Tsamara berlari menuju kamar mandi.
Thoriq melihat kepergian istrinya sambil menggeleng-gelengkan kepalanya, lalu menghubungi pihak penginapan untuk memesan makanan.
**
Tiga puluh menit berlalu, makanan yang di pesan pun datang. Pelayan meletakkan makanan itu di atas meja dekat dengan bartander.
Tak lama kemudian, setelah Thoriq menutup pintu kamarnya, Tsamara keluar dari kamar mandi dengan hanya berbalut handuk putih. Lalu ia menuju koper yang masih berdiri di dekat rak baju.
"Apa yang kamu cari, sayang?"
Thoriq mendekati Tsamara dan ikut berjongkok ke arah koper.
"Aku cari t-shirt dan celana hotpants, kak. Memang tidak kamu masukkan ke dalam koper ya?"
__ADS_1
"Tidak. Aku hanya memasukkan lingerie dan dress panjang. Lingerie untuk di pakai di depanku. Sedangkan dress panjang, untuk kamu keluar dari penginapan, agar kamu tidak malu dan tidak menarik-narik ujung bajumu."
Tsamara menatap suaminya sejenak. Ia menyadari jika suaminya begitu perhatian padanya. Hingga hal sekecil apapun tak luput dari perhatiannya.
Perlahan ia sadar, jika suaminya itu ingin dirinya sedikit lebih menutup badannya. Tapi dirinya belum sepenuhnya bisa. Apalagi berpakaian seperti mama mertuanya. Yang mengenakan pakaian serba lebar.
Akhirnya, Tsamara mengambil dress buntung yang panjang bawahnya semata kaki berwarna putih dengan motif bunga kecil-kecil.
Sementara Tsamara berganti pakaian dan merias diri, Thoriq mandi. Setelah beberapa menit kemudian, barulah pria itu keluar dengan semerbak wangi yang memenuhi ruangan. Tak kalah wangi dengan Tsamara.
Keduanya kini menghadap meja makan, makanan khas kepulauan Maafushi, Maldives. Yakni Fihunu Mas, mas huni, jus buah naga dan air mineral.
Fihunu mas adalah Hidangan tradisional Maldives, yang hampir mirip dengan sajian ikan panggang. Namun, ada tambahan bumbu rempah-rempah yang sedikit berbeda dengan ikan panggang pada umumnya. Ikan di-fillet terlebih dahulu kemudian ditusuk layaknya sate, baru setelah itu dipanggang. Sedangkan Mas Huni adalah ikan asap suwir dengan parutan kelapa dan bawang bombay.
Karena daerah Maladewa hampir sembilan puluh sembilan persen wilayahnya terdiri dari laut, ikan (terutama tuna) adalah makanan pokok terpenting.
Masakan yang ditemukan di negara kepulauan ini merupakan campuran pengaruh Arab, India , Sri Lanka, dan Asia Timur.
Tetapi resor wisata yang tersebar di seluruh pulau menawarkan beragam menu internasional. Jadi sangat mungkin untuk menikmati makanan dari seluruh dunia di tempat itu.
Kelapa adalah bagian utama dari banyak hidangan di Maladewa dan dapat disajikan dalam bentuk parutan, seperti susu, atau minyak kelapa yang digunakan untuk menggoreng makanan.
"Kamu menyukainya?"
Tsamara menganggukkan kepalanya, membalas pertanyaan suaminya. Meskipun baru pertama kalinya keduanya mencoba masakan khas daerah itu, tapi mereka cukup menyukainya.
Setelah perut terisi, keduanya memakai topi pantai dan kaca mata hitam agar tidak silau. Lalu keduanya berjalan kaki di sekitar penginapan dan pantai.
Thoriq menggandeng tangan Tsamara. Ketika tatapan keduanya saling beradu pandang, mereka melempar senyum terbaiknya.
"Ayo sayang, kita foto bersama." Ajak Thoriq, sambil mengeluarkan handphonenya.
Pasangan suami-istri itu berfoto bersama dengan berbagai gaya. Mereka meluapkan kebahagiaannya sebagai pengantin baru.
Tanpa terasa hari sudah sore. Keduanya kembali ke penginapan.
**
__ADS_1
Malam pun tiba, Tsamara dan Thoriq keluar dari kamar, untuk menikmati makan malam di tepi pantai.
Lagi-lagi Thoriq memberikan kejutan untuk istri tercintanya. Sepanjang jalan menuju meja tempat keduanya akan makan, terdapat lilin dan kelopak bunga Mawar.
Tsamara dan Thoriq berjalan mengikuti cahaya lilin yang kabur-kabur tertiup angin. Wanita itu begitu speechless, hingga menutup mulutnya dengan kedua tangannya.
"Kak, kenapa kamu selalu memberiku kejutan?"
"Karena aku ingin selalu membahagiakanmu, istriku sayang."
Thoriq menarik sebuah kursi dan mempersilahkan Tsamara duduk.
Tak lama kemudian, pelayan datang membawakan menu makanan yang cukup banyak jumlahnya dan menghidangkan di meja keduanya. Sehingga membuat Tsamara mengernyitkan dahi.
"Kak, apa-apaan ini? Kenapa pesan makanan sebanyak ini?" Tsamara bertanya saat pelayan sudah tidak ada.
"Tidak apa-apa. Untuk tenaga main kuda-kudaan nanti malam."
Tsamara membulatkan bibirnya sambil menatap wajah suaminya.
"Jangan membuatku gemas, sayang. Ayo cepat habiskan makanannya." Thoriq mencubit pipi Tsamara dengan sangat gemas.
"Kak, jangan kdrt dong." Ucap Tsamara, sambil menjauhkan tangan dari wajahnya.
"Baiklah, aku tidak akan melakukan hal itu. Tapi sekarang kamu harus menghabiskan seluruh makanan ini."
"Apa! Menghabiskan makanan sebanyak ini? Tapi nanti kalau aku gendut gimana?"
"Bukankah suamimu ini jualan vitamin diet? Lalu, kenapa kamu harus takut gendut, sayang? Gendut itu tidak selamanya jelek kok. Bagiku, yang terpenting adalah kebaikan hatimu." Ucap Thoriq sambil menekan dadanya sendiri.
Karena sudah terlanjur di pesan, akhirnya mau tak mau keduanya menghabiskan makanan itu.
"Sayang, sudah terlalu lama kita berada di sini? Balik ke penginapan yuk?" Tawar Thoriq, dan Tsamara tak lama kemudian mengangguk-anggukkan kepalanya.
Mereka berdua kembali menyusuri bibir pantai, untuk menuju penginapannya sambil bergandengan tangan.
Setelah membersihkan diri dan berganti pakaian, Tsamara siap melakukan kewajibannya. Begitu pula dengan Thoriq.
__ADS_1
Malam itu menjadi malam pertama keduanya melakukan hubungan suami-istri di negeri yang jauh dari tempat tinggalnya. Dengan backsound suara deburan ombak, angin pantai dan tempat asri yang jauh berbeda dari tempat tinggalnya selama ini.
Keduanya berharap, dengan melakukannya penuh kebahagiaan, ketulusan serta keikhlasan, bisa cepat membuahkan hasil. Yakni Tsamara hamil.