
"Maaf, Tsa. Kakak mau tanya. Dimana kamu menyimpan perlengkapan untuk sembahyang?"
"Maaf, kak. Aku tidak pernah sembahyang." Lirih gadis itu, sambil menundukkan kepalanya.
Thoriq pun menghela nafas sambil menyunggingkan senyum tipis pula.
"Tidak apa-apa. Mulai sekarang, kita ibadah sama-sama yuk. Pakai barang seserahan dari aku." Ajak pria itu sambil menyunggingkan senyum. Tsamara pun menganggukkan kepalanya.
Thoriq berjalan menuju barang seserahan yang ada di sudut kamar. Lalu membuka satu parcel yang yang berisi alat sembahyang. Sedangkan Tsamara kembali ke kamar mandi untuk memakai baju.
Kini Thoriq sudah menggelar dua sajadah dan duduk di salah satunya. Sedangkan sajadah yang satunya di atasnya sudah ia siapkan mukena untuk istrinya.
Tak lama kemudian, Tsamara keluar dari kamar mandi. Ia memakai stelan one set berwarna mustard. Lalu mendekati suaminya yang sudah siap dan segera memakai mukenanya.
"Sudah siap?" Thoriq menoleh ke belakang melihat Tsamara yang menganggukkan kepalanya, lalu pria itu pun berdiri dan bersiap melaksanakan ibadah.
Tsamara hanyut dalam bacaan yang mengalun merdu dari bibir tipis suaminya. Hatinya begitu merasakan ketenangan dan kedamaian.
Setelah selesai, Tsamara kembali mencium punggung tangan suaminya dengan penuh takzim. Lalu berdo'a bersama.
Kemudian Tsamara menunggu suaminya yang masih berdiam diri. Tak lama kemudian Thoriq memutar badannya dan menatap ke arahnya.
"Tsamara kamu mau ngga, mulai detik ini kita akan beribadah bersama-sama?"
Sang pemilik nama itu menganggukkan kepalanya sambil tersenyum.
__ADS_1
"Tentu saja aku mau, kak. Aku sangat bahagia memiliki suami seperti kakak. Karena kakak banyak mengajariku banyak hal."
"Syukurlah. Awalnya aku takut jika kamu tidak suka."
"Tidak, Tsamara yakin jika kak Thoriq adalah pria idaman setiap wanita. Baik, Sholih, memiliki karir yang bagus, dan tampan. Tapi, Tsa awalnya tidak tahu jika kak Thoriq adalah seorang direktur utama sebuah perusahaan. Yang Tsa tahu, kakak hanyalah seorang anak yang membantu mamanya mengembangkan tempat les."
Thoriq tersenyum tipis mendengar pujian yang dilontarkan istrinya.
"Terima kasih. Tapi aku rasa pujian yang kamu lontarkan itu terlalu berlebihan. Aku masih jauh dari itu semua. Meskipun begitu, aku akan tetap berusaha untuk menjadi pria idaman seperti ucapan mu tadi. Agar kamu tidak menyesal, telah memujiku seperti itu. Kamu tahu, kenapa aku bisa jatuh cinta padamu?"
Tsamara mengernyitkan dahi sambil berpikir, lalu menggelengkan kepalanya.
"Apa karena aku cantik dan langsing?" Tebak gadis itu.
"Sebelum kamu langsing, aku sudah mulai menaruh rasa padamu. Karena kamu memiliki sifat keibuan. Sama adikmu saja sayang banget, apalagi sama anak kita nanti. Wanita yang mampu mengurus anak kecil, pasti juga akan mampu mengurus suaminya dengan baik. Ia tidak mempedulikan semuanya demi bisa membuat orang yang di sayanginya bahagia."
"Apa kamu lupa? Sewaktu pertama kali aku menyatakan cintaku padamu di restoran itu, kamu pernah menanyakan hal itu pada ku."
Tsamara memutar bola matanya, lalu menyunggingkan senyum tipis. Seketika ia teringat, jika memang pernah bertanya tentang hal itu.
Setelah itu, tak ada lagi percakapan di antara keduanya.
Hening, hanya sepasang sorot mata keduanya yang saling berbicara, dan menyiratkan kebahagiaan yang amat sangat.
Perlahan pria itu mendekat ke arah Tsamara, dan semakin mendekat lagi. Lalu mengecup kening istrinya sambil memejamkan mata penuh penghayatan.
__ADS_1
Tsamara pun ikut memejamkan matanya dan meresapi sentuhan dari suaminya. Cukup lama keduanya menikmati momen itu, hingga menimbulkan desir aneh di dada keduanya.
Wajah Thoriq bergerak sedikit ke bawah, ingin mencicipi bibir ranum Tsamara. Tapi suatu hal tak terduga merusak momen itu.
"Kak..." Seru Soffin, sambil berdiri di ambang pintu.
Ia membulatkan matanya dan mulutnya menganga, ketika melihat kakaknya tengah adu bibir.
Sedangkan Thoriq dan Tsamara yang terkejut dengan kedatangan Soffin yang tiba-tiba, segera menjauhkan bibir mereka. Wajah mereka sampai memerah karena menahan malu.
"Soffin, kenapa tidak ketuk pintu dulu?" Protes Tsamara, dengan suara yang sedikit tercekat. Karena belum sepenuhnya rasa nervous hilang dari dirinya.
"Apa yang kalian lakukan?" Bukannya menjawab, Soffin justru bertanya balik.
"Memang apa yang kamu lihat?" Tsamara bertanya balik.
"Sepertinya kakak sedang ciuman bibir." Soffin berkata dengan polosnya.
"Kamu salah. Tadi mata kakak sedikit sakit karena kelilipan, lalu kak Thoriq bantuin bersihin mata kakak. Makanya kalau lihat yang benar."
"Masa sih? Perasaan mata Soffin masih sehat kok."
"Masa? Nanti coba cek ke dokter mata. Sekarang Soffin ada perlu apa mencari kakak?"
"Di suruh makan malam sama papa."
__ADS_1
"Okay, kamu sekarang keluar dulu. Kakak mau membereskan perlengkapan ini." Tsamara menunjuk mukena yang ia pakai. Dengan patuh Soffin berlalu pergi, dan membiarkan pintu tetap terbuka.