
Seharian itu, pengantin baru benar-benar tidak keluar kamar. Sesuai dengan apa yang Thoriq katakan, ada saja yang keduanya lakukan di dalam kamar. Termasuk pada malam hari itu, keduanya kembali melanjutkan membuka kado.
Gadis itu tidak menyangka, jika dirinya akan mendapatkan banyak kado dan amplop sumbangan dari teman-teman sekolah dasar, sekolah menengah atas, dan ibu-ibu yang sering mengantar anaknya les.
Hingga larut malam, keduanya baru selesai membuka amplop dan kadonya. Mata keduanya pun juga sudah menyiratkan rasa lelah.
Thoriq segera mengajak istrinya meninggalkan kegiatannya. Keduanya silih berganti keluar masuk kamar mandi untuk membersihkan diri, lalu merebahkan diri di atas tempat tidur.
Malam itu Tsamara mengganti pakaiannya dengan lingerie. Meskipun ia sudah lelah, tapi ia melakukan hal itu untuk berjaga-jaga jika tiba-tiba suaminya menginginkannya.
Namun sepertinya tebakannya salah, suaminya tidak serakus pengantin baru lainnya. Ia masih bisa menahan hawa nafsunya.
Apalagi ketika melihat dirinya kelelahan. Thoriq hanya merebahkan diri di sampingnya, lalu melingkarkan tangannya di pinggang ramping Tsamara.
Wanita itu membuka matanya dan tersenyum ke arah suaminya.
"Tidurlah, aku tidak akan mengganggumu. Kakak tahu kamu sangat capek dan kelelahan. Apalagi besok kita masih mengikuti serangkaian acara di kediaman ku." Thoriq menyelipkan anak rambut di telinga Tsamara, sehingga membuat wanita itu menyunggingkan senyum tipis.
"Terima kasih, kak. Karena kamu begitu peduli denganku. Semoga selamanya hubungan kita seharmonis dan seromantis ini ya."
"Aku tidak bisa berjanji, tapi aku akan berusaha untuk memberikan segala yang terbaik untuk keutuhan rumah tangga kita.
Menikah bukanlah puncak kebahagiaan seseorang, melainkan sebagai batu loncatan bagi setiap insan untuk belajar memahami pasangannya masing-masing, hingga akhir hayatnya.
Karena biasanya setelah menikah, seseorang akan menunjukkan sikap aslinya. Baik dan buruknya.
Banyak terjadinya kasus perceraian, karena sebelum menikah mereka berbuat sesuatu secara berlebihan demi pasangannya, sedangkan setelah menikah mereka mulai bosan berkorban untuk pasangannya. Sehingga mereka yang tidak terima, meluapkan emosinya dengan sebuah kata cerai."
Tsamara seketika menelan saliva, ketika mendengar ucapan terakhir suaminya. Hatinya begitu tersayat jika sepenggal kata itu hadir dalam kehidupan rumah tangganya.
__ADS_1
"Aku harap, kamu tidak akan pernah mengatakan hal itu padaku, kak." Potong Tsamara dengan cepat.
"Kita akan berjuang sama-sama untuk menjauhi kata itu. Kita niatkan menikah dan menjalani kehidupan rumah tangga sebagai bentuk ibadah kita pada Tuhan. Agar segala sesuatunya mendapatkan pahala dari sisinya."
"Iya, kak. Terima kasih telah melakukan semuanya untukku."
Thoriq menganggukkan kepalanya sambil tersenyum, lalu mengecup kening istrinya cukup lama sambil memejamkan matanya, karena begitu meresapi kebahagiaan yang hadir di hadapannya. Hingga keduanya tidur dalam buaian kehangatan pasangan masing-masing.
**
Keesokan harinya, sinar matahari yang samar menerobos masuk melalui celah-celah tirai jendela membuat keduanya silau, hingga akhirnya keduanya tergeragap bangun. Untuk yang kedua kalinya, pasangan pengantin baru itu bangun kesiangan.
"Kak, kita bangun kesiangan." Pekik Tsamara, sambil menoleh menatap suaminya yang sedang membulatkan matanya.
"Iya, Tsa. Kalau begitu kita harus mandi sama-sama. Sebelum mendengar suara ketukan pintu."
"Tapi, kak..."
Thoriq segera bangkit dari tempat tidurnya, lalu berjalan dengan cepat menuju kamar mandi, dan segera di susul oleh istrinya.
Thoriq benar-benar menepati janjinya, meskipun melihat tubuh polos istrinya, ia tidak tergoda untuk menyentuhnya. Ia tetap fokus mandi.
Tak lama kemudian, keduanya sudah keluar dari kamar mandi. Setelah beribadah, keduanya membuka pintu, berniat untuk keluar.
Namun keduanya berjingkat kaget, karena melihat Farah sudah berdiri di sana dengan tangan yang sudah terangkat, hendak mengetuk pintu.
"Hem, baguslah kalian sudah bangun duluan. Jadi tanganku tak perlu kesakitan untuk mengetuk pintu." Setelah berkata seperti itu, Farah memutar badannya dan segera berlalu pergi.
"Kamu juga akan mengalami hal seperti ku nanti. Jadi tidak usah jengkel seperti itu." Cerocos Tsamara, yang mengetahui maksud ucapan adiknya.
__ADS_1
"Iya-iya, aku maklum kok. Kalian kan masih pengantin baru." Farah berkata sambil terkekeh, dan menutup mulutnya dengan sebelah tangannya.
Thoriq dan Tsamara bergerak menuju ruang rias. Sesampainya di sana, keduanya sudah di tunggu oleh MUA yang akan merubah penampilan keduanya lagi.
Saat rambut Tsamara akan di sanggul, ia mendadak meminta MUA itu untuk menutup kepalanya dengan hijab. Bukan tanpa sebab ia meminta hal itu, karena ia ingin menyembunyikan bekas biru keunguan di leher jenjangnya.
Akhirnya setelah beberapa menit berlalu, kedua mempelai itu sudah selesai di rias sedemikian rupa, hingga menjadi lebih cantik dan tampan. Keduanya tampak manglingi.
Karena semuanya sudah siap, rombongan pengantin itu berangkat bersama-sama menuju kediaman Thoriq.
Mobil pengantin yang di hias dengan bunga, melaju pertama meninggalkan pelataran rumah megah kediamannya. Lalu di belakangnya di ikuti oleh banyak mobil.
**
Sementara itu di kediaman Thoriq.
Tak beda jauh dengan kediaman Tsamara dulu, di kediaman suaminya juga di hias dengan tak kalah indah dan megahnya. Suara musik gamelan terdengar mengalun merdu.
Setiap sudut tempat acara yang bernuansa gold, tampak semakin indah dan segar di pandang. Satu persatu tamu undangan juga mulai terlihat berdatangan.
Bu Husna tersenyum dan menyapa dengan ramah setiap tamu undangan. Tanpa terasa, deretan kursi hampir terisi penuh oleh para tamu undangan.
Tak berapa lama kemudian, rombongan pengantin sudah datang. Kedua mempelai pengantin keluar dari mobil, di susul rombongan pengiringnya.
Mereka memasuki tempat acara dengan langkah anggunnya. Tampak semua pasang mata para hadirin memandang ke arah rombongan iring-iringan pengantin.
Tidak dapat di pungkiri, semua memuji kecantikan dan ketampanan pengantin baru itu. Apalagi kali ini Tsamara tampak jauh berbeda, semakin terlihat cantik dan anggun, dalam balutan gaun pengantin berwarna gold dan jilbab berwarna senada. Di kepalanya terdapat mahkota kecil, dan ronce bunga melati.
Sedangkan Thoriq memakai jas khusus untuk menikah yang berwarna sama dengan yang di pakai mempelai wanita. Di lehernya juga tersemat kalung ronce bunga melati.
__ADS_1
Pasangan itu bergandengan tangan sambil menyunggingkan senyum, saat memasuki tempat acara. Para tamu undangan yang menatap ke arah keduanya, mengatakan jika mereka sangat serasi, hingga membuat mereka iri.
Bu Husna, sang mertua juga tampak terkejut ketika melihat menantunya berpenampilan anggun dalam balutan gaun pengantin beserta hijabnya.