
Semua peserta rapat sudah berkumpul di ruang meeting. Tak berselang lama, Thoriq sang direktur utama di perusahaan Mahadewa company masuk ke ruang meeting.
Anggara tampak terkejut sekali dengan kedatangannya. Beberapa kali ia memang sempat bertemu dengan Thoriq. Pemuda itu terlihat biasa-biasa saja penampilannya.
Thoriq sering mengenakan celana chinos pendek yang dipadukan dengan t-shirt, sandal jepit, dan topi. Sedangkan sekarang, pemuda itu memakai stelan jas dan memakai sepatu pantofel yang mengkilap.
Bahkan bau wangi parfumnya menguar ke seluruh ruangan. Tapi baunya memang benar-benar enak, dan tidak memusingkan kepala.
Olive. Gadis itu selalu terpukau dengan penampilan Thoriq. Ia pun segera merapikan penampilannya. Ia berusaha merebut perhatian Thoriq. Walaupun besar kemungkinan, Thoriq tidak meliriknya.
Thoriq sendiri, ia sudah berada di ujung meja sambil mengurai senyuman pada seluruh peserta meeting. Lalu ia mempersilakan mereka duduk kembali.
Thoriq yang masih berdiri, memperkenalkan diri. Karena perusahaannya adalah perusahaan yang baru saja berdiri belum lama ini. Jadi, ia butuh membangun kerja sama dengan perusahaan lainnya.
Setelah Thoriq memperkenalkan diri, sekretarisnya memberikan brosur dan sample produk pada setiap peserta meeting. Mereka pun membaca brosur dan mengamati vitamin yang diberikan.
Anggara membulatkan matanya, melihat gambar siapa yang terpampang di brosur dan sample botol multigrain itu.
Thoriq mulai menjelaskan tentang produk andalannya. Yaitu vitamin pelangsing. Setelah menghidupkan lcd nya.
Gambar pertama menampilkan gambar Tsamara. Beserta dengan segala perubahannya yang sangat mencengangkan. Hingga membuat para peserta rapat geleng-geleng kepala. Termasuk Anggara dan Olive.
"Ts-Tsamara?" lirihnya.
__ADS_1
Otaknya secepat kilat bekerja, membayangkan bagaimana bentuk tubuh gadis itu. Semakin meliuk-liuk indah sekali.
Bahkan ia sampai mengira Olive yang duduk disampingnya adalah Tsamara. Sehingga sampai ia mengambil kehormatannya.
Setelah sejenak berpikir, Anggara mengambil suatu kesimpulan sendiri. Bahwa, Thoriq menjadikan Ts-Tsamara sebagai kelinci percobaan. Buktinya gadis yang dulu sangat gendut itu, kini berubah menjadi kurus.
Sedangkan Olive sendiri, ketika mengamati brosur itu, juga tampak kecewa. Kenapa sampai hati Thoriq menyuruh orang lain yang dijadikan brand ambassador nya.
Kenapa bukan Olive sendiri, yang notabenenya adalah teman satu kampusnya. Dan bahkan keduanya sering kali nongkrong dengan teman-teman mereka.
Para peserta rapat mulai berkasak kusuk membicarakan produk dari Thoriq, saat ia sudah menyelesaikan presentasi nya.
Salah seorang mengangkat tangannya, ingin menyampaikan pendapatnya. Thoriq pun mempersilahkan nya.
Bahkan peserta rapat itu juga menawarkan baju untuk digunakan saat pengambilan gambar. Karena bagaimana pun juga, pakaian yang pas dikenakan model, akan menjadi salah satu daya dukung dari produk tersebut.
Tidak hanya satu peserta saja yang menawarkan kerjasama, melainkan beberapa dari mereka juga melakukan hal yang sama.
Tentu saja, hal itu membangkitkan semangat dan rasa percaya diri Thoriq. Kini, tinggallah pak Anwar dan pak Sanusi yang belum mengajak Thoriq kerjasama.
Karena tidak mau tertinggal dengan yang lain, keduanya bersamaan mengajak bekerja sama. Lewat hubungan kerja sama, pak Sanusi berharap Thoriq bisa dekat dengan anaknya.
Sedangkan pak Anwar tentu ingin mendapatkan keuntungan yang banyak dari kerja sama itu. Karena produk yang booming, akan dicari oleh orang banyak. Baik dari dalam atau pun dari luar negeri.
__ADS_1
Setelah selesai rapat, Thoriq menjamu para peserta rapat dengan jamuan makan siang yang begitu lezat. Lagi-lagi para peserta rapat itu, memujinya. Termasuk pak Sanusi dan Olive.
Sedangkan Anggara, justru mencebikkan bibirnya. Ia pikir para peserta rapat itu terlalu berlebihan. Karena sering memuji Thoriq.
Ia juga tidak suka, melihat pak Sanusi dan Olive yang memuji pemuda di sampingnya itu. Ia pikir, dirinya juga bisa melakukan hal yang sama dengan Thoriq.
Setelah selesai jamuan makan siang, satu persatu peserta rapat, meninggalkan tempat acara. Pak Sanusi dan Olive, sengaja pulang terlambat. Keduanya ingin berbincang lebih banyak dengan Thoriq.
"Selamat Thoriq, kamu kian sukses saja. Om, tidak menyangka. Jika kamu bisa sampai di titik ini." ucap pak Sanusi sambil memukul pelan bahu Thoriq.
"Terima kasih, om. Ini semua mungkin juga berkat bantuan, om."
"Oh iya, kenapa modelnya kamu tidak memakai Olive saja. Dia juga cantik, dan badannya juga menarik."
"Olive memang cantik dan menarik, om. Tapi tidak sesuai dengan kriteria untuk vitamin diet ini. Karena postur tubuh Olive sudah langsing sejak dulu kala. Sedang Tsamara, dia sangat sesuai. Karena badannya dulu memang gendut. Dan sekarang berhasil kurus dan langsing."
"Jadi ini memang sungguhan ya, Riq. Bukan sejenis editan gitu lho."
"Bukan, om." Thoriq menggelengkan kepalanya sambil menyunggingkan senyum.
"Hem, cocok juga jadi istri idaman." gumam pak Sanusi.
"Papa!" seru Olive tak suka.
__ADS_1