
Sepanjang perjalanan menuju ke sekolah, Anggara terus mengajak Tsamara bercerita. Meskipun muak, gadis itu tetap menanggapinya dengan ramah. Sambil berpikir bagaimana cara membuat Anggara terjatuh dan tersiksa.
Akhirnya, mereka tiba di sekolah. Soffin segera turun dari mobil dan berpamitan pada Tsamara.
"Kak, Soffin masuk ke sekolah dulu ya." ucap Soffin sambil mengulurkan tangannya, hendak bersalaman dengan kakaknya.
"Iya, hati-hati ya. Konsentrasi belajarnya. Jangan ragu bertanya." balas Tsamara sambil mengacak rambut adiknya yang kriwil.
"Siap, kak." Soffin penuh semangat, sambil menempelkan ujung jarinya di pelipis.
Kakak beradik itu saling melambaikan tangannya, sebelum akhirnya Soffin berlari kecil masuk ke pelataran sekolah.
"Lhololoh, kok dia ngga salaman sama aku?" cicit Anggara, karena merasa tidak terima dengan perlakuan adik bungsunya Tsamara.
"Salah sendiri. Kenapa tadi nyuekin Soffin. Giliran di balas, situ yang protes." ucap Tsamara sambil menyunggingkan senyum di sudut bibirnya.
Anggara mendengus kesal, karena Tsamara lebih membela adiknya, yang tidak tahu sopan santun itu. Padahal, Soffin memiliki sopan santun yang baik. Hanya saja, sikap itu ditunjukkan pada orang-orang yang juga bersikap sopan santun pada dirinya.
Setelah mengantar Soffin sekolah, Anggara segera melajukan mobilnya, untuk mengantar Tsamara pulang.
Sebenarnya tadi, Tsamara menyuruh adiknya saja yang menumpang mobil Anggara. Sedangkan dirinya di rumah.
Tapi adiknya itu tidak mau jika harus berduaan dengan orang yang sudah menyakiti hati kakaknya. Begitu pula dengan Anggara. Ia juga tidak mau, dan terkesan memaksa Tsamara agar ikut mengantar adiknya.
Akhirnya, Tsamara pun mengalah. Ikut mengantar ke sekolah.
__ADS_1
Hampir separuh perjalanan mereka lewati dengan bercerita. Hingga timbul niat di hati Anggara untuk mengajak Tsamara menikmati waktu berdua dengan jalan-jalan santai.
"Tsa, kita jalan kemana gitu yuk?"
"Jalan? Jalan kemana?"
"Jalan-jalan ke hati ku." kekeh Anggara, sementara Tsamara hanya menarik sebelah sudut bibirnya.
'Ngga jelas banget deh. Norak.' batin Tsamara.
"Maaf, aku tidak bisa. Harus menyelesaikan pekerjaan rumah yang masih terbengkalai."
"Kan bisa dikerjakan nanti, kalau kita sudah pulang jalan-jalannya."
"Kalau habis jalan-jalan aku capek bagaimana? Siapa yang tanggung jawab mau mijitin aku?"
Anggara tersenyum sumringah, pandangan matanya tak lepas dari gundukan di dada Tsamara. Pikiran kotornya mulai berkelana.
'Dasar, laki-laki mata keranjang. Dulu melihat ku begitu ilfil, sampai pingsan. Kini, saat badanku mulai bagus, matanya jelalatan. Aku sumpahin deh, moga-moga dapat istri yang gendut dan jelek.' bisik Tsamara dalam hati, lalu terkekeh.
"Bagaimana, apa kamu mau menerima ajakan ku?" Anggara menaikturunkan alisnya.
"Sekali lagi, maaf. Aku tidak bisa. Kamu terlalu mendadak. Aku takut dimarahi papa ku, karena belum menyelesaikan pekerjaan rumah. Kecuali, kalau ada yang membantuku membersihkan rumah, sampai selesai. Barulah bisa aku pertimbangkan tawarannya."
sengaja Tsamara memancing Anggara. Apakah laki-laki itu rela melakukan apapun demi dirinya atau tidak.
__ADS_1
Sementara Anggara sendiri merasa tidak suka, jika harus mengerjakan pekerjaan rumah. Di rumahnya sendiri saja, ia tidak pernah menyentuh pekerjaan rumah tangga. Karena sudah ada yang mengerjakannya. Yakni asisten rumah tangganya.
Tapi, demi mendapat perhatian dari Tsamara, ia terpaksa berpikir dan menimbang-nimbang baik buruknya.
Jika di pikir-pikir, nanti Anggara dan Tsamara akan berduaan di dalam rumah. Ia justru bisa memanfaatkan kesempatan itu untuk melakukan apapun pada Tsamara. Termasuk, mencicipi madunya gadis itu.
Ia sangat yakin gadis itu akan mau menuruti permintaannya. Karena dari gestur tubuhnya, menyiratkan bahwa, Tsamara masih mencintainya.
Padahal Tsamara melakukan hal itu, semata-mata hanya untuk mempermainkan Anggara. Rasa sakit hati, harus di balas dengan hal yang sama. Agar impas.
"Okay lah. Aku setuju bantuin kamu membersihkan rumah." ucap Anggara akhirnya, yang membuat Tsamara menyunggingkan senyum manis. Tapi busuk di dalamnya. Karena gadis itu telah memiliki sebuah rencana untuk mempermainkan mantan calon suaminya itu.
Tak berselang lama, akhirnya mereka tiba di rumah kontrakan. Anggara membukakan pintu untuk Tsamara, di iringi senyum sumringah.
'Terlihat jelas perbedaannya. Dengan senang hati dan penuh semangat, dia membukakan aku pintu. Tadi, saat adikku keluar masuk mobil, boro-boro di bukain pintunya. Dasar, laki-laki ganjen.' batin Tsamara sebelum turun dari mobil, dan terpaksa mengulas senyum.
Anggara sengaja mengulurkan tangannya ke pinggang Tsamara. Gadis itu cukup terkejut ketika pria disampingnya berbuat seperti itu.
"Maaf, aku belum mandi. Nanti tanganmu gatal-gatal lho." ucap Tsamara sambil meringis, dan melepaskan tangan Anggara yang melingkar di pinggang rampingnya.
Tsamara membukakan pintu, dan mempersilahkan Anggara masuk.
"Bisa di mulai sekarang ya bersih-bersih rumahnya." ucap Tsamara.
"Apa! Aku tidak dipersilahkan duduk dulu?" tanya Anggara yang terlihat cukup syok.
__ADS_1
"Tidak perlu. Nanti pekerjaan nya tidak segera selesai dong." balas Tsamara dengan nada yang dibuat sehalus mungkin. Agar Anggara mau mengikuti perintahnya.