Gagal Menikah Gara-gara Gendut

Gagal Menikah Gara-gara Gendut
149. Menyadari kesalahan


__ADS_3

Bu Husna dan pak Abas begitu terkejut dengan kabar yang baru saja disampaikan oleh Thoriq.


Sebagai orang tua, keduanya begitu sedih dan panik, ketika mendengar kabar buruk yang menimpa Tsamara. Maka dari itu, setelah panggilan berakhir, mereka langsung menuju ke rumah sakit tempat Tsamara di rawat.


Sebenarnya Thoriq sudah meminta mamanya untuk menemani Soffin sampai selesai les, tapi naluri keibuannya tidak bisa di cegah. Akhirnya ia nekad berangkat ke rumah sakit.


Sementara itu, Farah yang baru saja selesai mengikuti mata kuliah, tak luput dari rasa terkejutnya. Ketika papa menghubunginya dan menyampaikan hal buruk itu.


Namun, ia tidak bisa langsung menemui kakaknya. Karena ia harus menjemput adiknya yang masih mengikuti les.


Farah melajukan mobilnya dengan perasaan tidak tenang. Sesampainya di tempat les, ia melihat Soffin sedang duduk sendirian di kursi taman, yang biasanya di pakai untuk duduk kakaknya.


"Sof."


Sang pemilik nama menoleh, ketika mendengar namanya di panggil. Terlihat Farah berjalan menghampirinya.


"Lhoh, kak Farah kenapa kesini?"


"Ya mau jemput kamu lah."


"Jemput aku? Memang kak Tsamara kemana?"


"Ayo, masuk mobil dulu. Nanti kakak ceritakan di dalam."


Walaupun agak jengkel sekaligus curiga, si kecil mengikuti kakaknya yang berjalan masuk mobil. Farah pun lalu melajukan mobilnya.


"Kak, katanya mau cerita?" Tagih Soffin, pada kakaknya.


Farah menoleh sejenak pada adiknya, lalu mulai menceritakan tentang keadaan kakak sulungnya.


Soffin tidak dapat membendung perasaan sedihnya, hingga ia menangis tersedu-sedu. Ia merasa semua yang menimpa kakaknya karena ulahnya.


Farah tak tega melihat adiknya menangis seperti itu. Gadis itu pun menepikan mobilnya.


"Soffin, kamu jangan menangis seperti itu. Nanti kak Farah juga ikutan bersedih. Kak Tsa yang ada di sana juga ikutan sedih." Farah mengusap pelan kepala adiknya, lalu memeluknya.


"Bagaimana Soffin tidak sedih, kak. Memikirkan kak Tsamara yang baru sakit. Ayo, kita segera ke rumah sakit. Soffin ingin mengetahui bagaimana kondisinya sekarang."


Di tengah rasa sedih yang di rasakan, ingin rasanya Farah terkekeh, karena mendengar ucapan adiknya yang terdengar seperti orang dewasa.

__ADS_1


"Tapi kata papa, kita di suruh untuk pulang ke rumah, Sof."


"Tidak mau. Pokoknya Soffin mau ke rumah sakit. Untuk melihat kondisi, kak Tsa."


Farah menghela nafas, mendengar keinginan adiknya yang tidak bisa di bantah.


"Okay, kita kesana. Tapi janji, setelah sampai di sana, kamu harus bisa menjaga sikap. Jangan nakal, jangan nangis. Pokoknya harus bisa membuat kak Tsamara tersenyum."


Farah menatap tajam adiknya, sebelum kembali melajukan mobilnya menuju rumah sakit.


"Beres, kak." Soffin pun mengangkat kedua ibu jarinya.


**


Sementara itu di rumah sakit.


Pak Abas dan Bu Husna tiba di tempat itu bersamaan. Setelah saling menyapa, keduanya berjalan beriringan menuju kamar perawatan Tsamara.


"Tsamara." Ucap pak Abas, ketika baru saja memasuki ruang perawatan putri sulungnya.


Pria itu berjalan dengan langkah lebar mendekat ke arah brankar tempat tidur anaknya, di ikuti Bu Husna.


Tsamara pun melakukan hal yang sama seperti apa yang dilakukan oleh suaminya. Bahkan ia juga tetap menyunggingkan senyum terbaiknya.


"Apa yang terjadi denganmu, sayang?" Tanya pak Abas, sambil membelai lembut wajah putrinya.


"Semua sudah ditangani oleh dokter, pa. Do'akan saja, semoga bayi yang aku kandung baik-baik saja."


"Tentu, tentu papa akan mendoakan semoga kamu dan bayimu selalu sehat dan lancar persalinannya nanti. Maafkan papa terlalu membebankan Soffin padamu. Hingga ia terlalu bergantung padamu. Mulai sekarang, papa akan menyuruh sopir untuk mengantar jemputnya." Pak Abas mulai terisak, menyadari kekhilafannya.


"Jangan seperti itu, pa. Nanti Tsa juga ikut sedih. Mungkin ini teguran dari Tuhan untukku juga, karena selama ini tidak menutup aurat. Makanya mereka menggoda Tsamara. Padahal tidak hanya sekali kak Thoriq menasehatiku, tapi akunya saja yang bebal. Kalau sudah pulang nanti, aku akan berusaha berpakaian lebih tertutup lagi."


"Papa akan mendukung apapun yang kamu lakukan, sayang. Karena kamu adalah putri terbaik papa." Pak Abas tak bisa lagi membendung air matanya. Lalu ia memeluk Tsamara sambil terisak.


Bu Husna dan Thoriq yang melihat hal itu merasa terharu, dan matanya juga tampak berkaca-kaca.


**


Setelah beberapa menit berlalu,, Farah dan Soffin tiba di rumah sakit. Keduanya berjalan beriringan menuju ruang perawatan kakak sulungnya.

__ADS_1


"Kak Tsa." Pekik Soffin, lalu berlari kecil menuju brankar tempat tidur kakaknya.


Farah yang berjalan mengekornya geleng-geleng kepala sambil menutup pintu ruang kamar.


"Maafin Soffin ya, kak. Karena gara-gara aku, kakak jadi seperti ini."


Tsamara menatap wajah adiknya lekat, sambil menyunggingkan senyum tipis. Lalu ia membelai pucuk kepalanya.


"Kenapa harus minta maaf? Soffin ngga salah kok."


"Ah, kakak sengaja membuat hati Soffin bahagia kan?"


"Beneran, Soffin ngga salah." Tsamara menggelengkan kepalanya.


Di tengah suasana yang mengharu biru itu, seorang dokter wanita datang untuk memeriksa keadaan Tsamara.


"Selamat sore." Sapanya ramah, sambil berjalan mendekat ke arah Tsamara, diikuti oleh seorang perawat perempuan.


"Selamat sore, dok."


"Maaf mengganggu waktunya. Ijin memeriksa kondisi pasien ya."


"Iya, dok. Silahkan." Serempak keluarga Tsamara mempersilahkan.


Mereka menatap ke arah dokter itu dan Tsamara silih berganti. Karena ingin mengetahui, perkembangan selanjutnya.


Sedangkan dokter itu mulai melakukan serangkaian pemeriksaan pada Tsamara.


"Keadaannya sudah mulai membaik. Meskipun bayinya cukup kuat, ingat selalu untuk lebih banyak istirahat. Apalagi ini adalah trisemester pertama. Jangan lupa juga untuk rutin mengkonsumsi vitamin, agar kandungannya lebih kuat." Pesan dokter.


"Baik, dok. Akan saya lakukan saran dari dokter." Balas Tsamara.


Perawat merapikan alat yang baru di pakai oleh dokter. Lalu kedua team medis itu ijin keluar ruangan.


"Cepat sembuh ya, dek. Maafkan kakak yang sudah membuatmu sakit." Soffin mengusap pelan perut Tsamara. Dan doa tulus dari bibirnya, justru membuat keluarganya terkekeh geli.


Cukup lama keluarga Tsamara berada di rumah sakit untuk menemaninya. Namun karena waktu sudah hampir petang, Farah mengajak Soffin pulang.


Tentu saja hal itu tidak mudah, karena bocah kecil itu kukuh ingin ikut menemani kakaknya yang sakit. Setelah dibujuk Tsamara, akhirnya Soffin mau pulang bersama dengan Farah. Sedangkan pak Abas, Bu Husna dan Thoriq, bermalam di situ.

__ADS_1


__ADS_2