Gagal Menikah Gara-gara Gendut

Gagal Menikah Gara-gara Gendut
82. Menyatakan perasaan


__ADS_3

Thoriq dan Tsamara berjalan beriringan dengan perasaan yang tak menentu. Tapi sebisa mungkin gadis cantik berbadan langsing itu, menekan perasaannya. Belum tentu Thoriq mengajaknya makan malam karena ia menyukainya. Bisa jadi ia hanya ingin menikmati makan malam dengan cara yang berbeda.


"Silahkan, masuk." Ucap Thoriq, sambil membukakan pintu mobilnya. Tsamara memandang pemuda itu sejenak, lalu mengulas senyum.


"Terima kasih." Balasnya kemudian.


"Kamu mau makan malam dimana?" Tanya Thoriq setelah ia masuk mobil.


"Hem, yang mengajak keluar kan kamu. Jadi aku ikut sama kamu saja, alias manut." Ucap Tsamara.


"Okay. Kita jalan dulu ya." Tsamara mengangguk, lalu Thoriq memutar kemudinya.


Tak banyak percakapan pada malam hari itu. Tapi hati masing-masing yang saling bercakap-cakap, terus saja memuji kelebihan masing-masing.


Hingga akhirnya mobil berhenti di sebuah restoran western food. Thoriq keluar terlebih dahulu, dan membukakan pintu untuk Tsamara.


Beberapa pasang mata yang kebetulan melintas di dekat mereka, melihatnya dengan tatapan yang mendamba. Karena keduanya terlihat seperti pasangan muda-mudi yang sangat serasi.


Mereka berjalan memasuki restoran tanpa bergandengan tangan. Lalu berhenti sejenak sambil mengedarkan pandangannya, mencari tempat yang nyaman untuk keduanya menikmati makanan dan quality time.


"Kamu mau kita duduk di tengah?"


"Aku tidak percaya diri duduk di tengah." Bisik Tsamara, yang membuat Thoriq terkekeh.


"Apa yang membuat mu tidak nyaman duduk di tengah? Kamu begitu sempurna. Setiap orang yang melihat mu begitu mendamba. Kamu seorang publik figur, jadi harus percaya diri."


Wajah Tsamara menghangat ketika Thoriq memujinya seperti itu. Pemuda itu mengedipkan sebelah matanya, untuk memberi instruksi, mengajak Tsamara jalan.

__ADS_1


Tak lupa Thoriq menarik sebuah kursi, lalu mempersilahkan Tsamara duduk di atasnya. Kini keduanya duduk saling berhadapan di bangku tengah-tengah.


Setelah keduanya duduk, seorang pelayan menghampirinya sambil membawa buku menu. Keduanya pun melihat menu makanan yang tersedia di restoran itu.


"Apa kamu mau mencoba beef Wellington? Makanan itu menjadi best seller nya restoran ini." Tanya Thoriq ketika membuka buku menu.


Tsamara berpikir sejenak, untuk mengkonsumsi makanan itu. Karena ia sangat berhati-hati memilih makanan, agar badannya tidak melar lagi.


"Kalau kamu tidak mau, kamu bisa pilih makanan yang lainnya." Ucap Thoriq lagi, karena Tsamara belum memberi jawabannya.


"Tidak usah, aku sama seperti kamu saja. Beef Wellington." Balas Tsamara kemudian.


"Okay, lalu kamu minumannya mau apa?" Tanya Thoriq lagi.


"Mint tea."


"Mbak, beef Wellington dua dan mint tea nya juga dua ya." Ucap Thoriq pada waiters.


Thoriq dan Tsamara saling berhadapan, dan belum buka suara. Tak dipungkiri, Thoriq memang mulai nervous. Padahal biasanya jika keduanya bertemu tidak seperti itu. Tsamara yang merasa ditatap menundukkan kepalanya.


"Tsamara." Akhirnya, setelah sekian menit terdiam, Thoriq mulai buka suara. Perlahan gadis dihadapannya, mengangkat dagunya.


"Iya."


"Malam ini kamu benar-benar cantik. Tapi kurasa, hatimu jauh lebih cantik."


"Sudah berapa kali kamu memujiku seperti itu?" Tsamara kembali menghangat pipinya, sehingga rona wajahnya semakin kemerahan.

__ADS_1


"Entahlah, aku tidak ingat. Bertemu dan menghabiskan waktu bersama mu, membuatku lupa waktu."


"Tsamara. Apa aku boleh bicara jujur denganmu?"


"Apakah kamu selama ini membohongiku?" Balas Tsamara sambil terkikik pelan, untuk menutupi rasa nervous nya.


"Selama ini aku selalu jujur padamu. Tapi sekarang aku ingin mengatakan sesuatu yang cukup lama ku pendam. Sehingga membuat dadaku semakin sesak."


"Aku ingin menikah denganmu."


Jantung Tsamara bagai ingin lompat dari tempatnya, ketika Thoriq mengatakan hal itu padanya. Wajahnya pun juga bersemu semakin merah.


"A-apa itu tidak terlalu cepat?" Balas Tsamara gagap.


"Jika sudah merasa memenuhi syarat menikah, kenapa harus ditunda? Daripada berpacaran, yang akan membuat kita semakin memupuk dosa.


Aku mencintaimu bukan karena melihat badanmu yang langsing seperti sekarang, tapi sudah sejak dulu. Saat kamu masih berbadan gendut.


Kamu begitu berbeda dengan gadis lainnya. Mau berperan seperti ibu untuk adikmu. Mau berusaha tanpa mengenal rasa malu, demi mewujudkan cita-cita mu. Dan ketika kamu mulai dikenal banyak orang, kamu tetap rendah hati serta tidak sombong.


Jadi, apakah kamu mau menikah denganku?"


Tsamara merasa itu seperti sebuah mimpi baginya. Padahal rasanya baru kemarin ia gagal menikah karena diputuskan sepihak oleh Anggara.


Tapi, kini ia sudah dilamar lagi oleh pemuda yang segalanya lebih dari Anggara. Ya, Thoriq memang lebih tampan, berwibawa, cerdas, dan kaya.


Dan itu semakin membuat Tsamara tidak percaya diri. Takut jika Thoriq bisa berperilaku lebih buruk daripada Anggara.

__ADS_1


Tapi rasanya itu tidak mungkin. Mengingat ucapannya tadi yang sangat mengena hatinya.


"Jadi bagaimana, apa kamu mau menerima ku? Atau justru menolak ku?"


__ADS_2