
Di hari berikutnya, pasangan pengantin baru itu masih pulas dalam balutan selimut.
Kicauan burung pagi, sinar mentari yang masuk melalui celah-celah tirai jendela, tidak mengurangi kenyamanan keduanya tidur. Padahal saat itu, jarum jam telah menunjukkan pukul sebelas siang.
Di lantai bawah, kedua orang tua Anggara sudah menggerutu sejak tadi. Pasalnya anak dan menantunya sama saja. Hari sudah hampir siang, tapi belum juga bangun.
Ia sudah berulang kali mengetuk pintunya, tapi hasilnya nihil. Tidak ada satu orang pun dari mereka yang bangun.
"Apakah mereka belum selesai juga, yang melakukan malam pertama?" Gumam mama, sambil berjalan mondar-mandir di dekat sofa ruang keluarga.
"Padahal sudah mau punya anak, tapi masih saja tidak berubah kelakuannya." Gerutu mama lagi.
"Ma, mereka belum bangun juga?" Ucap pak Anwar, sambil menghampiri istrinya.
"Papa bisa lihat sendiri kan? Mereka tidak ada disini."
"Ma, sebaiknya kita tidak usah menunggu mereka. Kita buka sendiri saja amplopnya. Biar mereka tidak mengetahui berapa total sumbangan yang kita dapat. Lumayan kan uang sebanyak itu, di pakai untuk kita berdua."
"Betul juga apa kata, papa. Oh iya, uang yang dari Abas kemarin masih sama papa lho. Ingat, ada bagian untuk mama."
"Beres." Pak Anwar memperlihatkan kedua ibu jarinya pada istrinya.
"Tapi, pa. Dari mana dia bisa dapat uang sebanyak itu ya?"
Pak Anwar mengedikkan kedua bahunya.
"Anaknya jadi tambah cantik dan seksi ya." Ucap pria itu, yang membuat wajah istrinya berubah tidak suka.
"Anak kita tidak jadi menikah dengannya. Tapi tidak lantas, papa boleh mendekati Tsamara lho. Awas ya, kalau sampai berani berbuat seperti itu. Bisa-bisa mama akan sunat aset berharga milik papa, sampai ke pangkalnya."
__ADS_1
"Mama." Pekik pak Anwar, dan badannya bergidik ngilu.
"Ayo, kita buka amplop." Ajak mama, sambil berjalan menuju kotak sumbangan, yang ada di samping sofa.
Wanita itu membuka kuncinya, lalu mengeluarkan beberapa amplop dari dalamnya.
"Lima puluh ribu?" Gumam mama sambil memperlihatkan selembar uang berwarna biru, pada papa.
"Lihat nih, punya papa." Pak Anwar mengeluarkan selembar uang merah dari amplop yang ia pegang.
Tak mau kalah dengan suaminya, Bu Ani meraih satu amplop dan membukanya. Lagi-lagi ia mendapatkan selembar biru. Ia kembali mendengus kesal.
Sudah hampir separuh isi kotak sumbangan itu mereka buka, dan rata-rata isinya selembar biru atau selembar merah. Tidak ada yang isinya lebih dari itu.
Padahal keduanya jika menyumbang selalu di atas seratus ribu. Berharap ketika menggelar hajat, mereka bisa mendapatkan uang sumbangan yang sama atau justru lebih dari itu.
"Ya mana papa tahu. Orang mereka juga kelihatan orang-orang kaya semua. Apalagi mama tahu kan, mereka mengendarai mobil mewah, bajunya juga branded dan ada yang mengenakan dari perancang terkenal. Jadi papa pikir mereka akan memberikan yang lebih banyak dari semua itu."
"Jangan-jangan mereka itu cuma modal tampang saja, pa. Sebenarnya tidak begitu kaya-kaya amat."
"Nah, bisa jadi itu." Pak Anwar setuju dengan pendapat istrinya.
"Pa, amplop dari Abas bawa kesini."
"Apa?"
"Apa papa tuli? Amplop dari Abas bawa kesini sekarang." Ulang mama sambil tangannya terulur ke arah suaminya.
"Iya-iya." Dengan bersungut-sungut kesal, pak Anwar bangkit berdiri dan berjalan menuju kamarnya.
__ADS_1
Sesampainya di kamar, pria itu membuka almari, lalu mengambil amplop coklat tebal.
Saat sudah berjalan sampai di dekat pintu, ia berhenti. Lalu sejenak membuka kembali isi amplop itu dan menghitung lembaran uang merah yang ada di dalamnya.
"Sepuluh juta." Ucap pak Anwar sambil membulatkan matanya dan mulutnya menganga.
"Banyak sekali." Gumamnya lagi dengan binar bahagia.
"Terlalu sayang, kalau di serahkan pada mama semua." Pria itu kembali membuka almari pakaiannya, lalu menyembunyikan beberapa bandel uang di bawah baju.
"Beres." Pak Anwar menyunggingkan senyum licik, dan segera berlalu keluar kamar.
**
"Papa, kenapa lama sekali sih?" Semprot mama, saat pak Anwar berjalan mendekatinya.
"Sabar dong, ma. Papa kan agak lupa menaruh uangnya di mana."
Pak Anwar menyerahkan amplop coklat itu pada istrinya. Mama pun segera membuka dan mengamati sejenak isinya.
"Pa, perasaan kemarin tebal. Sewaktu papa menghitungnya juga keliatan banyak. Kenapa ini keliatan sedikit."
"Perasaan mama saja kali. Coba hitung dulu."
Mama pun menghirup sejenak aroma uang yang khas, karena baru saja di ambil dari bank dan segera menghitungnya.
"Wow. Dapat berapa juta, ma?" Tanya Anggara dengan suara yang cukup keras. Yang membuat kedua orang tuanya terkejut, karena kehadirannya. Sehingga uang yang baru saja di hitung mama jatuh dan berhamburan di lantai.
"Anggara!" Pekik mama.
__ADS_1